Kak Seto (Foto: Antara)
Kak Seto (Foto: Antara)

Alasan Kak Seto Lindungi Anak Ferdy Sambo

Medcom • 12 September 2022 13:46
Jakarta: Publik sempat heboh dengan aksi yang dilakukan oleh Kak Seto yang melindungi anak-anak Ferdy Sambo dan Putri Candrawathi.
 
Aksi Kak Seto ini menuai kontroversi dan mendapatkan kritik serta komentar pedas dari netizen. Ingin meredakan amarah publik, Kak Seto pun langsung mengungkapkan alasan melindungi anak-anak Sambo.
 
"Ya sebetulnya ini amanat Undang-Undang Perlindungan Anak. Di dalam Undang-Undang Perlindungan Anak yang terbaru no 35 tahun 2014 itu ditekankan anak-anak diperlukan perlindungan khusus, jadi misalnya orang tua tersangkut tindak pidana, nah terkadang anaknya ikut terseret, ikut dihujat 'Kamu anak pembunuh, kamu anak maling, dan sebagainya'. Nah itu harus dilindungi," ucap Kak Seto.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Siapa yang melindungi? Pertama adalah negara. Negara berarti pemerintah baik pusat maupun daerah, lalu juga lembaga negara, kan sudah ada membentuk Komisi Perlindungan Anak Indonesia atau KPAI. Kalau ada Polri, ya institusi Polri-nya sendiri," lanjutnya.
 
Tindakan itu dilakukan Kak Seto lantaran banyak yang merundung anak-anak dari Ferdy Sambo dan Putri Candrawathi. Kak Seto juga mengingatkan publik tentang Undang-undang perlindungan Anak.
 
"Jadi kami karena banyak masukan buat di LPAI ini ada anak butuh perlindungan khusus gimana LPAI. Nah kami ke sana sebenarnya ingin mendorong negara hadir termasuk institusi sendiri. Silakan ayahnya diproses secara hukum, tapi anak-anak ini dengar-dengar di-bully lewat media sosial dan sebagainya ini tolong juga diperhatikan, dilindungi sesuai amanat Undang-Undang Perlindungan Anak. Kami lembaga masyarakat yang peduli terhadap upaya perlindungan anak sudah cukup lama. Jadi kami mengingatkan itu," jelasnya.
 
Kak Seto melakukan pendekatan kepada anak Sambo dengan bertanya kondisi mereka di tengah kasus hukum orang tuanya. Tindakan itu dilakukan demi mencegah terjadinya tekanan batin pada anak hingga mereka bisa menjalani aktivitasnya sehari-hari.
 
"Ngobrol santai, lalu menanyakan perasaan apakah sedih, takut, tegang, marah, dan sebagainya. Kemudian dilakukan treatment psikologis yang membuat dia pede bahwa itu adalah kesalahan orang tua, tidak menyangkut diri anak sendiri. Jadi bisa mengkonsepkan diri yang positif, dan juga tetap melanjutkan aktivitas sehari-hari secara normal," ujar Kak Seto.
 
"Misal sumber dari tekanan dari media sosial, sementara tidak bermedsos dulu, puasa media sosial. Tapi kalau ternyata sumbernya dari lingkungan pendidikan formal sekolah, ya menghindarkan lingkungan yang tidak kondusif tadi, jadi tidak sekolah dulu, izin dulu. Pemerintah juga sudah punya mekanisme untuk anak-anak yang terkendala melanjutkan pendidikan formal itu bisa pindah ke jalur nonformal atau informal dengan sistem homeschooling," tutupnya.
 
(Raja Alif Adhi Budoyo)
 
(ELG)




LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif