"Ketika ini coba saya rayakan kembali, anak bungsu saya, yang kebetulan jadi Menko PMK Mbak Puan bilang, 'Sudah enggak usah, ini kan tahun politik'. Saya bilang: kalau 17 lagi itu kan tidak akan ada lagi. Saya kan akan 17 lagi, ini kedua kalinya. Akhirnya Mbak Puan bilang, 'bolehlah'," kata Mega dalam pidato pengantar.
Beberapa pejabat negara datang sore itu. Ada Presiden Joko Widodo, Wakil Presiden Jusuf Kalla beserta istri Mufidah Kalla, serta sejumlah menteri seperti Susi Pudjiastuti, Tjahjo Kumolo, Ignasius Jonan, dan Basuki Hadimuljono. Lalu juga ada Budi Gunawan, Zulkifli Hasan, Oesman Sapta Odang, serta Tri Sutrisno, Hamzah Haz, dan Antasari Azhar.
Dalam pidatonya, Mega berharap pertunjukan teater ini menjadi semacam jeda bagi para pejabat publik dan tokoh partai untuk 'mencairkan pikiran', menyambut tahun kontestasi politik yang diprediksi akan menegangkan.
"Semoga pertunjukan ini bisa sedikit melupakan tahun politik ini, yang kayaknya akan menegangkan. Kayaknya. Tapi saya berharap akan berjalan seperti biasa," ucap Mega.
"Untuk Bapak Presiden, seperti tahun lalu, enggak usah buru-buru, supaya membuat Bapak, dan semua kalau ada di sini, ketua-ketua umum, mencairkan pikiran dulu untuk bisa nanti, kalau kita harus tempur, bisa tempur dengan baik untuk mengembangkan demokrasi," lanjutnya.
Pertunjukan teater dimulai sekitar pukul tiga sore, setelah diawali dengan penampilan paduan suara Dialita yang menyanyikan dua lagu ciptaan Fatmawati, istri Soekarno dan ibu dari Megawati. Ini merupakan hadiah khusus dari Guruh Soekarnoputra.
Jika tahun lalu teater ulang tahun Mega mengambil lakon Tripikala, drama teater kali ini berjudul Satyam Eva Jayate. Ungkapan ini kerap disebut Mega dalam acara-acara partai setidaknya sejak 2016. Berasal dari Majapahit abad ke-13 era Raden Wijaya, ungkapan ini kurang lebih berarti 'kebenaran yang akhirnya menang'.
"Saya ambil judulnya Satyam Eva Jayate. Nanti artinya apa, itu peristiwa abad ke-13, kira-kira tahun 1296 ketika seorang Raden Wijaya... sudah sampai situ saja," kata Mega sebelum buru-buru pindah ke topik lain karena tak mau membocorkan cerita dan pemaknaan.
"Mudah-mudahan akan mencari apa maksudnya karena tentu tidak akan tahu. Nanti kalau sudah tahu jalan ceritanya (bisa paham)," lanjutnya.

Sujiwo Tejo bersama para penari sanggar Bagong Kussudiarja membuka lakon teater Satyam Eva Jayate di Taman Ismail Marzuki, 23 Januari 2018, dalam perayaan ulang tahun ke-71 Presiden kelima Megawati Soekarnoputri. (medcom.id/purba wirastama)
Kisah Intrik Politik
Menurut keterangan resmi, lakon Satyam Eva Jayate garapan penulis-sutradara Agus Noor bercerita tentang perjuangan menegakkan kebenaran di tengah macam-macam kegilaan dalam masyarakat yang korup. Dua tokoh besar bersaing berebut kekuasaan. Beragam cara dilakukan supaya menang, termasuk fitnah dan intrik yang memecah masyarakat.
Sang Raja pun tersingkir karena situasi ini. Selama masa pembuangan di hutan, Raja tercerahkan dan sadar, bahwa puncak kekuasaan sesungguhnya bukan penguasaan dan kekuatan politik, melainkan kebijaksanaan yang berakar dari semangat untuk menyejahterakan rakyat.
Drama terbagi dalam lima babak. Babak pertama becerita tentang Sang Raja (Sudjiwo Tejo) yang bingung minta ampun karena Permaisuri (Happy Salma) tak lagi tersenyum. Rupanya mimpi buruk menghantui dia selama tujuh hari tujuh malam.

