Guntur Soekarno yang akrab disapa Mas Tok adalah kakak kandung Presiden kelima RI Megawati Soekanoputri, ayah dari anggota DPR RI Puti Guntur Soekarno dengan ibundanya Henny Guntur Soekarno (sang Ratu Kebaya). MURI sendiri dikenal sebagai sebuah lembaga pencatat prestasi superlative di Indonesia.
Bentuk Band dan Merekam Piringan Hitam
Kali ini, MURI yang biasa memberikan penghargaan dan apresiasi kepada seseorang atau kelompok masyarakat yang dinilai dan pantas untuk mendapatkan anugerah dan penghargaan karena mencatat berbagai capaian, karsa, dan karya superlatif, spektakuler, terunik, atau yang pertama kali diciptakan di Indonesia, mengakui rekor MURI kepada Guntur Soekarno. Kategori karya yang dicapai Guntur Soekarno ini dinilai pantas dan dicatat bersifat unik, pertama kali sehingga karya itu bisa diraih dalam kondisi politik, ekonomi dan keamanan yang saat itu boleh dinilai tak mudah dijalani. Anugerah rekor akan diberikan langsung oleh Jaya Suprana pada Kamis, 16 Juli 2026 di Museum Rekor Dunia-Indonesia (Gedung Jaya Suprana Institute).
Tak pernah mikir apalagi mengejar rekor
Bagi Mas Tok, panggilan akrab Guntur, pemberian anugerah tersebut disambut dengan baik seraya mengucapkan terima kasih. "Buat saya Rekor Muri ini mengejutkan dan surprise karena saya dari dulu tidak pernah memikirkan rekor-rekoran tersebut apalagi mengejarnya. Saya berkarya saja, main musik, cari duit, dan bahagia," ujar Mas Tok mengomentari pemberian Rekor MURI 2026 tersebut.Meskipun ayahnya seorang Presiden Pertama Republik Indonesia, Ir Soekarno bukanlah orang yang banyak duit. Soekarno justru miskin dan terkadang tak punya uang. Karena itu, ia tak bisa memberikan uang lebih untuk pegangan anak sulungnya Guntur Soekarno ketika diterima masuk ke Jurusan Tehnik Mesin, Institut Teknologi Bandung (ITB), Jawa Barat, pada 1962. Karena tak mau merecoki ayahnya, Mas Tok pun ingin mencari uang tambahan.
Selain mengisi bakat dan senang bermain musik, tujuannya bermain musik adalah untuk mencari tambahan uang untuk kuliah dan tinggal di Bandung.
.jpeg)
"Bapak di Jakarta, dan uang yang dikirimnya sama kecilnya dengan uang yang diberikan ayahnya dahulu kepada bapak. Saya lupa jumlahnya tetapi sama kecilnya dengan uang saku yang diterima bapak saat nge-kos di Bandung dan kuliah di THS," imbuh Mas Tok.
Selain untuk tambahan uang jajan, Mas Tok juga menyalurkan bakat musiknya dengan bergabung dengan kelompok band Alulas, yang dipimpin Syamsuddin. Salah satu musisi yang kemudian menjadi personel Group Band Bimbo. Usai melalui berbagai tes memainkan sejumlah alat musik, mas Tok juga dites vokal membawakan sebuah lagu. Lolos semuanya, jadilah mas Tok personel musik Alulas Band, sebuah kelompok musik yang dikenal di Bandung pada 1962.
.jpeg)
Dari Alulas Band, Mas Tok mempelopori berdirinya kelompok musisi baru yang kemudian dinamakan Aneka Nada. Selain Syamsuddin, personel lainnya adalah Iwan Abdurachman, Iman Djumaedi, Memet Slamet, Yessy Wenas dan Alphonse (yang sekarang tinggal di Spanyol). Personel band lainnya Guntur mengaku lupa karena sebagian sudah ada yang meninggal dunia. Aneka Nada saat itu menjadi wadah kreativitas musik bagi anak muda dan seniman dimasanya itu.
Band ini juga didukung oleh sejumlah musisi dan tokoh yang kelak menjadi legenda, seperti Syamsuddin. Iwan Abdurachman dan Iman Djumaedi. Kelompok band-nya juga cukup disegani dan sering tampil dalam berbagai acara serta mengiringi kegiatankegiatan seni.
Dengan grup musik barunya itu, Mas Tok dan Aneka Nada nya bisa tampil di berbagai acara di antaranya di hotel-hotel di Bandung dan tempat pertunjukan lainnya. Sejumlah lagu lawas era 1962-1963 pun mengalir dibawakan Mas Tok dan kawan-kawannya. Terkadang Mas Tok memainkan alat musik gitar dan bergantian menabuh drum dan juga vibraphone dengan personel lainnya.

Ia juga sempat menciptakan beberapa lagu, di antaranya berjudul "Masa Lalu", yang menceritakan temannya yang ditinggal pergi sang kekasih. Sebuah musik instrumentalia juga berhasil diciptakan lewat petikan gitarnya, dan dibawakan Aneka Nada.
Mas Tok dan Aneka Nada tak sekadar tampil menghibur. Ia juga mengajak personel group band-nya agar sejumlah lagu yang dibawakan bisa direkam dalam piringan hitam. Sebelum merekam lagu-lagu dan musiknya, Mas Tok juga membentuk grup musik yang dimainkan hanya oleh empat personel band. Namanya, Kwartet Bintang. Personelnya, hanya empat yaitu Mas Tok sendiri, Memet Slamet, Yessy Wenas da Dodo Rukanda Ishak. Bersama Kwartet Bintang dan Aneka Nada pun, Mas Tok akhirnya berhasil merekam dalam piringan hitam.
Dengan piringan hitam yang dirilis itulah, Aneka Nada dan Kwartet Bintang menjadi salah satu pelopor grup musik modern saat itu yang turut mewarnai sejarah musik pop di Indonesia di masa tersebut. Sebagai apresiasi dan penghargaan terhadap putra Presiden Pertama yang membentuk Grup Band dan Karyanya direkam dalam piringan hitam, Guntur Soekarno kini berhak menyandang gelar Rekor MURI atas dedikasi, karya dan bakat musiknya.*
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda