Cholil Mahmud (Foto: Medcom.id/Shindu Alpito)
Cholil Mahmud (Foto: Medcom.id/Shindu Alpito)

Bagaimana Cholil "Efek Rumah Kaca" Melihat Dinamika Politik Jelang Pilpres 2019?

Hiburan Seleb Bicara Pilpres 2019
Agustinus Shindu Alpito • 30 Januari 2019 15:33
Jakarta: Bagi mereka yang apatis dengan dunia politik, tentu beberapa bulan terakhir terasa memuakkan. Media sosial riuh, banyak yang tak berpikir jernih dan mengabaikan etika sosial yang berujung para perdebatan tak berujung. Lepas dari kesesakkan dada melihat kekacauan itu, mau tidak mau itulah yang terjadi dan tidak bisa kita lepaskan dari keseharian kita.
 
Cholil Mahmud, vokalis Efek Rumah Kaca, merasa keriuhan dunia politik belakangan adalah hal yang patut disyukuri oleh kita semua sebagai warga negara yang berdemokrasi.
 
"Kalau menurut saya, jangan capai mendengar keributan politik. Itu berkah buat kita, karena kita sekarang punya suara. Memang bising, tetapi kalau nanti enggak punya suara akan rindu zaman ini," kata Cholil kepada Medcom.id, beberapa waktu lalu.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Cholil sendiri terbilang peka terhadap dunia sosial politik. Lewat lagu-lagu Efek Rumah Kaca, Cholil turut mengkritisi dan menumpahkan gagasannya tentang apa yang sedang terjadi. Tidak sampai di situ, Cholil juga mengenyam pendidikan tinggi yang berkaitan dengan seni dan politik.Dia mengeyam pendidikan S2 jurusan Arts Politics di New York University College of Arts & Science.
 
Meski menganggap partisipasi aktif masyarakat dalam kehidupan berpolitik sangat diperlukan, tetapi Cholil enggan mendeklarasikan dukungannya pada salah satu Capres.
 
"Gue akan ikut milih. Gue akan memanfaatkan hak suara, tetapi gue enggak tahu apakah memilih orangnya atau tidak."
 
Lebih jauh Cholil berpendapat, bila kita jenuh dan kemudian apatis dengan situasi demokrasi yang ada, barangkali kita tidak cocok tinggal dan hidup di negara yang menganut sistem demokrasi.
 
"Jangan capek, itu konsekuensi buat demokrasi. Sebenarnya kita bisa challenge yang kita pilih (jika kinerja wakil rakyat buruk) dengan cara demonstrasi. Kalau di luar negeri ada protes dengan cara forum meeting, pertemuan antara legislatif dan warga."
 
"Mereka (wakil rakyat) mengatur urusan kita, memang seperti itu karena ini sistem demokrasi. Kalau enggak mau politik masuk ke kehidupan sehari-hari, mungkin bisa (pindah atau tinggal di negara) dengan sistem kerajaan, rakyat enggak perlu mikir politik," lanjut Cholil.
 
Pemilu Pilpres 2019 akan digelar pada April mendatang. Beberapa kasus hukum terjadi berkaitan dengan kampanye. Salah satu kasus yang paling marak adalah penyebaran berita bohong alias hoaks yang menjatuhkan salah satu pihak peserta Pilpres.
 

 

(ASA)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif