Dilansir dari laman Anadolu Ajansi pada Jumat, 9 Oktober 2026, Kementerian Kesehatan Gaza mencatat 74.237 warga Palestina tewas dan 175.206 lainnya terluka hingga 4 Oktober 2026. Jumlah korban tewas tersebut setara dengan sekitar 3,4 persen dari perkiraan 2,2 juta penduduk Gaza sebelum perang.
Gencatan senjata yang diberlakukan pada Oktober 2025 belum sepenuhnya menghentikan jatuhnya korban atau memulihkan kehidupan warga. Data sejumlah lembaga Palestina dan organisasi internasional memperlihatkan dampak perang terhadap tempat tinggal, mata pencaharian, pangan, kesehatan, dan pendidikan.
Lebih dari 74 Ribu Warga Palestina Tewas
Data Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) menunjukkan bahwa dari 71.444 korban tewas yang telah diidentifikasi berdasarkan usia dan jenis kelamin hingga 31 Desember 2025, sebanyak 29,8 persen merupakan anak-anak, 15,4 persen perempuan, dan 7,1 persen lansia.Pusat Hak Asasi Manusia Hemaya melaporkan telah mendokumentasikan kematian 21.745 anak sejak Oktober 2023 hingga 3 Oktober 2026, serta sekitar 46.000 kasus luka-luka pada anak. Lembaga tersebut juga mencatat kematian anak akibat kekurangan gizi dan dehidrasi serta bayi prematur di tengah memburuknya layanan kesehatan.
Kehilangan anggota keluarga juga dialami banyak rumah tangga. Survei Pusat Penelitian Kebijakan dan Survei Palestina pada Mei–Juni 2024 menemukan 61 persen responden di Gaza kehilangan anggota keluarga akibat serangan, sedangkan 78 persen memiliki kerabat yang tewas atau terluka.
Pengungsian dan Kehancuran Rumah
Menurut perkiraan PBB, hampir 1,9 juta warga Palestina atau sekitar 90 persen populasi Gaza telah mengungsi selama perang. Banyak keluarga terpaksa berpindah berulang kali karena rumah mereka hancur atau tidak lagi aman untuk ditempati.Laporan Bank Dunia, PBB, dan Uni Eropa memperkirakan 371.888 unit rumah rusak atau hancur hingga Oktober 2025, setara dengan sekitar 77 persen stok perumahan Gaza. Sementara itu, penilaian Klaster Tempat Tinggal yang dikutip OCHA menyebut sekitar 94 persen penduduk membutuhkan bantuan tempat tinggal dan perlengkapan rumah tangga dasar.
Kondisi pengungsian masih memprihatinkan. Hingga 65 persen rumah tangga yang disurvei pada Juni tinggal di tenda atau bangunan darurat dengan perlindungan terbatas dari cuaca, sementara ancaman banjir menambah risiko bagi warga.
Ekonomi Runtuh dan Kelaparan Membayangi
Laporan Konferensi PBB tentang Perdagangan dan Pembangunan (UNCTAD) pada 24 September memperkirakan 92 persen unit usaha di Gaza telah rusak atau hancur sejak Oktober 2023. Tingkat pengangguran mencapai 78 persen, sementara output ekonomi tahunan per kapita turun menjadi USD212 pada 2025, sekitar 17 persen dari tingkat pada 2022.Kehancuran sektor produktif turut membatasi akses pangan. Menurut UNCTAD, kurang dari 1,5 persen lahan pertanian di Gaza masih dapat diakses sekaligus tidak mengalami kerusakan.
“Ketahanan pangan sepenuhnya bergantung pada bantuan. Sebagian besar penduduk Gaza, termasuk anak-anak serta perempuan hamil dan menyusui, menghadapi kerawanan pangan akut dan kekurangan gizi,” demikian laporan UNCTAD. Lembaga itu memperingatkan bahwa kekurangan gizi pada anak dapat menyebabkan gangguan pertumbuhan dan perkembangan jangka panjang.
Gencatan Senjata Belum Memulihkan Kehidupan
Kementerian Kesehatan Gaza mencatat sedikitnya 1.460 warga Palestina tewas dan 5.116 lainnya terluka sejak gencatan senjata Oktober 2025. Di sektor kesehatan, penilaian yang dikutip UNCTAD menyebut lebih dari separuh rumah sakit dan klinik layanan kesehatan primer tidak lagi berfungsi.Kerusakan juga meluas ke sektor pendidikan. UNICEF melaporkan hampir 98 persen bangunan sekolah mengalami kerusakan sejak Oktober 2023, dengan lebih dari 93 persen membutuhkan rehabilitasi besar atau pembangunan kembali. Sekitar 700.000 anak berusia empat hingga 17 tahun tidak dapat mengikuti pendidikan formal tatap muka selama tiga tahun berturut-turut.
Di tengah kerusakan tersebut, UNCTAD memperkirakan kebutuhan dana pemulihan dan rekonstruksi Gaza mencapai USD71,5 miliar. Nilai itu masih dapat meningkat seiring ditemukannya kerusakan tambahan, menandakan bahwa gencatan senjata belum cukup untuk memulihkan kehidupan warga Gaza. (Wisa Irena Br Sitepu)