Christine Hakim (Foto: Medcom/Purba)
Christine Hakim (Foto: Medcom/Purba)

Christine Hakim Sedih Ada Keluarga Ditolak Tinggal di Bantul karena Beda Agama

Hiburan christine hakim
Purba Wirastama • 02 April 2019 20:23
Jakarta: Aktris Christine Hakim mengungkapkan kesedihannya kala mendapat kabar bahwa ada keluarga yang ditolak tinggal di Dusun Karet, Bantul, karena bukan beragama Islam. Aktris kelahiran 1956 ini menyebut penolakan tersebut sebagai bentuk keangkuhan manusia.
 
Cerita ini diungkap Christine dalam gala premier film Bumi Itu Bulat di XXI Epicentrum Jakarta pada Selasa sore, 2 April 2019. Secara kebetulan, film tersebut punya sorotan tema yang sama mengenai toleransi dalam kehidupan bermasyarakat.
 
"Sangat memprihatinkan. Di daerah Bantul, ada satu dusun yang sejak 2015, kepala dusunnya membuat peraturan: tidak mau menerima pendatang baru yang beragama non Muslim," kata Christine.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Sedih enggak sih?" ungkap Christine sebelum tercenung cukup lama dan meneteskan air mata. Satu ruang bioskop mendadak senyap.
 
"Bisa dibayangkan, bagaimana kalau itu terjadi pada diri kita, saudara, orangtua, adik, ata anak, yang ditolak di negerinya sendiri," lanjutnya.
 
Aktris peraih delapan Piala Citra ini lantas bercerita mengenai perjalanan spiritualnya lewat film biografi sejarah Sang Kyai (2013). Lewat pendalaman peran sebagai Nyai Kapo, istri Hasyim Asy'ari, dia semakin paham bahwa akar peradaban Indonesia adalah perjalanan berabad-abad, jauh sebelum VOC dan pemerintah kolonial datang.
 
Saat ditemui lagi oleh wartawan, Christine menceritakan lebih lanjut betapa kasus intoleransi di Bantul mengusiknya. Dia tak habis pikir, penolakan warga beda agama sampai terwujud dalam peraturan desa.
 
Beda Agama, Sekeluarga Ditolak Tinggal di Bantul
 
"Sampai dibikin peraturan? Itu kan enggak boleh? Ini negara Pancasila dan keberagaman. Itu sama saja bikin negara di dalam negara. Setiap orang punya hak tinggal di manapun," ujar Christine.
 
"Sedih sekali. Menurut saya, itu kesombongan dan keangkuhan manusia. Binatang saja kita pelihara, masak kita enggak mau hidup berdampingan? Apa masalahnya? Kalau dia mau beda keyakinan, itu masing-masing manusia. Masak dianggap hina atau tidak baik sampai tak boleh masuk? Memangnya virus? Itu justru menunjukkan keimanan yang tidak kuat," ungkapnya.
 
Sebelumnya, Slamet Jumiarto bersama istri dan dua anaknya ditolak tinggal di Dusun Karet, Desa Pleret, Kecamatan Pleret, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Penolakan ini berdasar pada aturan dusun setempat yang menolak pendatang baru non Muslim.
 
Slamet menempati rumah kontrakan di Karet sejak 29 Maret 2019. Setelah menemui kepala RT hingga pejabat dusun dan menyerahkan salinan surat identitas, mereka ditolak tinggal di sana.
 

 

(ELG)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif