Hanung Bramantyo Sebut Jokowi seperti Nelson Mandela
Jokowi-Ma'ruf menjalani pemeriksaan kesehatan, senin 13 Agustus 2018 di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Soebroto. (Foto: Antara Foto/Akbar Nugroho Gumay
Jakarta: Sutradara Hanung Bramantyo secara terbuka menyatakan pujian kepada kubu pengusung pasangan calon Joko Widodo dan KH Ma'ruf Amin untuk Pemilu Presiden 2019. Bagi Hanung, sosok Jokowi dalam bursa Capres-Cawapres ini mengingatkan dia akan Nelson Mandela, mendiang Presiden Afrika Selatan pertama yang berkulit hitam selama 1994-1999.

"Buat saya, pilihan Pak Jokowi terhadap Pak Ma'ruf Amin itu mengingatkan saya akan orang-orang seperti Nelson Mandela, (Abraham) Lincoln, bahwa para tokoh itu lebih mengedepankan kenegaraan, persatuan bangsanya dibandingkan dengan dendam pribadi," kata Hanung saat ditemui di kawasan Kuningan, Jakarta, Minggu malam, 12 Agustus 2018.

"Bayangkan, Nelson dipenjara 30 tahun oleh orang kulit putih, tetapi ketika dia menang, mestinya kan dia membalas, memenjarakan atau mengusir orang kulit putih dari Afrika, tetapi enggak, mereka (Nelson) merangkul. Itu yang dilakukan Lincoln juga," lanjutnya. 


Kesamaan yang dimaksud Hanung adalah merangkul kelompok yang awalnya seperti berlawanan. Sejak maju sebagai Capres pada Pemilu 2014, Jokowi dilekatkan dengan tudingan bahwa dia komunis dan anti-Islam. Namun lewat duet dengan Ma'ruf untuk Pemilu 2019 ini, tudingan tersebut ditepis. Apalagi, Ma'ruf adalah Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI). 

"Memilih KH Ma'ruf Amin, yang adalah simbol persatuan umat, (dari) Nahdlatul Ulama, yang memang diyakini secara istiqomah, mengedepankan NKRI. Sudah kelihatan dari cara mereka berpakaian, pakai jas, sarung, dan peci. Itu NU banget dan buat saya, Islam Indonesia ya seperti itu," ungkap Hanung. 

"Kyai Haji Ma'ruf Amin adalah orang yang sangat dihormati oleh kalangan Islam. Ketika beliau diangkat menjadi Cawapres mendampingi Pak Jokowi, betul-betul Pak Jokowi memikirkan strategi ke depan buat bangsa ini. Biar bagaimana pun, umat Islam tidak bisa dilupakan. Buat saya, pilihan Pak Jokowi cerdas di menit-menit terakhir," imbuhnya.

Hanung juga menyoroti wacana bahwa Mahfud MD sempat menjadi kandidat Cawapres mendampingi Jokowi. Hanung mengaku senang jika Mahfud terpilih karena Mahfud bisa mewakili Islam moderat sepertinya. Namun jika Mafhud maju, banyak pemilih kalangan Islam yang sulit dijangkau. 

"Ketika Pak Mahfud menjadi cawapres, grassroot tidak akan terambil. Jadi Pak Kyai Haji Ma'ruf Amin itu adalah ulama yang grassroot-nya masih (kuat)," tukas Hanung. 

Hanung menyatakan enggan menanggapi pasangan calon Prabowo Subianto - Sandiaga Uno. Menurut Hanung, tujuan pemilihan Sandiaga "sudah kelihatan". 

"Pak Sandiaga adalah pebisnis yang sangat mandiri, dari nol lalu bangkit, tetapi negara ini kan sebetulnya tidak hanya persoalan ekonomi. Paling penting bagi negara ini adalah bagaimana membentuk rasa percaya diri bangsanya. Ketika kita berhasil membentuk rasa percaya diri bangsa, bahwa kita mampu, ekonomi bisa melaju pesat," ujar Hanung.

Hanung adalah sutradara asal Yogyakarta kelahiran 1975. Dia telah membuat dua lusin lebih film panjang sejak 2004. Setelah Benyamin Biang Kerok dan The Gift, filmnya yang akan dirilis adalah Sultan Agung: Tahta, Perjuangan, Cinta. Dia juga sedang menyiapkan film adaptasi novel Bumi Manusia.
 



(ASA)

metro tv
  • Opsi Opsi
  • kick andy Kick Andy
  • economic challenges Economic Challenges
  • 360 360

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id