Tim lapangan. (Foto: Ist)
Tim lapangan. (Foto: Ist)

Kesiapsiagaan Berbasis Sains, Tim Lapangan dan Pengelolaan Hidrologi Gambut Diperkuat

Medcom • 25 Agustus 2026 19:25
Ringkasnya gini..
  • Upaya menjaga kelestarian hutan dan ekosistem gambut di Kalimantan Barat terus diperkuat melalui peningkatan kesiapsiagaan tim lapangan, pengelolaan hidrologi, serta pemulihan ekosistem.
  • Langkah tersebut dilakukan di wilayah kerja Kabupaten Ketapang dan Kabupaten Kayong Utara, di tengah ancaman musim kemarau dan fenomena iklim El NiƱo.
  • Tim gabungan melakukan pemantauan kawasan secara intensif, termasuk mendeteksi titik panas (hotspot) secara real-time melalui platform resmi SiPongi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) yang disinkronkan dengan patroli darat harian.
Pontianak: Upaya menjaga kelestarian hutan dan ekosistem gambut di Kalimantan Barat terus diperkuat melalui peningkatan kesiapsiagaan tim lapangan, pengelolaan hidrologi, serta pemulihan ekosistem.
 
Langkah tersebut dilakukan di wilayah kerja Kabupaten Ketapang dan Kabupaten Kayong Utara, di tengah ancaman musim kemarau dan fenomena iklim El Niño.
 
Tim gabungan melakukan pemantauan kawasan secara intensif, termasuk mendeteksi titik panas (hotspot) secara real-time melalui platform resmi SiPongi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) yang disinkronkan dengan patroli darat harian.

Direktur PT Mayawana Persada, Iwan Budiman, mengatakan penanganan kondisi di lapangan tidak hanya berfokus pada respons cepat, tetapi juga evaluasi menyeluruh terhadap kondisi kawasan dan penguatan pengelolaan lingkungan.
 
“Prioritas kami saat ini adalah memastikan penanganan kebakaran dilakukan secepat dan seefektif mungkin, sekaligus mencegah dampaknya meluas terhadap lingkungan dan masyarakat. Kami menyadari bahwa kejadian ini juga menjadi perhatian berbagai pihak. Karena itu, selain mengerahkan sumber daya untuk penanganan di lapangan, kami melakukan evaluasi secara menyeluruh terhadap kondisi kawasan dan langkah-langkah pengelolaan yang perlu diperkuat ke depan,” ujar Iwan.

170 Personel Disebar di Delapan Posko


Sebagai bagian dari peningkatan kesiapsiagaan, sebanyak tujuh regu inti dan regu pendukung dengan total 170 personel dikerahkan di delapan posko.
 
Kesiapan tersebut didukung berbagai sarana dan prasarana, antara lain menara pantau, drone, pesawat nirawak VTOL, CCTV, serta 74 titik sumber air (water point) yang tersebar di empat sektor operasional.
 
Seluruh sumber air tersebut dipelihara secara rutin untuk memastikan ketersediaannya ketika dibutuhkan.
 
Tim juga menjalankan patroli intensif selama 24 jam, baik siang maupun malam. Selain melakukan pemadaman, tim membuat sekat bakar sesuai kebutuhan dan kondisi lapangan.
 
Setelah kondisi api terkendali, proses dilanjutkan dengan pendinginan serta pemantauan berkala untuk mengantisipasi munculnya kembali titik api.

Pengelolaan Hidrologi Gambut Jadi Perhatian


Selain kesiapsiagaan di lapangan, pengelolaan hidrologi menjadi salah satu aspek penting dalam menjaga kondisi lahan gambut.
 
Asisten Kepala (Askep) Environment PT Mayawana Persada, Agus Trijoko, menjelaskan bahwa infrastruktur kanal di dalam kawasan konsesi digunakan untuk menahan dan mengatur distribusi air melalui proses rewetting.
 
Menurut Agus, seluruh pintu kanal ditutup selama musim kemarau dan fenomena El Niño untuk mempertahankan cadangan air di dalam bentang lahan.
 
“Menghadapi musim kemarau dan El Niño, seluruh pintu kanal ditutup rapat guna mempertahankan cadangan air di dalam bentang lahan. Secara teknis, perusahaan menjaga Tinggi Muka Air (TMA) rata-rata pada kisaran 40 sentimeter untuk memastikan lahan tetap lembap tanpa menggenangi perakaran tanaman,” jelas Agus.
 