Inayah Wahid dan Gareng Rakasiwi bersama sejumlah aktor dalam babak ketiga lakon teater Satyam Eva Jayate di Taman Ismail Marzuki Jakarta, 23 Januari 2018, dalam perayaan ulang tahun ke-71 Presiden kelima Megawati Soekarnoputri. (medcom.id/purba wirastama)
Tak ada penjelasan yang membuat dia puas. Mulai dari Adipati (Luluk Sumiarso), Patih (Marwoto) dan asistennya (Susilo 'Den Baguse Ngarso' Nugroho), tiga kacung prajurit (Gareng Rakasiwi, Wisben Antoro, Joned), hingga dua Putrinya (Soimah, Sruti Respati) beserta Mbok Emban pengasuh (Inayah Wahid).
Seorang Resi penasihat (Butet Kartaredjasa), yang adalah kawan lama Raja, tiba-tiba datang bersama asisten pantomim-tunawicara (Andy Sri Wahyudi). Tanpa menyebut eksplisit, dia menafsirkan mimpi buruk Permaisuri dengan dua simbol gerakan dari asisten, tentang badai dan sepakat (musyawarah mufakat). Suatu hal bisa menjadi kebenaran asal sudah disepakati mayoritas, kelakar Butet.
Sementara itu, Patih memiliki rencana menyingkirkan Sang Raja demi naik takhta. Lalu di sisi lain, kedua Putri mengeluh soal Mbok Emban, yang selalu 'mendahului' mereka dalam situasi tertentu.

Butet Kertaradjasa dan Sujiwo Tejo dalam babak pertama lakon teater Satyam Eva Jayate di Taman Ismail Marzuki Jakarta, 23 Januari 2018, dalam perayaan ulang tahun ke-71 Presiden kelima Megawati Soekarnoputri. (medcom.id/purba wirastama)
Selama berdialog, mereka menyisipkan berbagai guyonan dan sindiran politik, mulai dari isu Pilkada, polemik kebijakan pemerintah, peristiwa besar, hingga anekdot soal beberapa figur politik. Sebagian adalah kelakar ringan yang sering kita dengar. Misal 'sana ambil sepedanya', status Inayah sebagai anak Presiden keempat Indonesia, atau perdebatan soal kata 'ibu' dan 'bapak'.
Ada pula yang lebih serius menyasar peristiwa belakangan, seperti rubuhnya museum bahari, polemik tim pembantu Gubernur DKI, atau soal pembangunan infrastruktur.

Soimah tampil menyanyi dalam jeda babak lakon teater Satyam Eva Jayate, sebagai bagian perayaan ulang tahun ke-71 Presiden kelima Megawati Soekarnoputri. (medcom.id/purba wirastama)
Setelah diselingi nyanyian Soimah, babak kedua terjadi di suatu hutan. Ada dua maling senior (Cak Lontong) dan junior (Insan Nur Akbar) yang baru saja merampok rumah lalu pamer barang curian. Cak Lontong, beradu dengan Akbar, melontarkan berbagai lawakan dan sindiran dengan 'logika' kata-kata khasnya.
Sang Resi bersama asisten juga datang ke mereka. Resi memberi peringatan kepada dua maling, bahwa ada pihak yang hendak menjadikan mereka kambing hitam atas kekacauan negeri. Resi memberi cincin akik yang bisa membuat mereka tak tampak, tapi sekaligus buta.

Butet Kertaradjasa, Andy Sri Wahyudi, Akbar, dan Cak Lontong dalam babak kedua lakon teater Satyam Eva Jayate, sebagai bagian perayaan ulang tahun ke-71 Presiden kelima Megawati Soekarnoputri. (medcom.id/purba wirastama)
Babak ketiga bercerita soal pemilihan pasangan. Mbok Emban datang lebih dulu dan membuka diri untuk digoda. Ada pula Patih bersama asisten. Terjadi adu rayu-merayu. Lalu kedua Putri pun datang dan ikut berebut memilih calon pasangan. Sruti mencela pilihan Soimah dan Inayah yang tampak tidak punya bibit-bebet-bobot, yaitu kacung pengawal yang diperankan Gareng.

Sruti Respati tampil menyanyi dalam jeda babak lakon teater Satyam Eva Jayate, sebagai bagian perayaan ulang tahun ke-71 Presiden kelima Megawati Soekarnoputri. (medcom.id/purba wirastama)
Pada akhirnya Sruti punya pilihan sama, kacung pengawal Gareng. Dibanding Patih petinggi istana, ketiga perempuan lebih menyukai sosok kacung. Simbol ini merujuk ke sosok orang biasa atau 'wong cilik'.
Babak keempat kembali ke dua maling. Kali ini Cak Lontong tampil dalam kostum kulit ular khas Si Buta dari Gua Hantu. Dengan cincin akik, mereka bisa pindah tempat dan seolah tak kelihatan.
Mereka berakhir di dalam kompleks istana dan mengganggu tiga kacung penjaga serta dua Patih. Namun penyusupan ini ketahuan pula. Patih menyuruh para prajurit menangkap mereka berdua atas tuduhan menyebarkan hoax atau kabar bohong.
Pengasingan
Babak kelima kembali ke Raja dan Permaisuri. Duduk di atas batu dalam keremangan, Raja tertunduk. Dia terusir dari kerajaan. Permaisuri yang awalnya gelisah atas mimpi, kini optimis bahwa suatu ketika kebenaran akan menang. Pamit kepada Permaisuri, Raja bermonolog tentang menjalani takdir.
"Kita menjalani takdir, meski kita tahu setiap impian untuk menghindari takdir adalah jalan menuju takdir," ucap Sujiwo.
.jpg)
Sujiwo Tejo, Happy Salma, Soimah, dan Sruti Respati dalam babak kelima lakon teater Satyam Eva Jayate, sebagai bagian perayaan ulang tahun ke-71 Presiden kelima Megawati Soekarnoputri. (medcom.id/purba wirastama)
"Tapi Diajeng, selama kau tersenyum, apapun pilihan kita untuk menghindari takdir, yang notabene akan menungguku, setidaknya aku akan melangkah dengan cintamu, dan dengan titi kala mangsa," tutupnya, yang langsung disambung nyanyian Titi Kala Mangsa.
Sujiwo berkidung dalam iringan piano. Para penari dari sanggar Bagong Kussudiardja bergerak mengelilingi dia dalam pakaian dan kain-kain hitam gelap. Soimah dan Sruti pun bergabung saat musik berubah menjadi jazz-rock-gamelan khas Kua Etnika.

Happy Salma dan Sujiwo Tejo dalam alam babak kelima lakon teater Satyam Eva Jayate, sebagai bagian perayaan ulang tahun ke-71 Presiden kelima Megawati Soekarnoputri. (medcom.id/purba wirastama
Para tamu bertepuk tangan meriah. Para pemain dan para penari kembali masuk ke panggung bersama penata artistik Ong Hari Wahyu dan sutradara Agus Noor untuk memberi salam penutup.
Megawati Soekarnoputri berjalan naik ke atas panggung, menyalami mereka satu per satu. Mega didampingi Presiden Joko Widodo, yang juga ikut menyalami satu per satu sebelum kemudian bertolak menuju Senayan untuk meresmikan hasil renovasi Istora Gelora Bung Karno. Bapak Presiden, Wakil Presiden, serta para menteri benar-benar 'beristirahat' selama tiga jam pada sore yang sibuk itu.

Presiden Joko Widodo dan Megawati Soekarnoputri menyalami para pemain, penari, dan kru usai pagelaran Teater Kebangsaan Satyam Eva Jayate di Taman Ismail Marzuki, 23 Januari 2018, dalam rangka perayaan ulang tahun ke-71 Megawati Soekarnoputri. (medcom.id/purba wirastama)
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News