“Ketiga negara pantai telah kembali menegaskan pengakuan bahwa menjaga jalur perairan tetap aman, terlindungi dan terbuka merupakan kepentingan terbaik bagi semua pihak,” ujar Menteri Transportasi Singapura Jeffrey Siow yang dilansir dari laman Anadolu Ajansi pada Rabu, 26 Agustus 2026.
Komitmen tersebut ditegaskan dalam Forum Kerja Sama (Co-operation Forum) ke-17 di Singapura pada Selasa 25 Agustus 2026. Kerja sama tersebut mencakup Selat Malaka dan Selat Singapura yang berstatus sebagai selat yang digunakan untuk pelayaran internasional.
Selat Malaka dan Singapura Harus Tetap Terbuka
Dalam forum tersebut, ketiga negara kembali menegaskan status Selat Malaka dan Selat Singapura sebagai selat yang digunakan untuk pelayaran internasional. Hak lintas transit tetap berlaku sebagaimana diatur dalam Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Hukum Laut (UNCLOS) 1982 dan tercermin dalam hukum internasional kebiasaan.Selain menjaga kelancaran pelayaran, Indonesia, Malaysia, dan Singapura juga menekankan pentingnya keselamatan navigasi serta perlindungan lingkungan laut. Ketiga negara pantai mengakui bahwa upaya tersebut membutuhkan kontribusi bersama dari negara pengguna, organisasi internasional, industri maritim, dan berbagai pemangku kepentingan lainnya.
| Baca Juga: Penguatan Pelabuhan Batam Dinilai Krusial untuk Membangun Kedaulatan Logistik Nasional |
Kerja Sama Telah Berlangsung Lebih dari Setengah Abad
Menteri Transportasi Singapura, Jeffrey Siow, menyebut Selat Malaka dan Selat Singapura sebagai contoh keberhasilan kerja sama antarnegara. Menurutnya, Indonesia, Malaysia, dan Singapura telah bekerja sama selama lebih dari 50 tahun untuk meningkatkan keselamatan navigasi di kedua selat tersebut.“Selama lebih dari setengah abad, Indonesia, Malaysia dan Singapura telah bekerja sama secara erat untuk meningkatkan keselamatan navigasi di perairan kami, termasuk di wilayah yang batas maritimnya belum terselesaikan,” kata Siow.
Hampir Seperempat Perdagangan Dunia Lewat Jalur Ini
Kerja sama tersebut dinilai tidak hanya memberikan manfaat bagi Indonesia, Malaysia, dan Singapura, tetapi juga bagi negara-negara yang bergantung pada jalur perdagangan laut di kawasan. Siow menegaskan bahwa hampir seperempat perdagangan dunia melalui jalur laut melewati Selat Malaka dan Selat Singapura.“Bukan hanya negara-negara pantai yang memperoleh manfaat. Hampir seperempat perdagangan dunia melalui jalur laut yang melewati Selat Malaka dan Selat Singapura melintas di sini,” ujarnya.
Menurut Siow, keberlanjutan kerja sama menjadi semakin penting karena ketiga negara tetap dapat menjaga kolaborasi meski memiliki perbedaan pandangan dalam sejumlah persoalan.
“Bahkan ketika terdapat perbedaan pandangan, kami tidak membiarkan hal tersebut melumpuhkan kerja sama,” katanya. (Wisa Irena Br Sitepu)
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda