Dalam keterangan resmi, SAFEnet melihat label pornografi untuk unggahan foto Tara Basro merupakan tindakan abai dan tak memerhatikan konteks atas ekspresi yang dimaksudkan Tara Basro. Kepala Sub Divisi Digial at Risks SAFEnet yang fokus pada isu kekerasan berbasis gender online, Ellen Kusuma mengatakan ini tindakan berbahaya karena dapat menurunkan rasa percaya diri perempuan.
"Terus dengan pernyataan tidak sensitif seperti itu, datang dari institusi negara pula, selain mencekal suara perempuan, malah melanggengkan pemikiran bahwa tubuh perempuan adalah objek semata. Utamanya objek seksual. Dianggap sebagai objek pornografi. Mestinya dilihat konteksnya juga, tidak bisa hanya gambar saja," kata Ellen Kusuma dalam keterangan tertulisnya, dikutip dari situs resmi SAFEnet, Kamis, 5 Maret 2020.
Ellen Kusuma turut mengkritisi pasal karet yang digunakan kepada Tara Basro. Menurutnya, Pasal 27 Ayat 1 UU ITE dinilai bias gender. Pasal ini pernah digunakan untuk menekan YouTuber Kimi Hime karena mengunggah konten yang dianggap vulgar hingga konten tersebut harus dihapus.
"Selalu tubuh perempuan yang diatur-atur atau perempuan yang terkena dampak negatif lebih besar bila terkait dengan isu kesusilaan atau pornografi," kata Ellen.
Menurut Ellen Kusuma, unggahan body positivity yang disuarakan Tara Basro adalah hal baik yang dapat memulai diskusi positif. Dia juga menilai hal ini mengedukasi publik agar tidak melakukan kekerasan berbasis gender online seperti body shaming. "Warganet menanggapi postingan Tara dengan positif, melihatnya sebagai wujud self-love (terjemahan: mencintai diri sendiri), dan tidak melihatnya sebagai pornografi. Kominfo malah begini," kata Ellen.
SAFEnet memaparkan empat poin memperjuangkan hak-hak digital warga, termasuk untuk Tara Basro antara lain:
1. Menyayangkan pernyataan gegabah Kominfo yang melabeli postingan Tara Basro, yang menyuarakan body positivity, sebagai bentuk pornografi.
2. Mendesak pemerintah untuk mengkaji ulang Pasal 27 Ayat 1 UU ITE yang tidak memiliki kejelasan unsur sehingga bersifat multitafsir dan pada implementasinya memiliki bias gender yang merugikan perempuan.
3. Mendorong pemerintah untuk memperhatikan dan melindungi hak-hak perempuan dalam bersuara di dunia maya.
4. Menganjurkan warganet untuk selalu mencerna konten di media sosial dengan melihat konteksnya juga.
SAFEnet adalah badan hukum perkumpulan yang terdaftar dengan nama Pembela Kebebasan Asia Tenggara berbasis di Denpasar, Bali. Menurut situs resmi SAFEnet, pendirian badan ini diperkuat dengan Surat Keputusan Menteri Hukum dan HAM Republik Indonesia Nomor : AHU-0000401.AH.01.07.Tahun 2019 berdasarkan Akta Notaris Nomor 4 Tanggal 11 Januari 2019 yang dibuat Oleh I Gusti Agung Bagus Mahapradnyana, SH, M.Kn.
SAFEnet didirikan pada 27 Juni 2013 oleh delapan warga Bali yakni Donny BU, Eddy Prayitno, Anton Muhajir, Indriatno Banyumurti, Habib Almascatie, Nike Andaru, Ade Fadli, dan Damar Juniarto.
Sementara ribut-ribut soal pernyataan Kominfo, Tara Basro tampak terus mengunggah kampanye body positivity melalui Instagram Stories. Aktris berusia 29 tahun itu mengunggah stories dari pengguna lain yang terinsprasi atas aksi Tara Basro di media sosial.
Body positivity adalah penyuaraan tentang pandangan positif soal tubuh bahwa semua orang berhak memiliki citra tubuh yang positif, terlepas dari bagaimana masyarakat dan budaya populer memandang bentuk, ukuran, dan penampilan ideal. Tujuan body positivity umumnya menentang masyarakat memandang tubuh secara ideal dan mengampanyekan penerimaan semua bentuk badan.
Dalam keterangan panjang itu, Tara Basro memaparkan sikapnya yang dulu mengikuti arus saat merebak perbincangan tentang hal jelek tubuh seseorang. Kini, dia mengajak orang lain untuk bersikap positif dan bersyukur.
"Andaikan kita lebih terbiasa untuk melihat hal yang baik dan positif, bersyukur dengan apa yang kita miliki dan make the best out of it daripada fokus dengan apa yang tidak kita miliki," tulis aktris pemilik nama Andi Mutiara Pertiwi Basro itu.
Tara Basro tampak riang dan bangga dengan bentuk tubuhnya dalam potongan baju minimalis menampakkan lekuk tubuh seperti lengan, perut, dan paha. "Setelah perjalanan yang panjang gue bisa bilang kalau gue cinta sama tubuh gue dan gue bangga akan itu. Let yourself bloom," tulisnya.
Unggahan ini mendapat apresiasi dari warganet serta sejumlah kalangan artis antara lain Putri Marino, Marion Jola, Hannah Al Rashid, Tatjana Saphira, Monita Tahalea, Sheryl Sheinafia, Gina S. Noer, Ernest Prakasa, Chicco Jerikho, dan beberapa artis lain.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News