Tumpukan sampah plastik berada di pinggir pantai Ouzai, Beirut. (Foto: AFP/JOSEPH EID)
Tumpukan sampah plastik berada di pinggir pantai Ouzai, Beirut. (Foto: AFP/JOSEPH EID)

Menjaga Lautan dari Sampah Plastik

Internasional Our Ocean Conference 2018
Willy Haryono • 14 November 2018 09:00
Nusa Dua: Konferensi internasional Our Ocean Conference (OOC) di Nusa Dua, Bali, telah selesai digelar pada 29-30 Oktober 2018. OOC kali kelima ini menguatkan kembali komitmen komunitas internasional dalam melindungi lautan.
 
Dell Technologies dan Lonely Whale adalah dua dari puluhan perusahaan yang turut serta dalam OOC di Indonesia. Keduanya juga merupakan bagian dari NextWave, sebuah gerakan inisiatif dalam menjaga lautan dari sampah, terutama plastik. Fokus dari NextWave adalah mencegah agar sampah plastik tidak masuk ke laut.
 
Berikut wawancara khusus Medcom.id dengan Direktur Pengadaan dan Pengemasan Dell, Oliver Campbell serta Dune Ives, Direktur Eksekutif Lonely Whale.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Secara umum, apa pendapat Anda mengenai OOC ?
 
Oliver Campbell
Ini adalah OOC pertama bagi saya. Menurut saya, acara ini luar biasa. Energi yang diperlihatkan semua orang, termasuk Presiden Joko Widodo, luar biasa. Beliau menyampaikan pidato yang sangat baik. Para pembicara lainnya di acara ini juga menyoroti dengan baik kemajuan-kemajuan apa saja yang sudah dicapai, dan apa saja target-target ke depannya dalam isu kelautan. Jadi, saya rasa OOC ini merupakan konferensi yang sangat baik dan efektif untuk menyerukan langkah nyata dalam bidang kelautan.
 
Dune Ives
Bagi saya, ini adalah OOC ketiga. Saya sepakat dengan Oliver, OOC ini benar-benar memancarkan energi yang luar biasa. Ini adalah konferensi internasional di mana pemerintah, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM/NGO), investor, dan korporasi duduk bersama mendiskusikan beragam hal penting untuk membantu melestarikan laut kita. Mereka semua membuat komitmen, meski tidak mengikat dan hanya bersifat sukarela. Tapi apa yang kita lihat di konferensi ini adalah, orang-orang duduk bersama dan melaporkan apa saja yang sudah dicapai dalam isu kelautan. Pemerintah Indonesia sebagai tuan rumah ingin memastikan apakah komitmen isu kelautan ini tetap terjaga.
 
OOC pertama digelar di AS. Bali menjadi tuan rumah kelima. Menurut Anda, apakah OOC telah berhasil melindungi laut kita dalam beberapa tahun terakhir ini?
 
Oliver Campbell
Saya rasa begitu, berdasarkan dari jawaban-jawaban Dune tadi. Pemerintah, NGO, korporasi telah membuat komitmen, dan saya rasa mereka berusaha keras menjaganya. Dan sekarang, kita melihat ada komitmen baru, yang kemudian akan diterjemahkan menjadi aksi nyata.
 
Dune Ives
Mantan Menteri Luar Negeri AS John Kerry berkata dalam OOC kali ini, bahwa berbagai kemajuan positif telah terjadi dalam bidang kelautan. Komitmen juga telah dibuat dengan level yang tepat. Namun Kerry menekankan bahwa kita semua harus mulai mengimplementasikannya. Target dan komitmen itu harus diterapkan, dan kita juga perlu memantau sudah seberapa jauh kemajuan itu dibuat, semisal dalam bidang perikanan berkelanjutan dan area kelautan yang dilindungi. Jadi saya rasa OOC ini adalah konferensi yang baik untuk memastikan kita semua berada dalam jalur yang tepat. Ada banyak plastik di lautan, dan itulah mengapa kita berkumpul dalam konferensi ini, untuk memastikan pemerintah dan pihak swasta dapat menangani masalah tersebut melalui aksi nyata.
 
Menjaga Lautan dari Sampah Plastik
Isu sampah plastik dibahas dalam OOC 2018. (Foto: Antara/Idhad Zakaria)
 
Apa dampak dari OOC terhadap isu polusi laut, terutama mengenai sampah plastik?
 
Dune Ives
Tahun lalu, OOC digelar di Malta, yang merupakan konferensi keempat. Tahun ini di Indonesia adalah konferensi kelima. Komitmen signifikan telah dibuat kala itu. Seperti kita ketahui, masih banyak pekerjaan yang harus diselesaikan terkait masalah kelautan. Delapan hingga 12 juta metrik ton sampah plastik diestimasi masuk ke lautan global dalam setiap tahunnya. Jumlah itu belum akan berkurang banyak dalam tiga tahun ke depan. Jadi, kita masih memiliki banyak pekerjaan untuk diselesaikan. Tapi saya lihat komitmen dalam OOC untuk menangani masalah sampah plastik ini sudah sangat positif.
 
Oliver Campbell
Benar, menurut saya juga sangat positif. Komitmen telah dibuat dalam OOC ini. Banyak bisnis, termasuk perusahaan tempat saya bekerja, berusaha untuk terus menjalankan komitmen tersebut.
 
Dell adalah perusahaan teknologi. Apa yang membuat Dell tertarik kepada sampah plastik?
 
Oliver Campbell
Untuk menjawabnya, kita perlu melihat ke belakang saat Michael Dell mendirikan perusahaan Dell Technologies. Beliau mencari cara mengenai bagaimana menggunakan teknologi untuk memajukan berbagai sektor dalam kehidupan manusia dengan tetap menjaga kelestarian lingkungan. Fokus beliau adalah manusia dan lingkungan. Dell, dalam 10 tahun terakhir, mendaur ulang plastik yang terkandung dalam beragam produknya.
 
Kami melihat ada banyak sampah plastik di laut. Kami mulai memikirkan bagaimana cara menangani masalah tersebut. Kami memikirkan secara intensif berbagai pendekatan terbaik mengenai isu sampah plastik dalam tiga tahun terakhir. Itulah alasan utama mengapa kami menjadi terlibat dalam urusan sampah plastik. Solusi yang kami tawarkan terkait isu sampah plastik ini juga dibuat dengan pertimbangan layak dilakukan dari sisi bisnis dan bersifat komersil. Itulah mengapa kami merasa dapat terus bertumbuh bersama Nextwave dan Lonely Whale.
 
Dell mengumpulkan plastik dari pantai, perairan dan area pesisir untuk didaur ulang menjadi produk baru. Bisa tolong jelaskan lebih detail mengenai proses tersebut?
 
Oliver Campbell
Saat memulai proses ini, kami mencoba mencari panduan ilmiah terbaik. Kami juga bekerja sama dengan ilmuwan Jenna Jambeck dari Universitas Georgia. Dia adalah salah satu peneliti ternama dalam masalah sampah plastik di laut. Dia menyarankan kepada kami untuk menghentikan sampah plastik agar tidak masuk ke laut. Dari segi bisnis, metode seperti itu adalah fokus perusahaan kami. Jadi kami menerapkan strategi 'mencegat' sampah tersebut agar tidak berakhir di pinggir atau tengah laut. Jambeck mengklasifikasikan plastik di laut sebagai jenis sampah yang tidak ditangani dengan baik.
 
Kami mengunjungi berbagai wilayah di sejumlah negara, termasuk di sini, Indonesia. Kami bekerja sama dengan pihak pendaur ulang lokal untuk memproses sampah dari area tertentu. Laporan Bank Dunia dan pemerintah Indonesia pada Mei tahun ini menyebut Jakarta dan Bali telah menjadi dua dari puluhan hotspot sampah plastik lautan. Jadi, kami memulai pekerjaan kami di Jakarta dan juga beberapa area di Bali.
 
Kami bekerja sama dengan pendaur ulang dan pengumpul sampah. Proses ini menjadi semacam rantai pasokan sampah plastik untuk kemudian didaur ulang.
 
Dell berusaha mencegah sampah plastik agar tidak masuk ke laut. Namun bagaimana dengan sampah yang sudah ada di laut. Apakah Dell mempunyai semacam teknologi atau mekanisme dalam mengurangi sampah plastik yang sudah ada di laut?
 
Dune Ives
Ada pandangan umum yang menyebutkan bahwa saat sampah masuk ke tengah laut, maka menyingkirkannya secara total merupakan pekerjaan yang hampir mustahil. Sudah banyak plastik yang berada di lautan selama 20 hingga 30 tahun. Plastik semacam itu akan berubah menjadi sangat kecil atau disebut juga plastik mikro. Plastik ini hampir tidak bisa dilihat dengan mata telanjang. Plastik ini juga mengandung bahan kimia berbahaya. Dengan kata lain, saat ini ada banyak racun di tengah lautan.
 
Hal ini tentu menimbulkan kekhawatiran. Apakah kita akan mengambilnya dari tengah laut? Bagaimana caranya? Itulah mengapa kami lebih fokus pada pencegahan, dan memastikan tidak ada lagi sampah yang masuk ke laut.
 
Oliver Campbell
Kami melakukan proses (mencegah plastik masuk ke laut dan mendaur ulangnya) ini sejak tiga tahun terakhir. Plastik sudah ada sejak akhir 1940-an. Ini artinya, proses mendaur ulang plastik ini baru dimulai sekitar 70 tahun setelahnya. Ini menjadi semacam perjalanan bagi kita semua, dan bagaimana kita bisa membuat kemajuan dalam bidang ini, salah satunya adalah dengan mencegah sampah masuk ke laut.
 
Negara-negara dunia, berbagai perusahaan serta deretan ilmuwan terbaik sedang memikirkan cara menangani sampah di lautan. Ini masalah serius, karena sampah yang ada di tengah laut untuk waktu lama telah meracuni perairan. Ada begitu banyak racun di lautan sana, dan ukurannya sangat kecil dalam level partikel. Bagaimana cara kita mengeluarkannya dari lautan?
 
Seperti disebut dalam OOC kali ini, ada miliaran orang di dunia ini yang hidupnya tergantung pada ikan sebagai sumber makanan utama. Jika masalah sampah di laut ini tidak segera diatasi, maka berpotensi menjadi masalah kesehatan bagi umat manusia.
 
Menjaga Lautan dari Sampah Plastik
Oliver Campbell (kiri) dan Dune Ives (tengah) dalam wawancara khusus Medcom.id
 
Sejumlah ilmuwan mengestimasi akan ada lebih banyak plastik ketimbang ikan di lautan pada 2050. Apakah ini pernyataan yang berlebihan atau merupakan estimasi terukur?
 
Dune Ives
Ada juga estimasi yang menyebut pada 2030, akan ada 1 ton plastik untuk setiap 3 ton ikan di lautan. Tentu kita tidak dapat mengetahui secara pasti akan ada berapa banyak plastik saat ini, atau di masa mendatang.
 
Masalah plastik ini tentu saja mengganggu lautan, termasuk mengenai perikanan berkelanjutan yang disuarakan Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti. Bagaimana kita mau menuju perikanan berkelanjutan jika ada banyak sampah di lautan.
 
Ikan-ikan itu nantinya dikhawatirkan malah memakan plastik di laut. Ikan yang memakan plastik itu kemudian ditangkap nelayan, dan daging terkontaminasi itu dimakan oleh kita. Tentu kita tidak menginginkan hal tersebut.
 
Dibanding dengan material lain, ada berapa banyak kandungan plastik dalam produk-produk Dell?
 
Oliver Campbell
Kami membuat banyak produk, jumlahnya ratusan, dan memang ada kandungan plastiknya. Tapi mungkin hal terpenting adalah, bagaimana Dell memastikan plastik dalam produknya ini bisa bersifat berkelanjutan. Jadi Dell menerapkan prinsip desain sirkular untuk beragam produknya. Lewat prinsip ini, beragam produk Dell didesain dan dibuat dari plastik daur ulang.
 
Sebagai contohnya, kami mempunyai target pada 2020 untuk menggunakan 100 juta pound (setara 45 juta kilogram) plastik daur ulang untuk membuat beragam produk. Saat ini kami telah menggunakan 73 juta pound plastik daur ulang, mendekati target 100 juta pound.
 
Kami juga menerapkan program closed-loop recycling, di mana kami mengambil kembali komputer atau laptop usang untuk didaur ulang menjadi produk baru. Saat ini, kami telah mendaur ulang sekitar 21 juta pound plastik dari produk lama. Kami juga telah mendaur ulang sekitar 1.3 juta material carbon fiber dari beragam produk. Jika tidak didaur ulang, mungkin material ini hanya akan berakhir di tempat pembuangan sampah. Jadi intinya kami mencari cara untuk menghindari penggunaan plastik baru untuk membuat produk lewat proses daur ulang ini.
 
Menjaga Lautan dari Sampah Plastik
Produk Dell yang menggunakan plastik daur ulang. (Foto: Dell Technologies)
 
AS telah menarik diri dari Perjanjian Iklim Paris, yang berdampak terhadap upaya global dalam memerangi perubahan iklim. Sebagai perusahaan AS, apa pandangan Dell dan Lonely Whale mengenai hal tersebut?
 
Oliver Campbell
Pandangan Dell mengenai hal ini adalah, kami tidak bersinggungan dengan dunia politik dan hanya akan fokus pada apa yang sedang kami kerjakan saat ini. Kami fokus memberikan yang terbaik untuk pelanggan, masyarakat dan dunia bisnis. Kami menyadari ada kekurangan dari beberapa kebijakan lingkungan di level pemerintah kami, tapi komitmen Dell untuk meningkatkan kualitas kehidupan manusia di planet ini tidak berubah.
 
Dune Ives
Seperti yang sudah disebutkan John Kerry dalam OOC kali ini, bahwa meski presiden (Donald Trump) memutuskan menarik diri dari Perjanjian Iklim Paris, ada banyak kota, negara bagian, dan perusahaan di AS yang tidak mengubah komitmen mereka terkait lingkungan hidup. Mereka semua melanjutkan perjuangan, dan bahkan ada beberapa yang justru meningkatkan komitmen. Ada sejumlah perusahaan otomotif yang menegaskan akan tetap beroperasi sesuai komitmen Perjanjian Iklim Paris.
 
Jadi, pandangan saya sebagai warga AS, dan juga mewakili Lonely Whale, kami tidak melihat adanya kemunduran dari komitmen mengenai lingkungan hidup. Memang ada perubahan komitmen di level pemerintah AS, tapi tidak bagi banyak kota, negara bagian dan perusahaan.
 
Walaupun seandainya pemerintah menjatuhkan sanksi kepada mereka semua (karena tetap berkomitmen pada Perjanjian Iklim Paris), sanksi itu akan sulit diterapkan secara penuh. Saya pribadi tidak khawatir terhadap penarikan diri AS ini. Ada banyak negara di luar sana yang menunjukkan kepemimpinan luar biasa dalam isu lingkungan, sehingga kita tidak perlu terlalu mengkhawatirkan soal AS.
 
Tema OOC tahun ini adalah "Our Ocean, Our Legacy." Apa yang seharusnya kita semua lakukan untuk melindungi warisan laut yang berharga ini?
 
Dune Ives
Saya rasa ada dua hal yang sebaiknya menjadi fokus semua orang. Pertama, dengan cara melindungi laut, dan juga warisan budaya kita. Ini bukan soal ada berapa banyak ikan di laut, ada berapa plastik di samudra, ini lebih mengenai warisan budaya kita.
 
Dari perspektif Indonesia, yang menjadi tuan rumah OOC kali ini, disebutkan bahwa ada ikatan kuat antara masyarakat dengan perairan. Ikatan semacam ini merupakan elemen dari warisan budaya.
 
Poin kedua adalah, lakukanlah sesuatu. Apapun itu. Dari beragam opsi, pilihlah satu dan jalankan. Jalankan dengan fokus. Ajaklah teman untuk melakukan hal tersebut. Lalu saat satu pekerjaan itu telah dikuasai, pilihlah pekerjaan lain. Hal atau pekerjaan sekecil apapun penting dan dapat membuat perbedaan di dunia ini.
 

(WIL)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif