Sebagai seorang ayah, Yama Carlos marah setelah dipisahkan secara paksa dengan sang anak kurang lebih tiga bulan. Sang istri hanya memberinya izin untuk berkomunikasi hanya melalui panggilan video.
"Berarti (sudah) tiga bulan (dari 21 Februari). (Kalau) video call pernah, tetapi itu juga baru dikasih akses (oleh Arfita) saat Marco (sang anak) berulang tahun, pada 23 April. Itu juga harus saya minta. Bukti chat-nya ada (saya punya). Setelah itu, (Arfita) menutup akses lagi," ungkap Yama Carlos.
Menurutnya sikap sang istri sangat berlebihan karena Arfita yang mengajukan banyak syarat sehingga ia merasa tidak terima. Padahal mereka masih suami istri di mata hukum dan sidang penentuan perihal hak asuh anak belum dilakukan.
"Status kami ini masih suami istri (di mata hukum)," tutur Yama Carlos.
Hingga saat ini, Yama Carlos dengan kuasa hukumnya, Ricci, masih belum ingin berbicara banyak tentang laporan itu. Ricci mengatakan tidak ingin pihak sang istri membaca strategi yang dilakukan olehnya dan Yama Carlos.
"Rahasia klien (Yama Carlos) kami, harus dijaga, dan juga mewakili itikad baiknya. Kalau kami ceritakan nanti lawan (pihak sang istri) bisa membaca strategi kami," tutur Ricci.
(Rafi Alvirtyantoro)
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News