Ikan ini pertama kali dilaporkan menyebar di Thailand pada 2011, tepatnya di Provinsi Samut Songkhram. Perkembangannya ikan berdagu hitam ini begitu cepat, sehingga menyebar ke sedikitnya 19 provinsi di Thailand secara invasif, termasuk wilayah perairan sekitar Bangkok dan Pattaya.
Kemampuan blackchin tilapia untuk berkembang biak dengan cepat dan beradaptasi di lingkungan air tawar maupun payau, membuat populasinya sulit ditekan sehingga tak hanya merusak ekosistem, tetapi juga merugikan nelayan dan petani tambak.
Berdasarkan laporan Bangkok Post pada September 2026, blackchin tilapia telah terdeteksi di wilayah baru yaitu timur laut Thailand, sehingga dikhawatirkan mengurangi populasi spesies asli karena bersaing mendapatkan makanan dan habitat.
Thailand Melakukan berbagai Cara untuk Membasmi Blackchin Tilapia
Pemerintah Thailand telah melakukan berbagai upaya untuk mengurangi populasi blackchin tilapia. Beberapa di antaranya, melepas ikan seabass Asia (kakap putih Asia) sebagai predator, mengembangkan blackchin tilapia yang menghasilkan keturunan steril, serta memberikan insentif kepada masyarakat untuk menangkap ikan tersebut.
Dikabarkan dari upaya tersebut, ribuan ton blackchin tilapia disebut telah dikeluarkan dari perairan Thailand. Namun, upaya tersebut tidak serta-merta membuat ikan invasif ini hilang.
Sejumlah ahli bahkan menilai Thailand sudah melewati tahap ketika spesies tersebut masih mungkin diberantas sepenuhnya.
“Kita sudah jauh melewati titik di mana kita bisa kembali ke titik semula,” kata Asisten Profesor Departemen Ilmu Lingkungan Universitas, Khon Kaen.
Karena itu, selain pengendalian populasi, muncul gagasan untuk memanfaatkan blackchin tilapia sebagai produk ekonomi, misalnya untuk pakan ternak atau bahan pangan.
Dan kini, upaya memberantas ikan tersebut kembali menjadi perhatian setelah pengadilan Thailand memerintahkan pemerintah untuk melakukan langkah eliminasi terhadap blackchin tilapia.
Wilayah Samut Songkhram, yang menjadi salah satu daerah terdampak parah, juga mendapat status khusus untuk mendukung penanganan masalah tersebut. (Wisa Irena Br Sitepu)