Tiap hari bilang dicurangi tanpa cukup bukti sgt bahaya. Rakyat terpecah sejak marak kampanye hitam, hoax. Daya nalar masyarakat rusak. Fanatisme meningkat. Kalo udah ricuh ga bisa cuci tangan bilang 'itu bukan massa kami'. Krn mereka yg bakar massa dgn menyulut keberpihakan buta
— Joko Anwar (@jokoanwar) May 22, 2019
"Tiap hari bilang dicurangi tanpa cukup bukti sangat bahaya. Rakyat terpecah sejak marak kampanye hitam, hoax. Daya nalar masyarakat rusak. Fanatisme meningkat. Kalau udah ricuh enggak bisa cuci tangan biang 'itu bukan massa kami'. Karena mereka yang bakar massa dengan menyulut keberpihakan buta," tulis Joko Anwar melalui akun Twitter, Rabu, 22 Mei 2019.
Komentar ini merujuk pada kubu Paslon 02 yang kurang sepakat dengan keputusan KPU RI dan menduga adanya tindak kecurangan untuk memenangkan Paslon 01. Sejak kemarin, ratusan massa dari berbagai daerah datang ke Jakarta meramaikan aksi people power.
Pada cuitan selanjutnya, Joko Anwar meresahkan aksi demonstran yang ikut mengganggu rutinitas warga sipil.
"Naif banget (atau jahat banget) kalau bilang bisa aksi damai," tulis Joko Anwar.
Joko Anwar berpendapat, aksi massa dapat diredam dengan suara pemimpin yang meminta mereka percaya dengan proses konstitusional.
Menilai aksi demonstran yang mudah tersulut, Joko Anwar memberi saran untuk cerdas mengakses informasi sebanyak-banyaknya di era digital agar tidak mudah percaya atau ikut menyebarkan pesan berantai palsu dalam media sosial.
Makanya, cobalah akses informasi termasuk berita dengan seimbang untuk tiap hal. Apapun yang kita percaya, siapapun yang kita dukung. Pikiran terbuka bikin hidup kita sebagai manusia lebih indah, dinamis, kreatif, dan bikin bangsa lebih maju.
— Joko Anwar (@jokoanwar) May 22, 2019
"Makanya, cobalah akses informasi termasuk berita dengan seimbang untuk tiap hal. Apapun yang kita percaya, siapapun yang kita dukung. Pikiran terbuka bikin hidup kita sebagai manusia lebih indah, dinamis, kreatif, dan bikin bangsa lebih maju," tulis Joko dalam cuitan selanjutnya.
Ratusan demonstran dari berbagai daerah mulai mendatangi Ibu Kota sejak Selasa, 21 Mei 2019. Aparat mulai berjaga di kawasan Bawaslu, Tanah Abang, hingga Petamburan sejak dini hari. Puncak kericuhan terjadi saat pembakaran Asrama Brimob di Petamburan dan semprot gas air mata di ruas Jalan Wahid Hasyim.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News