Dalam video tersebut, pembuat konten menyoroti berbagai pengalaman yang menurutnya menjadi culture shock selama berada di Indonesia. Hal-hal yang dibahas terbilang dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat, mulai dari kebiasaan makan hingga aktivitas warga pada malam hari.
Video itu menampilkan bagaimana kebiasaan yang dianggap biasa di Indonesia bisa terasa asing bagi orang yang tumbuh dengan budaya berbeda. Berikut tujuh hal yang disoroti dalam video tersebut.
1. Makan Menggunakan Tangan
Salah satu hal yang disoroti adalah kebiasaan makan menggunakan tangan. Di Indonesia, makan langsung dengan tangan merupakan kebiasaan yang cukup umum, terutama ketika menyantap nasi dengan lauk tertentu.Namun, pembuat konten tersebut menggambarkan bahwa kebiasaan itu terasa berbeda dari pengalaman yang ia kenal di Jepang. Ia bahkan menyinggung reaksi orang tua jika anak makan menggunakan tangan.
Meski demikian, kebiasaan makan di Jepang tidak bisa disamaratakan. Cara makan tetap bergantung pada jenis makanan, situasi, dan kebiasaan keluarga masing-masing.
2. Bingung Memilih Sendok, Garpu, atau Tangan
Masih berkaitan dengan kebiasaan makan, video tersebut juga menyoroti pilihan alat makan di Indonesia. Saat menyantap hidangan tertentu, seseorang bisa menggunakan sendok dan garpu, sumpit, atau langsung memakai tangan.Bagi pendatang yang belum terbiasa, beragam pilihan tersebut mungkin menimbulkan kebingungan. Apalagi, cara makan masyarakat Indonesia dapat berbeda berdasarkan jenis makanan dan daerah asalnya.
3. Ada Orang yang Membantu Mengatur Parkir
Hal lain yang menarik perhatian dalam video tersebut adalah keberadaan orang yang membantu mengatur kendaraan saat keluar-masuk tempat usaha atau mencari tempat parkir.Di Indonesia, orang yang membantu mengarahkan kendaraan di sekitar minimarket, tempat makan, atau area parkir kerap dijumpai. Sebagian dikenal sebagai juru parkir.
Keberadaan mereka menjadi pemandangan yang cukup akrab bagi masyarakat setempat, tetapi bisa terasa berbeda bagi pendatang yang terbiasa dengan sistem parkir di negaranya.
Video tersebut juga menyinggung orang yang membantu mengarahkan kendaraan ketika menyeberang atau melintasi jalan. Pengalaman semacam ini memperlihatkan perbedaan cara masyarakat mengatur aktivitas di ruang publik.
4. Nama Toko yang Terdengar seperti Bahasa Jepang
Pembuat konten juga menyoroti nama sejumlah toko atau merek di Indonesia yang terdengar seperti bahasa Jepang. Salah satu contoh yang ditampilkan dalam video adalah Momoyo.Nama yang terdengar asing atau memiliki kesan Jepang belum tentu mempunyai arti yang sama dalam bahasa tersebut. Nama merek bisa dipilih karena alasan pemasaran, bunyi yang mudah diingat, atau identitas produk.
Karena itu, kemiripan nama toko dengan bahasa Jepang tidak otomatis berarti nama tersebut memiliki makna tertentu dalam bahasa aslinya.
5. Es Krim Momoyo Berukuran Besar dengan Harga Rp19.000
Harga makanan juga menjadi bagian dari pengalaman yang dibagikan dalam video. Pembuat konten menyoroti es krim Momoyo berukuran besar yang disebut dijual dengan harga Rp19.000.Bagi orang yang sedang membandingkan harga makanan di negara berbeda, ukuran porsi dan harga produk lokal bisa menjadi hal yang menarik perhatian.
Meski begitu, harga tersebut merupakan harga yang ditampilkan atau disebut dalam video dan dapat berbeda berdasarkan varian produk, lokasi gerai, serta waktu pembelian.
6. Suara Musik Keras pada Malam Hari
Suasana malam di Indonesia juga masuk dalam daftar culture shock. Dalam video itu, pembuat konten menyoroti orang yang berkeliling sambil memutar musik dengan volume keras pada malam hari.Suara musik yang terdengar dari jalan bisa menjadi pengalaman yang tidak biasa bagi pendatang. Dalam video tersebut, ia bahkan mempertanyakan apakah suara itu berasal dari kelompok pengendara motor.
Namun, dugaan tersebut tidak dapat dipastikan hanya dari suara musik yang terdengar. Kebiasaan dan aktivitas warga pada malam hari juga berbeda-beda di setiap wilayah.
7. Anak-anak Masih Beraktivitas pada Pukul 21.00
Hal terakhir yang disoroti adalah keberadaan anak-anak yang masih berada di luar rumah sekitar pukul 21.00. Bagi pembuat konten, pemandangan itu menjadi salah satu perbedaan yang menarik perhatian.Di sejumlah lingkungan di Indonesia, anak-anak terkadang masih terlihat bermain atau beraktivitas pada malam hari, khususnya di kawasan permukiman yang ramai. Namun, kebiasaan tersebut tidak berlaku untuk semua keluarga maupun daerah.
Pengalaman yang dibagikan dalam video @rn__taku memperlihatkan bahwa culture shock bisa muncul dari hal-hal sederhana. Kebiasaan yang terasa biasa bagi masyarakat setempat dapat memberikan kesan berbeda bagi orang yang berasal dari latar budaya lain.
(Ellen Octovia Suherman)