Ilustrasi. MI/Duta
Ilustrasi. MI/Duta

Butuh Propaganda Terukur Tuntaskan Kasus Pembunuhan di Papua

Wandi Yusuf • 18 Juli 2022 18:04
Jakarta: Butuh propaganda dan kontrapropaganda terukur, efektif, efisien, dan tepat sasaran untuk menuntaskan kasus pembunuhan di Papua. Dengan cara itu, konstruksi sosial-politik yang membentuk opini publik diyakini dapat mengurangi dukungan terhadap kelompok insurgensi seperti kelompok kriminal bersenjata (KKB).

Demikian dikatakan pengamat intelijen Susaningtyas Kertopati melalui keterangan tertulisnya, Senin, 8 Juli 2022. Menurutnya, propaganda dari pemerintah ini sebagai upaya melawan propaganda yang dilakukan KKB.

Menurutnya, KKB kerap melakukan propaganda dengan memanfaatkan media lokal maupun internasional. "Mereka juga melakukan mobilisasi massa dan demonstrasi dengan mengeksploitasi isu ketimpangan pembangunan, referendum, hingga pelanggaran hak asasi manusia," kata dia.

Ke depan, lanjut Susaningtyas, pemerintah perlu mengimbangi propaganda KKB itu dengan komunikasi yang intens. Baik itu dengan pemerintah daerah, legislatif daerah, termasuk masyarakat atau tokoh agama setempat.

"Tentu mereka dicekam ketakutan juga, tapi hal ini harus ditanggulangi. Penyelesaian masalah Papua seyogianya tidak dikelola berdasarkan dendam satu ke dendam yang lain," ujar dia. 

Apalagi, gerakan separatisme di Papua memiliki jaringan yang sangat terfragmentasi. Artinya, tidak terdapat satu komando yang terstruktur dan setiap kelompok memiliki pimpinan sendiri.

"Organisasi yang structureless ini disebabkan faktor sosial budaya masyarakat Papua yang masih kental dengan semangat primordial. Lembaga adat sangat berperan di Papua," kata dia.

Lebih lanjut, ia menyatakan harus ada penanganan intens untuk para pihak yang mendukung otonomi khusus maupun yang menentangnya. Apalagi eskalasinya diperkirakan akan semakin naik seiring pemekaran tiga daerah otonomi baru di Papua.

Baca: Polri Terjunkan Tim Kejar Pelaku Penembakan di Nduga

KKB kembali berulah di Papua. Kali ini, kelompok teroris itu menyerang 12 warga sipil.
 
Kepala Bidang Humas Polda Papua, Kombes Ahmad Musthofa Kamal, mengatakan 10 orang meninggal dunia dari penyerangan itu. Seorang korban meninggal, yakni Pendeta Eliaser Baye.
 
"Kejadian penyerangan terjadi pada Sabtu, 16 Juli sekitar pukul 09.15 WIT di Kampung Nogolait Kabupaten Nduga," kata Kamal melalui keterangan tertulis, Minggu, 17 Juli 2022.

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(UWA)


TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

>