Aceh: Pembangunan 110 hunian tetap komunal di Desa Pohroh, Kecamatan Meureudu, Kabupaten Pidie Jaya, terus dipercepat agar dapat dihuni masyarakat terdampak bencana pada Desember 2026. Pekerjaan kini memasuki pemasangan komponen Rumah Instan Sederhana Sehat (RISHA) yang dirancang dengan konstruksi tahan gempa.
Untuk memangkas waktu pengerjaan, komponen RISHA diproduksi langsung di kawasan pembangunan. Strategi tersebut mengurangi waktu pengiriman material sekaligus memungkinkan proses pembesian, pengecoran, dan pemasangan berjalan secara paralel.
Project Manager Huntap Desa Pohroh PT Polada Mutiara Aceh, Muhammad Nurhadi, mengatakan tenaga kerja dibagi menjadi tiga tim dengan tugas berbeda. Pembagian tersebut membuat setiap tahapan dapat dikerjakan secara bersamaan tanpa menunggu pekerjaan sebelumnya selesai seluruhnya.
“Ibaratnya ada tiga tim. Tim pembesian, pengecoran, dan instalasi. Tim sudah ada tiga bekerja di sini,” kata Nurhadi saat peninjauan pembangunan huntap di Meureudu, Pidie Jaya, Rabu (21/10/2026).
Pembangunan 110 unit tersebut menggunakan anggaran Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman sebesar Rp25,6 miliar. Pelaksana juga menerapkan tiga giliran kerja untuk mengejar penyelesaian pada akhir Desember 2026 dengan tetap menyesuaikan pekerjaan terhadap kondisi cuaca.
Selain mempercepat konstruksi, pemerintah memastikan lokasi pembangunan memenuhi aspek keselamatan. Kepala Bidang Cipta Karya Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Pidie Jaya, Mahyaruddin, mengatakan Desa Pohroh dipilih setelah melalui kajian Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral.
“Rekomendasi dari Badan Geologi menyatakan bahwa lokasi ini aman dari bencana dan tidak ada patahan gempa,” kata Mahyaruddin.
Huntap dibangun di atas lahan milik Pemerintah Kabupaten Pidie Jaya seluas tiga hektare. Hunian tersebut diperuntukkan bagi masyarakat yang rumahnya mengalami kerusakan berat atau hancur akibat bencana di Kecamatan Meureudu dan Meurah Dua.
Secara keseluruhan, kebutuhan huntap komunal di Pidie Jaya tercatat sebanyak 739 unit. Pemerintah daerah juga mendata kebutuhan sekitar 2.000 huntap mandiri yang pembangunannya memerlukan koordinasi lanjutan dengan pemerintah pusat dan pihak terkait.
Wakil Kepala Perencanaan, Pengendalian, Analisis, dan Evaluasi Satgas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana Sumatera, Imran, mengatakan produksi komponen di lokasi memberikan peluang besar bagi pelaksana untuk memenuhi target penyelesaian tahun ini.
“Tadi kita sudah koordinasi dengan pelaksana bahwa 110 unit rumah yang ditargetkan di sini bisa selesai tahun 2026. Ini memungkinkan karena di sini juga ada tempat pencetakan instalasinya,” ujar Imran.
FOLLOW US
Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan