Dekorasi Halloween. Foto: pexels
Dekorasi Halloween. Foto: pexels

Sejarah Halloween 31 Oktober Ternyata Berakar dari Berbagai Tradisi Kuno

Muhammad Syahrul Ramadhan • 21 Oktober 2026 11:51
Ringkasnya gini..
  • Perayaan Halloween yang dirayakan setiap tanggal 31 Oktober ternyata lahir dari perjalanan sejarah panjang di wilayah Eropa.
  • Berawal dari tradisi kuno masyarakat Celtic, adanya pengaruh agama Kristen, legenda rakyat, hingga tradisi masyarakat lainnya membentuk identitas Halloween yang dikenal hari ini.
  • Dengan berbagai pengaruh budaya dan perubahan zaman, Halloween pun terus berubah mengikutinya menjadi budaya horor yang dikenal dunia.
Jakarta: Halloween diperingati setiap 31 Oktober dan identik dengan kostum menyeramkan, dekorasi labu, rumah berhantu, hingga tradisi trick-or-treating. 

Perayaan ini populer di Amerika Serikat dan kini dikenal di berbagai negara dengan cara perayaan yang beragam. 

Namun, Halloween tidak bermula sebagai pesta kostum seperti yang dikenal sekarang. Sejarahnya berakar pada tradisi masyarakat Celtic di Eropa Barat yang mengalami perubahan seiring berkembangnya pengaruh agama Kristen dan budaya populer.


Berawal dari Festival Samhain Bangsa Celtic

Dimulai dari Samhain, sebuah festival kuno masyarakat Celtic yang menandai berakhirnya musim panen dan dimulainya musim dingin. Tradisi ini telah berlangsung lebih dari 2000 tahun lalu di wilayah yang kini mencakup Irlandia, Skotlandia, dan wilayah lain di Eropa Barat.

Bagi masyarakat Celtic, pergantian musim merupakan momen penting karena berkaitan dengan siklus pertanian dan kehidupan sehari-hari. Samhain biasanya dirayakan pada akhir Oktober hingga awal November.

Menurut HISTORY, masyarakat pada masa itu meyakini bahwa batas antara dunia manusia dan dunia roh menjadi lebih tipis selama Samhain. Keyakinan inilah yang membuat festival ini dikaitkan dengna arwah orang yang telah meninggal serta berbagai kepercayaan supernatural lain.

Salah satu tradisi yang dilakukan adalah menyalakan api unggun sebagai bagian dari perayaan. Masyarakat juga mengenakan penyamaran dalam bentuk kostum untuk menghadapi hal-hal yang mereka kaitkan dengan dunia roh.

Kepercayaan tersebut menjadi identitas dan bagian dari tradisi spiritual masyarakat Celtic pada masa itu. Seiring waktu, sejumlah unsur Samhain ikut memengaruhi kebiasaan yang kemudian berkembang menjadi Halloween.


Mengapa Setiap 31 Oktober?

Tanggal 31 Oktober berkaitan dengan malam menjelang 1 November, yang kemudian diperingati dalam tradisi Kristen sebagai All Saints’ Day atau Hari Semua Orang Kudus.

Pada abad pertengahan awal, peringatan untuk menghormati para santo dan martir dalam tradisi Kristen mengalami perubahan waktu. Paus Gregorius III pada abad kedelapan menetapkan 1 November sebagai hari untuk menghormati semua santo di Roma.

Seiring penyebaran agama Kristen ke wilayah masyarakat Celtic, peringatan tersebut berinteraksi dengan tradisi lokal yang sudah ada.

Malam sebelum All Saints’ Day kemudian dikenal sebagai All Hallow’s Eve yang kemudian berkembang menjadi Halloween.

Meski demikian, sejarahnya bukan sekadar pergantian nama dari satu festival ke festival lain. Berbagai kebiasaan masyarakat, praktik keagamaan, dan tradisi lokal berkembang selama berabad-abad hingga membentuk perayaan yang dikenal saat ini.


Tradisi Menghormati Arwah hingga Trick-or Treat

Halloween modern memiliki sejumlah tradisi yang berkembang dari kebiasaan masyarakat di Eropa. Salah satunya adalah trick-or-treating, ketika anak-anak mengenakan kostum dan mendatangi rumah-rumah untuk meminta permen atau makanan manis lain.

Menurut Smithsonian Magazine, kebiasaan ini memiliki kaitan dengan sejumlah tradisi lama, termasuk souling di Inggris. Dalam praktik tersebut, orang-orang miskin mendatangi rumah warga untuk meminta makanan sebagai imbalan atas doa bagi anggota keluarga yang telah meninggal.

Di Skotlandia dan Irlandia, terdapat pula tradisi guisin, yaitu mengenakan penyamaran sambil berkeliling dan menampilkan lagu, puisi, atau lelucon.

Kebiasaan tersebut berkembang dari waktu ke waktu. Ketika imigran Irlandia dan Skotlandia datang ke Amerika Serikat pada abad ke-19, mereka turut membawa tradisi yang kemudian berbaur dengan budaya setempat.

Pada abad ke-20, trick-or-treat semakin dikenal sebagai kegiatan anak-anak pada malam Halloween. Tradisi ini akhirnya menjadi salah satu ciri khas perayaan tersebut di Amerika Serikat.
 


Identik dengan Labu

Kalau bicara soal Halloween pasti yang terlintas adalah labu oranye yang menjadi ikonis dari perayaan horor ini. Ukiran wajah yang menghiasi buah ini seringkali pula diberi cahaya dari dalam dan dipajang sebagai dekorasi.

Hiasan dekorasi ini dikenal dengan sebutan jack-o’-lantern dan ternyata awalnya bukan dari labu. 

Menurut Smithsonian Magazine dan National Museum of Ireland, masyarakat Irlandia dahulu mengukir wajah pada sayuran akar, terutama lobak (turnip). Mereka melubangi bagian dalamnya, membentuk wajah, lalu menempatkan lilin di dalamnya untuk menghasilkan cahaya. 

Tradisi ini berkaitan dengan cerita rakyat Irlandia tentang Stingy Jack yang dikisahkan menipu iblis sehingga setelah meninggal ia tak diterima di surga maupun neraka. Penolakan dari dua dunia ini mengharuskan ia mengembara membawa lentera dari lobak yang diterangi bara api.

Hingga saat imigran Irlandia datang ke Amerika pada abad ke-19, mereka menemukan labu yang lebih mudah didapatkan dan ukurannya lebih besar dibanding lobak sehingga memudahkan proses pengukiran wajah.

Lambat laun, labu menggantikan lobak sebagai bahan utama jack-o’-lantern di Amerika Serikat. Tradisi ini kemudian semakin populer dan menyebar melalui perayaan Halloween, media, serta budaya populer.

Kini, labu berwajah menyeramkan menjadi dekorasi khas Halloween. Selain diukir, labu juga digunakan sebagai hiasan pesta, ornamen rumah, hingga inspirasi kostum dan berbagai produk bertema Halloween.


Berubah Jadi Perayaan Populer

Waktu berjalan dan zaman berubah, identitas Halloween berkembang menjadi perayaan budaya populer. Kostum karakter fiksi, dekorasi rumah, pesta bertema horor, dan berbagai makanan khas menjadi bagian dari perayaannya.

Di Amerika Serikat, tradisi Halloween juga mengalami perubahan dari kegiatan komunitas menjadi perayaan yang melibatkan industri hiburan dan perdagangan. Film horor, acara televisi, serta produk bertema Halloween turut memperluas popularitasnya.

Saat ini, Halloween dirayakan dengan cara yang berbeda-beda di berbagai negara. Sebagian orang mengikuti tradisi mengenakan kostum dan mengumpulkan permen, sedangkan yang lain memilih menghadiri pesta atau sekadar menikmati dekorasi dan hiburan bertema Halloween.

Dari sejarahnya yang panjang, Halloween bukan hanya perayaan yang identik dengan hal-hal creepy dan horor saja. 

Namun juga memperlihatkan bagaimana tradisi kuno, perkembangan agama, migrasi, dan budaya populer saling berinteraksi hingga membentuk perayaan yang dikenal luas hingga saat ini.

(Vira Farhatul Maula)

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(RUL)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan