AQJ (Foto:Metrotvnews.com/Agustinus Shindu A)
AQJ (Foto:Metrotvnews.com/Agustinus Shindu A)

Mengapa AQJ Divonis Bebas?

Agustinus Shindu Alpito • 17 Juli 2014 08:40
medcom.id, Jakarta: Vonis bebas yang dijatuhkan kepada putra bungsu Ahmad Dhani dan Maia Estianty, AQJ, menuai reaksi masyarakat di jejaring sosial.
 
Salah satu pengguna Twitter yang bereaksi terhadap keputusan ini adalah Erwin Arnada, mantan pemimpin redaksi Majalah Playboy.
 
Komentar Erwin bukan opini semata. Pria yang dikenal juga sebagai penulis novel itu pernah mengecap dinginnya hotel prodeo.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Teman saya di (penjara, Red) Cipinang, dipenjara 2 tahun karena nyolong motor butut. Adiknya umur 12 (tahun) kena 6 bulan penjara tuh, karena dianggap terlibat jadi kaki tangan," kicau Erwin dengan akun @erwinarnada.
 
Dalam kicauannya yang lain Erwin menuliskan, "Pernah lihat anak 15/16 tahun hidup di penjara? Ngeri, kasihan. Rata-rata frustasi, nggak percaya masa depan, malah jadi bajingan kecil."
 
Apakah Anda termasuk orang yang menyayangkan putusan hakim? Jika ya, hakim memiliki pertimbangan tersendiri dalam menjatuhkan vonis untuk AQJ.
 
Dalam pertimbangan putusan yang dibacakan dalam sidang vonis AQJ di Pengadilan Negeri Jakarta Timur, Rabu (16/7/2014), hakim mempertimbangkan tujuh poin dalam menjatuhkan putusan.
 
1. Pengamatan selama proses persidangan terdakwa selalu menunjukkan sikap sopan. Terdakwa bukan anak nakal, namun hanya kurang perhatian. Terdakwa masih bisa dibina. Bila harus dijatuhi pidana, bisa memberikan stigma negatif. Sanksi pidana bisa merusak kejiwaan anak. Stigmatisasi anak (merupakan) faktor kriminogen.
 
2. Telah terjadi perdamaian para korban dan terdakwa, dan keluarga para korban tidak ingin kasus ini dibawa ke ranah hukum. Agar terdakwa kembali menjalani hidupnya.
 
3. Fakta yang terungkap, keluarga terdakwa sungguh-sungguh menunjukkan tanggung jawab. Keluarga korban telah membantu biaya rumah sakit. Ayah terdakwa sudah menyanggupi membiayai keluarga korban.
 
4. Orangtua terdakwa masih sanggup. Ibu kandung terdakwa memberi janji untuk memperhatikan anak.
 
5. Terdakwa menyampaikan penyesalan dan akan menjadi anak soleh dan menuruti nasihat orangtua, serta akan menjalin silaturahmi dengan keluarga korban.
 
6. Sebagai seorang anak, perlu mendapat kesempatan seluas-luasnya untuk mengembangkan potensi.
 
7. Masih (sesuai) Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1997 tentang Peradilan Anak untuk menyongsong sistem pemberlakukan undang-undang yang baru, UU Nomor 11 Tahun 2014, hakim mengacu pada restorative justice. Dimana konsep restorative justice ditujukan untuk mengembalikan keadaan seperti sebelum peristiwa pidana.
 
(ROS)



LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif