Jeihan Sukmantoro di Hotel Ritz Carlton Jakarta, Minggu, 9 Desember 2018. (Foto: Medcom.id/Cecylia Rura)
Jeihan Sukmantoro di Hotel Ritz Carlton Jakarta, Minggu, 9 Desember 2018. (Foto: Medcom.id/Cecylia Rura)

Jeihan Sukmantoro Kembali Gelar Pameran Lukisan

Hiburan seniman
Cecylia Rura • 10 Desember 2018 10:51
Jakarta: Seniman Jeihan Sukmantoro kembali menggelar pameran lukisan di The Ritz Carlton Hotel, Jakarta, Minggu 9 Desember 2018. Seperti pada pagelaran sebelumnya, seniman kaliber internasional kelahiran Surakarta itu masih menampilkan sejumlah lukisan didominasi perempuan.

Gambaran ini sebagai bentuk kekaguman sang pelukis terhadap kaum perempuan.

"Saya pengagum perempuan. Menurut saya hidup ini diawali dan diakhiri oleh perempuan. Lihat kromosom. Perempuan XX. Laki-laki mengandung perempuan, XY. Terjadi kehidupan dimulai dari perempuan," papar seniman berusia 80 tahun itu, Minggu, 9 Desember 2018.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?



"Virus plasma dia membelah diri, dia mempunyai unsur perempuan. Laki-laki punya unsur perempuan tapi di perempuan enggak ada (unsur laki-laki)," sambungnya. Salah satu lukisan perempuan terbaru Jeihan adalah potret Mooryati Soedibyo, Presiden Direktur Mustika Ratu yang turut hadir dalam pameran lukisan Jeihan.


Jeihan bersama dengan Mooryati dan para kolega, saat pembukaan pameran di Hotel Ritz Carlton, Jakarta, Minggu, 9 Desember 2018. (Foto: Medcom.id/Cecylia Rura)

"Perempuan adalah ibu peradaban. Peran perempuan direduksi ke belakang, kemudian pendamping, pengiring. Maka saya banyak bicara pada para perempuan, jangan ikut-ikutan menuntut hak sama. Perempuan punya hak duluan daripada laki-laki. Sebab kemudian dipinjam atau diambil oleh laki-laki. Maka kalau menuntut mustinya minta kembali haknya bukan minta persamaan hak. Karena sejak semula perempuan punya hak duluan daripada laki-laki. Cuma dimanipulasi oleh laki-laki," paparnya lagi.

Jeihan memiliki ciri khas yang sudah tak asing di setiap goresan lukisan manusia yakni berupa warna mata hitam penuh. Dia memaknainya sebagai sebuah misteri kehidupan.

"Makna mata hitam dalam lukisan saya, sesungguhnya kita semua telah berjalan dalam kegelapan misteri. Kita tak pernah tahu apa yang terjadi nanti," tuturnya.


Lukisan potret Ibu Mooryati Soedibyo yang dilukis oleh Jeihan (Foto: Medcom.id/Cecylia Rura)

"Sejak pertama saya melukis usia 14 tahun. Yang persis realis selalu jadi masalah kok enggak bisa pas (gambar mata). Sekali sekali waktu kok malah pas. Kita gambar realis kok enggak kena-kena, selalu ngambang. Terus saya merenung. Saya jujur bukan mengada-ngada. Kita sebenarnya hidup dalam kegelapan misteri," kisahnya.

Pagelaran ini menurutnya mungkin akan menjadi pameran terakhir yang digelar. Sebab, di usia 80 tahun kini Jeihan tengah mengalami komplikasi penyakit. Salah satunya kanker tenggorokan.

"InsyaAllah, karena apa? Terus terang. Seperti saya katakan rupanya saya sendiri alami. Rupanya memang terwujud dalam diri saya. Puncak gerak diam, puncak tahu tak tahu. Saya sudah mulai melemah, melamban," tuturnya.

"Saya rindu 'pulang', maka saya ingin kira-kira InsyaAllah kalau saya melepas napas terakhir setelah salat dhuha. Hari terang, hati tenang, bunga kembang, burung terbang, aku pulang," pungkasnya.


 


(ASA)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi