Namun kerap kali warganet salah fokus. Mereka malah memuji kecantikan Nadya Hutagalung.
"Saya apresiasi pujian mereka, tapi saya tidak memikirkan terlalu banyak. Saya tidak bisa memaksa (kehendak) followers saya," kata Nadya dalam di Social Media Week (SMW) 2019, di Senayan City, Jakarta.
Sebagai influencer, konten-konten yang dihasilkan Nadya juga berkaitan dengan perhatian situasi terkini, masalah yang dihadapi dunia, menghubungkan orang dengan ide-ide, menyampaikan pendapat kepada pemerintah.
Menurutnya, Influencer memiliki pengaruh kuat untuk membawa perubahan, khususnya influencer perempuan. Sebab influencer perempuan merupakan konsumer terbesar.
"Konsumer untuk rumah tangga, anak-anak, permasalahan dalam rumah tangga, kebutuhan dapur, dan banyak lagi. Jadi kita punya banyak sekali power," ucapnya.
Influencer selalu identik dengan jumlah pengikut yang banyak dan memiliki ribuan like pada setiap postingannya. Hal tersebut menjadi modal untuk menarik perhatian dari brand. Namun, Nadya Hutagalung memiliki pendapat berbeda. Menurutnya setiap orang merupakan influencer, terlepas berapa jumlah pengikut dan like yang dimiliki.
"Semua orang bisa menjadi Influencer. Mau pengikutnya 5, 10, 15, 16, dan 20 namun tetap bisa menjadi bahan inspirasi bagi teman-temannya dan keluarga," ujar Nadya.
Dalam hal ini, Nadya menekankan untuk tidak sering memposting sebuah foto dengan kebahagiaan yang palsu. Dia menganjurkan untuk memposting sesuatu apa adanya.
"Terkadang kita memposting yang menunjukkan hidup kita sangat baik sekali. Semakin sering kita memposting sesuatu yang tidak benar (fake happiness), hal itu bisa menunjukkan bahwa dalam diri kita sebetulnya tidak bahagia,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News