Ilustrasi Planet Venus. Foto: Pinterest/My Today's Horoscope
Ilustrasi Planet Venus. Foto: Pinterest/My Today's Horoscope

Venus Pernah Punya Satelit Alami? Ini Teori Barunya

Annisa ayu artanti • 15 September 2026 13:58
Ringkasnya gini..
  • Stephen Krane menyebut kasus Venus yang tidak memiliki satelit sebagai “kanibalisme angkasa”.
  • Kecepatan rotasi dan ketebalan atmosfer membuat planet Venus tidak memiliki satelit alami seperti planet lain.
  • Venus kemungkinan menerima hantaman lebih banyak ketika pembentukan tata surya.
Jakarta: Gugusan Galaksi Bima Sakti terdiri dari delapan planet, mulai dari Merkurius, Venus, Bumi, Mars, Jupiter, Saturnus, Uranus, dan Neptunus. Enam dari delapan planet tersebut memiliki satelit alami atau benda langit yang mengorbit pada sebuah planet. 

Bumi memiliki bulan (Luna), Mars memiliki Phobos dan Deimos, Jupiter memiliki kelompok Galileo sebagai satelit utama, Saturnus memiliki Titan hingga Dione yang mewakili satelit terbesarnya, Uranus dengan Titania hingga Mirandanya, serta Neptunus dengan satelit utamanya Triton, hingga Thalassa. Sedangkan Merkurius dan Venus tidak memiliki satelit alami.

Dilansir dari laman Channel New Asia pada Selasa, 15 September 2026, astrofisikawan di Universitas California, Stephen Krane, mempresentasikan teori kenapa Venus tidak memiliki satelit alami. Ia menyebut kasus ini sebagai “kanibalisme angkasa”.

Secara ukuran, massa, dan struktur, Venus sangat mirip dengan Bumi. Namun, kecepatan rotasi yang sangat lambat menyebabkan satelit alami apa pun yang pernah mengorbit adan secara bertahaap mendekat akan hancur karena tabrakan yang dahsyat. 

“Jika planet itu memiliki bulan dan kemungkinan besar pernah memilikinya, planet itu tidak mungkin dapat mempertahankannya. Bulan itu pasti telah menabrak planet dalam jangka waktu yang relatif singkat,” jelas krane.
   

Menyimpang dari Teori Sebelumnya

Teori yang telah diterbitkan di The Astrophysical Journal itu menandai penyimpangan dari teori sebelumnya yang berteori bahwa Venus mungkin tidak pernah memiliki bulan sendiri sejak awal, atau mungkin memiliki bulan yang hancur karena benturan dahsyat dari benda langit. 

Krane mengatakan bahwa data dari model komputer berdasarkan fisika planet dan simulasi mekanika gravitasi bulan-bulan hipotesis Venus dengan berbagai ukuran menunjukkan bahwa semuanya akan mengalami nasib yang sama, yaitu cepat atau lambat akan runtuh ke planet induknya. 

“Peristiwa penelanan bulan yang diduga tersebut kemungkinan terjadi dalam satu miliar tahun pertama sejarah Venus, yang seperti bagian tata surya lainnya, berusia sekitar 4,5 miliar tahun,” ujar Krane.

Bumi Berputar Lebih Cepat Daripada Venus

Studi Universitas California yang berfokus pada dinamika Bumi-Bulan menemukan bahwa kecepatan rotasi planet adalah faktor kunci adanya satelit alami atau tidak.

“Berbeda dengan Venus yang membutuhkan 243 hari Bumi untuk menyelesaikan satu rotasi, sedikit lebih lama daripada orbitnya mengelilingi matahari. Bumi berputar pada porosnya setiap 24 jam, lebih dari 200 kali lebih cepat daripada Venus,” kata Krane. 

Selain itu, Venus diselimuti atmosfer tebal dan beracun yang menciptakan efek rumah kaca yang tidak terkendali, sehingga membakar permukaannya pada suku 880 derajat Fahrenheit (471 derajat Celcius).

“Meskipun tidak ada bukti bahwa bulan Venus pernah ada, tidak mungkin Venus, pada masa awalnya, entah bagaimana menghindari tabrakan dahsyat dengan protoplanet lain yang secara luas diyakini telah membentuk bulan Bumi,” ujar Krane. 

Krane juga beranggapan bahwa pembentukan tata surya yang dipenuhi dengan benda-benda langit berbatu besar, yang melesat melalui ruang angkasa dan saling bertabrakan, kemungkinan juga membuat Venus menerima lebih banyak hantaman benda langit dibandingkan dengan Bumi, karena posisinya yang lebih dekat dengan matahari. (Wisa Irena Br Sitepu)

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(ANN)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan