Lewat Titi Qadarsih, Slamet Rahardjo Belajar Memahami Alam
Slamet Rahardjo (Foto: Medcom/Purba)
Jakarta: Aktor Slamet Rahardjo mengenal dan pernah berkarya bersama mendiang Titi Qadarsih di kelompok Teater Populer bentukan Teguh Karya. Bagi Slamet, Titi adalah sosok yang serius, tetapi punya cara berpikir sederhana.

Slamet melayat ke pemakaman Titi di TPU Tanah Kusir Jakarta, Selasa, 23 Oktober 2018. Ditemui wartawan usai pemakaman, Slamet menceritakan pengalamannya mengenal Titi saat masih aktif di teater.

"(Titi) orangnya serius, tetapi cara berpikir sederhana sehingga kami bisa paham yang dia mau. Misalnya, terlambat latihan di Teater Populer. Tahu dong, Teguh Karya seperti apa galaknya," kata Slamet.


Begitu datang, Titi mengaku terlambat karena ketiduran. Teguh memarahi dia dan bilang bahwa orang-orang sudah menunggu. Namun Titi tetap bersikeras bahwa "ketiduran" bukan salah dia, tetapi "panggilan alam". Menurut Slamet, Teguh tidak bisa mengimbangi sikap Titi itu

"Tahu enggak, Pak Steve (panggilan Teguh)? Tidur itu panggilan alam. Jadi jangan salahkan saya. Salahkan alam, itu panggilan alam," kata Slamet menirukan Titi.

"Teguh diam. Nah Teguh Karya kalah juga dengan logika-logika sederhana dari Titi, tetapi benar. Kalau yang lain pakai alasan kiri-kanan depan belakang, macet dan segala macam. Kalau macet, Teguh bilang, 'Monyet juga tahu Jakarta macet,'" lanjut Slamet.

Slamet juga bercerita, Titi mengenalkan dia untuk memahami hubungan manusia dengan alam. Salah satu momen berkesan, Slamet pernah menemani Titi berjalan kaki dari Hotel Indonesia (HI) ke Monas di tengah guyuran hujan tanpa payung atau jas hujan.

Slamet besar di Yogyakarta dan pindah ke Jakarta setelah lulus SMA. Selama sekolah di Akademi Teater Nasional Indonesia (ATNI) Jakarta, Slamet ikut mendirikan Teater Populer bersama Teguh, yang sehari-hari beraktivitas di Hotel Indonesia.

"Saya menemani Titi kalau hujan deras. Kami jalan dari HI ke Monas di bawah hujan deras. Dalam dinginnya air hujan dan basah kuyupnya kami, kami mulai berdialog dengan alam. Yang mengajari itu Titi Qadarsih," ungkap Slamet yang mengaku tumbuh besar dan terbiasa di lingkungan kota.

Momen berkesan lain adalah soal "pemahaman artistik" yang ditularkan Titi kepada Slamet. Slamet pernah berkomentar bahwa sebagai anak menteri, Titi tidak seharusnya memakai baju berbahan belacu yang murah. Titi adalah putri mendiang Mohammad Sardjan, Menteri Pertanian Indonesia dalam era Kabinet Wilopo.

"Saya pernah bilang, 'Kamu kan anak menteri, baju kok belacu semua, belacu kan murahan.' 'Belacu itu artistik.'  Nah, saya baru tahu yang begitu dari dia," ujar Slamet.

Slamet dan Titi lebih sering bekerja sama di panggung teater. Salah satu drama yang pernah mereka mainkan adalah Dokter Gadungan dari naskah karya Moliere. Pekan lalu sebelum Titi meninggal, Slamet sempat menjenguk Titi di Rumah Sakit.

"Titi tetap Titi, enggak mengada-ada, senyum, membuat kita senang," pungkas Slamet.

Titi meninggal pada Senin, 22 Oktober 2018 dalam perjalanan pulang ke rumah sehabis menjalani perawatan intensif di RSUP Fatmawati. Setelah perawatan dua pekan ini, baru diketahui bahwa Titi memiliki kanker stadium empat di usus. Sejak lima bulan sebelumnya, Titi telah mengeluhkan sakit di perut.

Titi meninggal dalam usia 73 tahun.  


 



(ELG)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id