Pengelolaan tersebut mengacu pada regulasi pemerintah serta literatur ilmiah mengenai restorasi gambut tropis.
 
Pemantauan Tinggi Muka Air (TMA) dilakukan secara real-time selama 24 jam menggunakan stasiun sensor telemetri otomatis atau level logger.
 
Pengelolaan kelembapan gambut dinilai penting untuk mengurangi risiko terjadinya kebakaran di bawah permukaan tanah (smoldering combustion), yang sulit dideteksi apabila kondisi gambut telah mengering.

Libatkan Masyarakat dalam Pencegahan

Penguatan kapasitas masyarakat juga menjadi bagian dari strategi perlindungan kawasan.
 
Melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (CSR), bantuan sarana dan prasarana pemadaman disalurkan kepada Desa Padu Banjar, Kecamatan Simpang Hilir, Kabupaten Kayong Utara.
 
Desa tersebut merupakan desa binaan mitra konservasi Yayasan Palung.
 
Bantuan diterima Kepala Desa Padu Banjar, Kasdy, S.E., didampingi Ketua Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD) Banjar Lestari, Samsidar, serta perwakilan Yayasan Palung, Hendri Gunawan.
 
Dukungan tersebut diharapkan memperkuat kemampuan masyarakat dalam melakukan deteksi dini dan respons cepat di tingkat tapak.
 
Desa Padu Banjar berada dalam bentang alam Hutan Lindung Sungai Paduan. Karena itu, keterlibatan masyarakat menjadi bagian penting dalam menjaga kawasan sekaligus meningkatkan kesiapsiagaan terhadap ancaman kebakaran.
 
Program tersebut juga menjadi bagian dari kolaborasi Working Group Landscape MATA PANDAWA.

Restorasi Gambut Capai Tingkat Keberhasilan Tumbuh 80 Persen

Selain pencegahan, pemulihan ekosistem gambut terus dilakukan melalui program rehabilitasi yang mengacu pada Dokumen Pemulihan Gambut yang telah terverifikasi.
 
Asisten Sustainability PT Mayawana Persada, Charia Salasari, mengatakan kegiatan revegetasi difokuskan pada spesies pohon endemik rawa gambut yang memiliki kemampuan beradaptasi terhadap tingkat keasaman tinggi.
 
“Bibit dibudidayakan langsung di Revegetation Nursery internal di dalam kawasan hutan agar terbiasa dengan iklim setempat. Melalui pola tanam berjarak 5 x 5 meter dan evaluasi silvikultur berkala setiap enam bulan, tingkat keberhasilan tumbuh (survival rate) bibit revegetasi kami saat ini telah mencapai sekitar 80 persen,” terang Charia.
 
Program tersebut menjadi bagian dari upaya pemulihan kawasan sekaligus mempertahankan fungsi ekologis hutan gambut.

Kawasan Konservasi Diusulkan Diperluas

Komitmen perlindungan bentang alam juga diwujudkan melalui usulan peningkatan alokasi kawasan konservasi dalam revisi Rencana Kerja Usaha (RKU).
 
Alokasi kawasan konservasi yang sebelumnya sekitar 37.000 hektare diusulkan meningkat menjadi 71.000 hektare, termasuk penguatan perlindungan bentang alam di wilayah selatan konsesi.
 
Asisten Kepala (Askep) Sustainability, Muharjan, mengatakan perluasan kawasan lindung tersebut diselaraskan dengan kebijakan Cagar Biosfer serta kemitraan multipihak.
 
“Kawasan konservasi berkanopi rapat ini menjadi koridor jelajah yang aman bagi populasi orangutan (Pongo pygmaeus) dan satwa endemik Kalimantan lainnya sekaligus memberi jaminan kelestarian ekologis bagi masyarakat sekitar,” kata Muharjan.
 
Melalui peningkatan kapasitas tim lapangan, pengelolaan hidrologi, pelibatan masyarakat, restorasi gambut, serta penguatan kawasan konservasi, upaya perlindungan ekosistem di Kalimantan Barat terus diarahkan pada pendekatan berbasis sains (science-based forestry).
 
Kolaborasi antara pemerintah daerah, aparat, masyarakat, serta mitra konservasi menjadi bagian penting untuk menjaga keberlanjutan hutan dan ekosistem gambut di Kalimantan Barat.
 
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(ASM)


TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

>