(Foto: Dok.MI)
(Foto: Dok.MI)

Christine Hakim Puji Komitmen Jokowi Bangun Papua

Hiburan christine hakim
Indriyani Astuti • 09 Februari 2017 09:48
medcom.id, Jakarta: Aktris senior dan produser film Herlina Christine Natalia Hakim atau biasa dikenal dengan Cristine Hakim, 60, memuji upaya dan komitmen Presiden Joko Widodo untuk membangun Papua.
 
Menurut Christine yang baru-baru ini melangsungkan proses syuting film berjudul Boven Digul di Papua, kesungguhan Presiden Jokowi tidak hanya dalam mengupayakan percepatan infrastruktur di Papua, tapi juga perhatiannya pada Bumi Cenderawasih itu.
 
"Kita harus bersyukur bahwa presiden kita sekarang tidak hanya janji- janji kampanye. Bayangkan Bapak Jokowi dalam satu tahun pemerintahannya sudah empat kali datang ke Papua. Papua tidak dekat jaraknya. Dia juga membangun Papua, membangun manusia Papua dan infrastrukturnya," tuturnya.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Menurut Christine, saat ini pandangan kita masih Jawa sentris. Padahal semua pihak dapat turut berperan memajukan Papua.
 
Pemerintah dari segi kebijakan, sedangkan pelaku seni seperti dirinya bisa mempromosikan Papua melalui kekayaan seni dan budaya.
 
Sekolah seni
 
Papua dalam pandangannya mempunyai potensi yang luar biasa untuk dieksplorasi dan dimanfaatkan bagi kesejahteraan masyarakat.
 
Tidak hanya dari segi alam, tapi juga seni dan budaya Papua yang memesona.
 
Oleh karena itu, Chistine dan beberapa teman lainnya berniat mendirikan sekolah seni dan budaya di Papua.
 
"Tugas dari teman-teman bidang seni budaya membangun manusia Papua melalui seni dan budaya. Jangan juga dengan adanya kemajuan, nanti orang Papua tercerabut dari akarnya. Inilah yang bunda sedang lakukan dengan teman-teman," tutur perempuan kelahiran Kuala Tungkal, Jambi, 25 Desember 1956 itu.
 
Chistine mengaku rencana pembangunan sekolah seni dan budaya di Papua dalam tahap persiapan.
 
Diakuinya memang tidak mudah, perlu dipikirkan biaya serta konsep yang matang.
 
"Kalau dilihat secara geografis, mungkin memilih Merauke atau Jayapura. Tidak mudah pasti, tidak hanya menyangkut biaya, tapi juga konsep yang matang," katanya.
 
Pemeran tokoh Cut Nyak Dien dalam film Cut Nyak Dien tersebut menuturkan gagasan untuk membangun sekolah seni dan budaya di Papua muncul ketika dirinya melihat demonstrasi di Universitas Cenderawasih.
 
"Demo itu sampai anarkistis. Sedih. Masyarakat Papua berkembang padahal potensinya luar biasa. Boleh mengkritik, tapi jangan sampai anarkistis dan mudah terprovokasi. Kenapa, ya? Barangkali mereka kurang sarana untuk mengekspresikan diri," ungkap Christine.
 
Dia ingin anak muda Papua difasilitasi dalam mengembangkan potensi dan bakat mereka.
 
Sekaligus perlu suatu upaya untuk melestarikan kearifan lokal yang ada. Caranya melalui budaya dan seni.
 
"Kita bisa lihat berapa anak Papua yang bisa berkesempatan belajar di Jawa. Ditambah lagi bukan Papua saja, Indonesia Timur lainnya, tidak usah semua ke Jawa. Supaya menjadi sarana akar budaya saudara-saudara kita di Papua," katanya.
 
Dia juga berharap film-film Indonesia lebih banyak mengangkat kearifan lokal dan mengeksplorasi kekayaan alam Nusantara.
 
"Masih ada cerita-cerita yang belum tereksplorasi," tukas perempuan yang pernah menjadi juri di berbagai festival film internasional termasuk Cannes di Paris, Prancis.
 

(DEV)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif