Guruh Soekarnoputra (Foto:Antara)
Guruh Soekarnoputra (Foto:Antara)

Guruh Soroti Musisi yang Jadi Aktivis Politik

Hiburan guruh soekarnoputra
Agustinus Shindu Alpito • 06 Februari 2015 11:01
medcom.id, Jakarta: Sejak masa Pemilu Presiden 2014, kancah perpolitikan Indonesia makin ramai. Salah satu penyebabnya adalah keterlibatan aktif berbagai elemen masyarakat dalam menyuarakan pendapat.
 
Tidak ketinggalan, para musisi dan pelaku seni lain secara nyata menyuarakan dukungan kepada calon presiden kala itu. Kini, para pelaku seni itu ikut mengawal pemerintahan dan cenderung vokal dalam mengkritisi kebijakan pihak pemerintah.
 
Guruh Soekarnoputra selaku pelaku seni, budayawan, sekaligus politikus memiliki opini tentang keterlibatan insan seni sebagai aktivis politik.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Peduli (terhadap politik dan pemerintahan) gitu setuju, tapi saya enggak setujunya, sebetulnya anak Indonesia enggak pernah mengalami pendidikan politik. Bahkan, aktivis politik pun banyak yang enggak mengerti politik, ideologi. Pokoknya keren lah kalau sudah begini-begini, protes-protes," ujar Guruh kepada Metrotvnews.com, di Jakarta, Kamis (5/2/2015).
 
Meski demikian, Guruh tidak menghakimi sikap itu sebagai hal yang salah. Menurutnya, demokrasi yang diusung Indonesia memungkinkan hal seperti itu terjadi.
 
"Mereka enggak salah. Sistem yang membuat mereka begitu," tegas putra Presiden Pertama RI Soekarno itu.
 
Sedangkan, perihal musisi yang secara langsung melibatkan diri ke dalam pemerintahan, Guruh juga menekankan bahwa hal itu tidak salah. Namun, kadang mereka belum memiliki bekal politik kuat.
 
"Indonesia itu kacau balau sekarang. Amburadul. Kacau balau itu mencakup segala bidang, lapisan masyarakat, termasuk seniman. Gara-gara pemilu langsung," tuding Guruh.
 
"Menurut, saya pemilu langsung itu liberalis. Maka terjadilah seperti sekarang. Semua orang bisa di DPR, di eksekutif, buat orang-orang Indonesia yang enggak pernah belajar politik dari awal (ikut terlibat di politik praktis), buat seru-seruan saja. Tapi dari seru-seruan itu bisa duduk di DPR, dan motivasinya macam-macam. Bisa berdedikasi untuk bangsa, bisa mencari nama atau duit. Dari situ seperti tren," urai Guruh.
 

(ROS)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif