Sahabat almarhum Djaduk, Bambang Paningron (Foto: Medcom/Patricia Vicka)
Sahabat almarhum Djaduk, Bambang Paningron (Foto: Medcom/Patricia Vicka)

Kisah Djaduk Ferianto Jatuh Bangun Populerkan Ngayogjazz

Hiburan djaduk ferianto ngayogjazz
Patricia Vicka • 15 November 2019 13:02
Yogyakarta: Kreatif, out of the box, penuh inovasi dan suka guyon selalu lekat dengan sosok almarhum Gregorius Djaduk Ferianto. Pagelaran musik Ngayogjazz adalah salah satu hasi karya gemilang dan kerja keras seniman serba bisa ini. Djaduk adalah salah satu pencetus festival musik jazz yang populer ini.
 
Sahabat almarhum, Bambang Paningron berkisah ide awal pembentukan event ini tercetus sekitar tahun 2006. Saat itu Djaduk ingin ada sebuah event jazz yang tak biasa. Kegiatan musik Jazz yang tidak kaku dan bisa dinikmati masyarakat luas.
 
"Ngobrol awalnya di rumah saya. mas Djaduk ngobrol santai sama teman-teman. Dari sebuah gagasan sederhana kemudian jadi gagasan luar biasa," kata Bambang usai jumpa pers Ngayogjazz 2019 di Sleman, Yogyakarta, Kamis 14 November 2019.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Djaduk kemudian mengumpulkan para seniman dan musisi yang ingin merealisasikan idenya tersebut. Terbentuklah tujuh panitia inti Ngayogjazz. Djaduk menjadi motor penggerak acara ini. Lokasi di desa terpencil dipilih untuk membentuk image "wong cilik dan merakyat".
 
Desa dijadikan sebagai ruang berkesenian di mana ada kolaborasi pertunjukan seni tradisi dengan jazz. Hal inilah yang kemudian menjadi keunikan dan kekhasan Ngayogjazz.
 
"Saat bikin Ngayogjazz, kita ingin jazz kembali bisa dinikmati rakyat banyak. Maka kami mengajak musisi lain di luar genre jazz untuk tampil. Penonton enggak pernah kami pungut bayaran sepersenpun," kata pria yang sudah berpuluh-puluh tahun bersahabat dengan almarhum.
 
Lahirlah Ngayogjazz pertama tahun 2007. Bambang menjelaskan Djaduk tak main-main dalam membuat sebuah acara. Ia selalu totalitas menampilkan karya seni dan budaya baru disetiap acara Ngayogjazz.
 
Lambat laun Ngayogjazzpun bertumbuh. Seniman dan musisi yang ikut semakin banyak. Para seniman ini tidak hanya unjuk gigi. Namun ikut membantu menjadi panitia dan relawan untuk memopulerkan Ngayogjazz. Satu per satu donatur berhasil digaet panitia untuk menyemarakkan acara ini.
 
"Mas Djaduk itu orangnya super aktif di banyak kegiatan seni. Kalau bikin acara harus puol dan perfect. Makanya dia latihan berulang-ulang sebelum acara," kata dia.
 
Berkat semangat dan ruh seni dan budaya kuat Djaduk, Ngayogjazz tak hanya sekedar event musik namun tumbuh menjadi wadah para seniman dan budayawan untuk belajar dan mengasah diri. Hal ini memang disengaja untuk lebih membuka ruang ekspresi yang beragam dan luas dan diharapkan menjadi wadah persemaian para musisi-musisi muda berbakat.
 
Ngayogjazz juga menjadi ajang untuk bertukar dan membagikan pengalaman antara musisi- musisi yang lebih senior kepada generasi di bawahnya melalui kegiatan workshop.
 
Tak hanya itu, Ngayogjazz pun sukses menampilkan ratusan musisi dan seniman dalam dan luar negeri. Tercatat musisi-musisi jazz Internasional seperti Toninho Horta, Harri Stojka, Mezcal Jazz Unit, Jen Shyu, Jerry Pelegrino, Erik Truffaz, Brink Man Ship, Baraka, dan D’Aqua pernah berpartisipasi di Ngayogjazz.
 
Jarak antara panggung dan penonton yang dekat dan tanpa sekat menjadi ciri tersendiri di Ngayogjazz. Interaksi yang hangat selalu terjadi antara musisi dengan penonton. Dan setiap tahunnya penikmat Ngayogjazz mampu mencapai puluhan ribu penonton.
 
Walau sudah menjadi acara besar, tim panitia pernah mengalami masa down. Salah satunya ketika sponsorship masih minim di beberapa minggu jelang acara. Bambang mengatakan, walau merasa was-was, Djaduk tak pernah merasa pesimis. Ia tetap yakin acara kan berjalan meski minum dana.
 
"Menurut Mas Djaduk acara yang benar-benar digarap serius, pasti akan mendatangkan hal-hal baik. jadi jangan pernah khawatir kekurangan sponsorship," katanya.
 
Kini usai kehilangan motor penggerak, Ngayogjazz terasa lesu, bagai mobil tanpa bensin. Namun para seniman bertekad tetap melanjutkan Ngayogjazz di tahun ini. Tentunya ada beberapa konsep acara yang diubah untuk mengganti bagian yang ditinggalkan Almarhum.
 
"Memang susah mencari pengganti sosok beliau. Tapi kami akan tetap menjaga semangat Mas Djaduk dalam event Ngayogjazz untuk mengadakan event musik yang berbudaya," tuturnya.
 
Kepala Dinas Pariwisata DIY Singgih Raharjo mengatakan, sangat kehilangan sosok Djaduk Feriyanto. Tak dapat dipungkiri event Ngayogjazz berdampak sangat positif bagi penyelenggaraan event-event budaya dan musik di Jogja. Kini event musik jauh lebih berbudaya dan terasa istimewa.
 
"Semoga ke depan akan muncul Djaduk-Djaduk baru yang penuh inspirasi dan semangat berbudaya dalam seni," pungkas Singgih.
 

 

 

(ELG)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif