Cholil Mahmud saat konser Dari Warga untuk Andrie Yunus (Foto: dok. Music Declares Emergency Indonesia)
Cholil Mahmud saat konser Dari Warga untuk Andrie Yunus (Foto: dok. Music Declares Emergency Indonesia)

Pelecehan Seksual di Konser Musik, Cholil Mahmud: Publik Harus Berpihak ke Korban

Basuki Rachmat • 01 Mei 2026 21:40
Ringkasnya gini..
  • Sinopsis dugaan pelecehan di konser solidaritas Andrie Yunus, korban berani bersuara, publik didorong berpihak.
  • Sinopsis insiden pelecehan di gigs M Bloc, Cholil Mahmud serukan perlindungan korban dan sanksi sosial.
  • Sinopsis kasus pelecehan di konser amal, korban di bawah umur ikut terdampak, sorotan pada keamanan skena musik.
Jakarta: Panggung solidaritas yang seharusnya menjadi ruang aman bagi kemanusiaan kini tengah dirundung kabar tak sedap. Gelaran konser Dari Warga untuk Andrie Yunus yang diinisiasi oleh Music Declares Emergency Indonesia di M Bloc Live House, Senin, 27 April 2026, justru ternoda oleh dugaan aksi pelecehan seksual terhadap dua orang penonton perempuan.
 
Mirisnya, salah satu korban dilaporkan masih berstatus pelajar di bawah umur. Gigs yang awalnya digagas untuk mendukung Andrie Yunus, pembela HAM korban penyiraman air keras ini malah dimanfaatkan oleh oknum tak bertanggung jawab di tengah keriuhan kerumunan.
 
​Kabar ini mencuat setelah akun X @bluevelyz yang merupakan perwakilan dari salah satu pihak korban mengunggah utas panjang pada Selasa, 28 April 2026, yang membeberkan kronologi kejadian yang dialami oleh rekannya.
 
Dalam bukti tangkapan layar chat dengan korban, korban mengakui bahwa dirinya mendapatkan bentuk pelecahan non-verbal dari terduga pelaku saat penampilan dari band Down For Life. 
Berdasarkan kesaksian korban, terduga pelaku berinisial FC mendekati mereka saat suasana moshpit mulai memanas. Modusnya, FC berpura-pura ingin membantu mencari kacamata korban yang terjatuh sekaligus "melindungi" mereka agar tidak terhimpit penonton lain.

"Kejadiannya pas band Down for Life main, di situ penonton buat lingkaran (circle pit). Aku dan temen² menepi ke samping. Di situ pelaku bilang 'hati- hati ya barangnya'. Pelaku berada di samping aku, kaya seolah-olah mau jagain. Nggak lama pelaku mulai memegang lengan, memengang kepala, dan mengelus-ngelus," ungkap korban melalui tangkapan layar percakapan yang diunggah.
 
​Tak berhenti di situ, seorang korban lain yang masih duduk di bangku sekolah mengalami perlakuan serupa. Pelaku dilaporkan berulang kali menyentuh bahu dan mengelus kepala korban di bawah umur tersebut tanpa izin.
 
"Untuk korban satunya ternyata masih anak sekolah. Dia mengalami hal yg sama, dipegang bahu dan dielus-elus di bagian kepala," lanjut kesaksian korban.
 

Cholil Mahmud: "Publik Harus Berpihak Kepada Korban"

Musisi sekaligus aktivis Cholil Mahmud, yang juga tampil dalam acara tersebut, memberikan respons tegas terkait insiden ini. Saat ditemui di Gudskul, Jakarta Selatan, Kamis, 30 April 2026, vokalis Efek Rumah Kaca ini mengapresiasi keberanian para korban untuk bersuara.
 
"Menurut gue, fenomena banyak orang mulai berani angkat bicara itu bagus sekali. Musik itu sudah ada sejak lama, tapi budaya untuk memiliki perilaku yang lebih menghormati sesama itu sebenarnya hal yang relatif baru di masyarakat kita," tutur Cholil di Gudskul, Jakarta Selatan pada Kamis, 30 April 2026.
 
"Bahkan di Amerika pun, yang katanya sudah lebih maju, masih banyak yang terjadi. Jadi, budaya saling menghormati ini memang baru tumbuh dibandingkan dengan sejarah musik itu sendiri," lanjutnya.
 
​Ia juga menyoroti betapa sulitnya mengubah ketimpangan kekuasaan yang selama ini langgeng di masyarakat. Bagi Cholil, keberadaan komunitas yang saling melindungi adalah langkah awal yang krusial untuk "membersihkan" skena musik dari para predator dan pelaku pelecehan seksual.
 
"Memang tidak mudah untuk mengubah hubungan kekuasaan yang tidak seimbang yang sudah lama hidup di masyarakat. Jadi, ketika ada komunitas yang mencoba melindungi sesamanya dan mendeteksi adanya upaya terbuka, itu langkah yang bagus. Harapannya, skena kita bisa jadi lebih bersih," tegas Cholil.
 
Lebih jauh, ia menilai sanksi sosial perlu diterapkan sebagai bentuk efek jera bagi pelaku, sekaligus mendorong publik untuk berpihak kepada korban.
 
"Tentu kita ingin hal seperti itu tidak terjadi. Tapi jika terjadi, kita harus punya proteksi dan infrastruktur, baik yang formal maupun informal, untuk menuntut pertanggungjawaban dari pelaku. Sanksi sosial itu perlu agar ada efek jera. Publik juga harus memiliki keberpihakan kepada korban dan mau mendengarkan mereka," sambungnya.
 
Ia menambahkan, selama ini korban kerap menghadapi beban ganda: menjadi korban sekaligus harus berjuang agar ceritanya dipercaya.
 
"Selama ini, penderita korban itu 'double-double'; sudah jadi korban, saat bercerita pun sering tidak dipercaya atau malah dihakimi," ujar Cholil.
 
Terkait desakan dari pihak korban agar pelaku mendatangi Kios Ojo Keos untuk mediasi, Cholil mengaku belum mengetahui detail konteksnya, namun ia menilai respons masyarakat yang mencoba melindungi korban adalah pertanda baik bagi mekanisme pertanggungjawaban di masa depan.
 
"Mengenai alasan pihak korban/pelaku ingin mendatangi Kios (Kios Ojo Keos), saya kurang tahu konteks detailnya. Mungkin karena Efek Rumah Kaca (ERK) sering berkegiatan di sana, sehingga banyak orang yang datang. Namun secara umum, respon masyarakat yang sudah berpihak pada korban dan mencoba melindungi adalah pertanda baik (pertanda baik). Kita memerlukan mekanisme yang lebih baik untuk menuntut pertanggungjawaban pelaku," tutup Cholil Mahmud.
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(ASA)




TERKAIT

BERITA LAINNYA