Ketua KPK Firli Bahuri dan anaknya (Foto: ist)
Ketua KPK Firli Bahuri dan anaknya (Foto: ist)

Kesederhanaan Firli Bahuri Menyanyikan Lagu Sewu Kuto Diiringi Gitar Sang Putera

Hiburan Didi Kempot Pimpinan Baru KPK
Medcom • 05 September 2020 19:50

 
Sebelumnya Firli juga sudah mengungkap alasan mengapa memilih lagu Sewu Kuto. Firli mengaku lagu itu dia pilih karena syairnya bagus. Misalnya ribuan kota dia sudah dilalui, jutaan hati juga sudah ditanyakan, tapi tidak ada yang pernah tahu.
 
"Kenapa konsep itu saya pakai? Ada dalam sebuah buku yang ditulis oleh Boris Pasternak di situ disebutkan bahwa man is born to live, and not to prepare for life. Maknanya adalah setiap orang yang lahir hanya untuk hidup, tapi tidak disiapkan untuk hidup dan kehidupannya. Sehingga lagu itu syairnya cukup bagus. Seandainya kau sudah mulia, saya juga rela. Kira-kira begitulah. Jadi lagu itu kalau kita betul-betul maknai sangat dalam, semua sudah dilakukan, tetapi yang jelas ada kata dia tidak pernah berbohong, dia tidak pernah berdusta. Artinya adalah itu konsep naluri seseorang. Bahwa sesungguhnya manusia itu tidak boleh berbohong dan tidak boleh berdusta. Itu sebetulnya,” tegasnya.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Dalam menjiwai lagu, Firli juga menyatakan punya makna luas bukan hanya soal percintaan. "Tapi itu adalah gambaran yang lebih luas. Contoh, seandainya ada satu lagu, mungkin kalau kita lihat itu misalnya Andaikan Kau Datang: Terlalu indah dilupakan, terlalu sedih dikenangkan. Itu sebetulnya, kalimat itu adalah kalimat seketika masuk dalam alam kubur yang begitu gelap dan kita tidak akan pernah kembali.Itu maknanya. Jadi seketika seseorang membuat lagu, itu tidak hanya susunan kata dan kalimat. Tapi begitu dalam maknanya.  Mampukah kita menyelami makna itu?” tuturnya.
 
Firli menambahkan, dia belajar menyanyi ketika pertama setelah masuk Akpol tahun 1987.
 
"Kehidupan saya kan tidak lepas dari kampung. Enam kali daftar Akpol tidak lulus. Tahun 82, 83, 84, 85, 86, dan 87 saya baru lulus. Artinya tahun 87 saya menapakkan kaki di Jawa, masuk Akpol. Seiring dengan itu tentu perjuangan tidak hanya lewat begitu saja, tapi penuh makna dan perjuangan. Seperti yang tadi saya bilang, man is born to live, but not to prepare for life. Seketika orang menghadapi suatu cobaan, itu bisa saja dia akan putus asa dan akan patah semangat. Tetapi saya tidak begitu. Saya katakan bahwa manusia itu memang lahir untuk hidup, tetapi dia tidak disiapkan untuk hidup selanjutnya,karenanya kita harus mempersiapkan hidup dan kehidupan. Negara kesatuan Republik Indonesia telah dilahirkan dan didirikan. Sekarang saatnya bagi kita melanjutkan perjuangan hidup dan kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara."
 
"Begitupun kondisi kita sekarang, tentu kita harus berjuang karena perjuangan itu belum berakhir dan kita diwajibkan untuk belajar, mencari ilmu, bahkan diwajibkan untuk mengejar ilmu itu sampai ke negeri China. Maknanya sangat dalam," pungkasnya.
 
(ELG)
  • Halaman :
  • 1
  • 2
Read All


FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif