Dilansir dari laman BBC pada Selasa, 20 Oktober 2026, di Italia ada tradisi unik yang dikenal dengan nama fare la scarpetta, yaitu menggunakan sepotong roti untuk mengambil sisa saus, minyak, atau sari makanan yang tertinggal di piring. Kebiasaan ini sekilas terlihat sederhana, bahkan mungkin dianggap kurang sopan jika dilakukan di restoran formal.
Asal-usul nama scarpetta sendiri belum diketahui secara pasti. Namun, menurut penelusuran Cesari, salah satu catatan tertulis paling awal mengenai istilah ini ditemukan pada 1871 dalam sebuah terbitan berbahasa dialek Romawi.
Istilah serupa juga muncul dalam kamus dialek Abruzzo pada 1885. Temuan itu mengindikasikan bahwa istilah scarpetta telah digunakan sejak abad ke-19. Meski begitu, tradisi ini tidak selalu diterima di semua tempat karena dianggap kurang pantas di lingkungannya.
Namun, pandangan berbeda muncul di wilayah selatan Italia. Di Puglia, misalnya, menghabiskan makanan dengan bantuan roti bisa dipandang sebagai bentuk penghargaan terhadap hidangan sekaligus cara menghindari pemborosan.
Perbedaan ini menunjukkan bahwa etika makan di Italia tidak sepenuhnya seragam. Pandangan terhadap la scarpetta juga dipengaruhi oleh daerah, generasi, dan latar belakang sosial.
Baca Juga :
Rekomendasi Kuliner Thailand dan Vietnam di Jakarta Selatan, Wajib Coba Tom Yum Ultimate
Dari Kebiasaan yang Dianggap Kurang Sopan Menjadi Bentuk Apresiasi
Perubahan pandangan terhadap la scarpetta berkaitan dengan cara masyarakat Italia memaknai makanan. Jika dahulu etiket formal melarang seseorang menyentuh makanan langsung dengan tangan, perhatian terhadap tradisi kuliner sederhana dan upaya menghindari pemborosan kemudian ikut mengubah cara kebiasaan ini dipandang.
Sejarawan kuliner, Luca Cesari, menjelaskan bahwa perubahan tersebut semakin terlihat pada paruh kedua abad ke-20, ketika masakan sederhana yang dikenal sebagai cucina povera kembali mendapat perhatian. Dalam konteks ini, membuang makanan justru mulai dipandang sebagai sesuatu yang patut dihindari.
Salah satu momen penting terjadi pada 2015 di mana tokoh yang dikenal sebagai pelopor kuliner mewah modern Italia, Gualtiero Marchesi, menyatakan bahwa la scarpetta dapat diterima bahkan terlihat elegan, selama dilakukan dengan santai dan tidak berlebihan.
Kini, kebiasaan tersebut semakin mudah dijumpai di restoran Italia, mulai dari tempat makan sederhana hingga restoran dengan suasana lebih formal. Roti bahkan kerap tetap disediakan di meja agar pengunjung bisa menikmati sisa saus setelah hidangan utama selesai.
Bagi chef Francesco Mazzei, roti memiliki posisi penting dalam tradisi kuliner Calabria. Roti bukan sekadar pelengkap, melainkan bagian utama dari pengalaman makan yang membuat hidangan terasa lengkap.
Sementara itu, chef Somaia Hammad melihat la scarpetta sebagai bentuk penghargaan terhadap makanan yang disajikan. Ketika seseorang berusaha menghabiskan saus hingga tetes terakhir, tindakan tersebut bisa menunjukkan bahwa ia benar-benar menikmati hidangannya.
Maknanya bahkan dapat meluas ke luar konteks makanan. Ungkapan ci farei la scarpetta bisa digunakan untuk menggambarkan sesuatu yang sangat dinikmati hingga membuat seseorang ingin mengulanginya atau berharap pengalaman itu berlangsung lebih lama.
Pada akhirnya, la scarpetta memperlihatkan bahwa etika makan tidak selalu sebatas mengikuti aturan formal. Dalam budaya kuliner Italia, menikmati makanan, menghargai usaha orang yang memasak, dan tidak membuang sesuatu yang masih lezat juga memiliki arti penting. (Wisa Irena Br Sitepu)