Mereka adalah Radja, Wali, Setia Band, dan Babang Andika (eks-vokalis Kangen Band). Pada pagelaran sebelumnya, Synchronize memang dikenal menghadirkan inovasi-inovasi yang belum pernah dihadirkan pada festival musik lain. Misalnya, mendatangkan Raja Dangdut Rhoma Irama di antara ratusan penampil dari arus "side-stream."
Pada tahun lalu, Synchronize juga mendatangkan NDX AKA dan berhasil membuat para pecinta musik "indie" berjoget dengan lagu berbahasa Jawa. Lalu, apa alasan Synchronize pada tahun ini mendatangkan band-band Melayu?
"Sebenarnya, objektifnya Synchronize pengin meng-capture musik Indonesia secara keseluruhan. Gue tidak ingin melewatkan momen ketika band Melayu eksis di industri."
"Tujuan gue memfasilitasi guilty pleasure orang-orang," kata Kiki Aulia alias Ucup, Program Director Synchronize Festival, dalam jumpa pers di kawasan Kemang, Jakarta Selatan, pada Rabu, 24 April 2019.
Ucup menambahkan, Synchronize memiliki tiga pakem utama; nostalgia, tren hari ini, dan next big thing. Tiga pakem itu yang nantinya jadi landasan utama dalam menentukan daftar penampil.
Selain band-band pop-Melayu, festival ini juga menampilkan ratusan band lain. Sejauh ini, mereka baru mengumumkan kurang dari 50 penampil. Di antaranya Silampukau, Teenage Death Star, Tuan Tigabelas, Navicula, NTRL, Gigi, dan Begundal Lowokwaru. Secara berkala, pihak penyelenggara akan melengkapi daftar penampil lain.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News