Pantai Pandawa di Desa Kutuh. Foto: Medcom.id/Nur Azizah.
Pantai Pandawa di Desa Kutuh. Foto: Medcom.id/Nur Azizah.

Berdaya Lewat Pantai Pandawa

Nasional dana desa
Nur Azizah • 15 September 2019 14:16
Bali: Miskin dan tak diperhatikan menjadi alasan Desa Kutuh ingin melepas diri dari Desa Ungasan, Badung, Bali. Rupanya, keluar dari lingkaran Desa Ungasan pada 2002 tak membuat Desa Kutuh mendadak kaya.
 
Masyarakat Desa Kutuh terseok-seok bertahan hidup. Mereka mengandalkan rumput laut mengumpulkan pundi-pundi rupiah. Kualitas rumput laut di desa ini memang nomor wahid.
 
Rumput laut Desa Kutuh diganjar juara 1 tingkat nasional pada 2005. Sayang, kejayaan ini bertahan sebentar.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Hama tiba-tiba menyerang. Petani Desa Kutuh gagal panen. Kejadian ini tak sekali dua kali.
 
"Tidak ingin kami terpuruk lagi, Kementerian Kelautan sampai sering datang untuk memotivasi. Segala bantuan diberikan. Tapi rumput laut tak bisa tumbuh (bagus) lagi," cerita Kepala Desa Kutuh I Wayan Purba di Kutuh, Bali, Kamis, 12 September 2019
 
Warga pindah haluan menjadi petani di tanah gersang. Mereka mencoba peruntungan menanam jagung dan kacang. Setiap panen, warga berusaha menyisihkan uang ke Keuangan Desa.
 
Bertahun-tahun dilakukan akhirnya terkumpul Rp13 juta. Warga lalu membentuk Lembaga Pengkreditan Desa (LPD). Modal pas-pasan itu untuk membuka sektor riil di bidang Pariwisata.
 
Desa Kutuh membuka pantai bernama Pandawa melalui Pandawa beach festival pada Desember 2012. Pantai dibuka setelah warga desa ramai-ramai memotong bukit kapur yang menghalangi akses menuju pantai.
 
Bak sihir, kehidupan warga Kutuh berubah. Kutuh kebanjiran turis. Usaha penginapan dan tempat makan menjamur.
 
"200 warga punya usaha sendiri. Ibu-ibu buka spa, bapak-bapak menyewakan kano," beber Wayan.
 
Tiga tahun setelah berhasil membuka pantai Pandawa, Desa Kutuh mendapat dana desa dari Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi untuk pertama kalinya. Kucuran dana desa Rp290,936 juta pada 2015.
 
Kelihaian melihat pasar digunakan untuk membangun sektor wisata lainnya. Tahun-tahun setelahnya Desa Kutuh mendapat dana desa,pada 2016 mendapat Rp639,892 juta, 2017 mendapat Rp848,328 juta, 2018 mendapat Rp784,463 juta, dan Rp25,55 juta serta pada 2019 mendapat Rp966,436 juta. Dana tersebut untuk menambah biaya pengembangan kawasan sport tourism Krida Mandala I Ketut Lotri.
 

Berdaya Lewat Pantai Pandawa
Lapangan Sepak Bola di Desa Kutuh. Foto: Medcom.id/Nur Azizah.
 

Penghasilan Rp126 Miliar
 
Uang dari Pantai Pandawa terus diputar. Desa Kutuh tak langsung puas diri dan membuka Gunung Payang Cultural Park.
 
Warga membuat atraksi seni dan budaya serta wisata paragliding. Fulus demi fulus meningkat.
 
"Untuk paragliding kita memanfaatkan warga. Kebetulan mereka punya skill dan parasutnya," kata Ketua Adat Desa Kutuh I Made Wena.
 
Desa Kutuh memiliki delapan unit usaha dan dua unit layanan. Seakan memiliki kekuatan super, Desa Kutuh menyulap lahan mati menjadi kawasan sport tourism bernama Krida Mandala I Ketut Lotri.
 
Lapangan sepak bola bertaraf internasional tercipta di sana. Kawasan itu juga dilengkapi tempat berlatih paragliding.
 
Walau belum rampung, lapangan itu sudah dijadikan tempat latihan empat tim sepak bola asing yang ikut dalam kejuaraan internasional di Bali. Tempat ini juga sudah dipesan untuk pertandingan International Football Championship.
 
Desa Kutuh bisa melipatgandakan uang dari Rp13 juta menjadi Rp126 miliar pertahun dari usaha-usaha itu. Tak heran Desa Kutuh diganjar sebagai desa terbaik se-Tanah Air.
 
Kutuh juga mendapat penghargaan Sustainable Ecosystem Award dari Kementerian Pariwisata. Presiden Joko Widodo sempat mengelu-elukan desa itu dan meminta desa lainnya mengikuti jejak Desa Kutuh.
 
"Ini sebetulnya bisa di-copy di tempat-tempat lain yang memiliki kemiripan, entah di Sumatra, Jawa, atau Kalimantan. Bisa menjadi sebuah model keberhasilan manajemen pengelolaan dana desa untuk kemanfaatan masyarakat,” kata Presiden Jokowi dalam kunjungan beberapa waktu lalu.
 
Eksotisme Pantai Pandawa
 
Keindahan alam Kutuh semakin tersohor seiring berkembangnya media sosial. Ada 293 ribu warga net mengunggah foto-foto Pantai Pandawa dengan hastag #pandawabeach di Instagram.
 
Ini menandakan keindahan alam di Desa Kutuh tak main-main. Rasa penasaran membawa saya menuju Pantai Pandawa.
 
Jalan menuju pantai tak terlalu lebar, namun cukup untuk dua bus jalan berjajar. Di kanan kiri, homestay dengan beragam gaya dan nama berdiri pararel.
 
Kafe-kafe tak mau kalah. Mumpung Pandawa jadi primadona, semua bersolek demi dilirik wisatawan. Mendekati pintu masuk, laut biru lazuardi dan hijau toska mengintip dari kejauhan.
 
Semakin dekat, pasir putih nan lembut siap menyapa. Pengunjung tak hanya berenang tapi juga bisa mencoba olahraga kano hingga yang paling menantang, paragliding.
 
Bagi wisatawan, Pandawa adalah primadona. Tapi bagi warga Kutuh, Pandawa adalah pembawa berkah. Mengubah kehidupan desa miskin menjadi desa paling berdaya.
 

(REN)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif