The Sigit (Foto: ANTARA FOTO/Fikri Yusuf)
The Sigit (Foto: ANTARA FOTO/Fikri Yusuf)

Cara The S.I.G.I.T Tunjukkan Nasionalisme

Hiburan the sigit
Agustinus Shindu Alpito • 21 April 2016 18:22
medcom.id, Jakarta: The S.I.G.I.T akan menjalani tur Australia pada 27 April hingga 8 Mei 2016. Secara tidak langsung, apa yang dilakukan grup rock asal Bandung ini mengangkat nama Indonesia.
 
Mereka memperlihatkan bahwa musik rock modern juga berkembang di negara yang kerap dicap identik dengan sesuatu yang berbau tradisional.
 
Penampilan musisi di panggung internasional kerap dimanfaatkan untuk membawa pesan budaya, terutama lewat atribut visual. Batik atau bahkan pakaian daerah misalnya. Tetapi, The S.I.G.I.T tidak memilih cara itu untuk mengenalkan Indonesia.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Buat saya pribadi, (panggung musik rock) bukan tempatnya. Menurut saya, White Shoes & The Couples Company yang tepat (sukses) melakukan itu, dengan gaya pakaian tahun 60-an dan 70-an yang kental nuansa Indonesia juga. Tetapi yang ditangkap orang asing juga bukan “Indonesia-nya” tetapi nobelty-nya. Bagi saya yang menentukan citra Indonesia bukan soal penampilan,” kata Rekti Yoewono, vokalis dan gitaris The S.I.G.I.T, saat dihubungi Metrotvnews.com, beberapa waktu lalu.
 
Sebagai seorang musisi rock, Rekti bisa memilah apa yang tepat dilakukan di atas panggung.
 
"Buat saya, panggung bukan sarana yang tepat. Fungsi band di kala manggung merepresentasikan Indonesia dengan porsinya masing-masing. Tidak bisa dipungkiri, saya yang hidup di Indonesia, ketika di atas panggung baik dari gesture atau musik pun mencerminkan ke-Indonesiaan itu," katanya.
 
"Dan itu yang terjadi pada kami. Banyak (orang asing) bertanya-tanya, ‘Kok rock-nya aneh?’ dari situ akan mulai perbincangan-perbincangan (yang lebih dalam). Dari situ baru mengenalkan ke-Indonesia-an. Kalau memaksakan ke-Indonesia-an dengan visual di atas panggung, saya rasa enggak. Kami sudah merasa Indonesia banget."
 
"(Lagipula) Kurang tepat juga karena saya bukan penggiat budaya seni tari atau seni musik tradisional, maupun penggiat pakaian tradisional. Seharusnya yang mengemban tugas memamerkan itu adalah mereka-mereka yang berkecimpung di dalamnya," jelas Rekti.
 
Menunjukkan unsur lokalitas secara visual saat tampil di luar negeri sebenarnya sah saja. Cara ini pernah dipilih grup punk rock asal Bali, Superman Is Dead (SID), ketika menjalani tur di Amerika Serikat pada tahun 2009.
 
Saat itu, SID berkeliling arena festival Vans Warped Tour dengan mengenakan pakaian adat Bali, sembari mengumumkan waktu dan panggung mereka akan tampil. Cara ini terbukti sukses membuat penonton festival penasaran hingga akhirnya mencoba menelisik siapa sebenarnya grup yang tampil nyentrik itu.
 
Secara musikalitas, The S.I.G.I.T terbilang luwes dalam mengksplorasi unsur Indonesia. Lagu Red Summer dalam album Detourn misalnya. Meski lirik lagu itu berbahasa Inggris, mereka menempelkan nuansa nyanyian-nyanyian adat Papua. Di luar dugaan, nyanyian adat yang dipadu musik rock mampu memberi suasana memesona pada lagu.
 
The S.I.G.I.T bukan tanpa alasan selalu melahirkan lagu berbahasa Inggris. Mereka tidak menutup diri soal cara penulisan lirik.
 
"Kearifan lokal bisa digali dari aspek yang lain. Menurut saya, nasionalisme tidak melulu soal bahasa, tetapi perasaan. Kami sedang mencoba ke arah sana (menulis lirik lagu bahasa Indonesia), bukan kami tidak bisa, tetapi pas dicoba merasa kurang pas. Percuma juga kalau kami tidak menikmati. Sampai saat ini bagaimana kita memilih apa yang bisa kami nikmati," terangnya.
 
Di Australia, The S.I.G.I.T memiliki tiga agenda berbeda, yaitu tampil di festival musik Cherry Rock, menjadi pembuka konser Dallas Crane, dan tur bersama Devil Electric. Kota-kota yang akan mereka sambangi adalah Sydney, Newton, Newcastle, Melbourne, dan Wollongong.
 

 

(ELG)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif