Dilansir dari laman BBC pada Rabu, 23 September 2026, Trump mengatakan sedang menghadapi “keputusan besar” antara mencapai kesepakatan dengan Iran atau mengambil tindakan militer lebih jauh.
“Haruskah aku memusnahkan Republik Islam dan melakukannya dengan cepat, tanpa memberi mereka kesempatan untuk membunuh dan menghancurkan orang dan negara lagi?” ujar Trump.
Dalam pidatonya, Trump juga membela tindakan militer AS dan Israel terhadap Iran dengan alasan konflik tersebut telah mencegah Teheran memperoleh senjata nuklir. Ia mempertahankan pendekatan yang disebutnya sebagai “peace through strength”, yaitu menggunakan kekuatan dan tekanan untuk mendorong lawan menerima kesepakatan.
Trump kemudian mengajukan pilihan yang menurutnya sedang dihadapi AS.
“Akankah kesepakatan tercapai dengan Iran yang memungkinkan mereka membangun kembali dan menciptakan negara yang jauh lebih hebat daripada sebelumnya?” tanyanya.
AS dan Iran Tetap Duduk di Meja Negosiasi
Meski Trump mengeluarkan ancaman keras, pejabat AS dan Iran tetap melakukan perundingan di sela-sela Sidang Umum PBB. Trump menyebut pertemuan tersebut berlangsung sekitar tiga jam dan “sangat produktif”.
Pembicaraan tersebut berlangsung melalui mediator Qatar yang menyampaikan tuntutan Teheran, termasuk penghentian perang di semua lini dan penghentian apa yang disebut Iran sebagai “tindakan agresi” AS.
Utusan Khusus AS untuk Timur Tengah, Steve Witkoff, kemudian mengatakan para mediator akan melanjutkan pembicaraan, dan menyebut putaran diskusi tersebut “konstruktif dan menjanjikan.” (Wisa Irena Br Sitepu)