Teluk Bayur, Padang, dipilih sebagai salah satu lokasi utama dalam video musik tersebut. Kawasan ini tidak hanya menawarkan latar visual, tetapi juga memiliki keterkaitan dengan cerita tentang perjalanan, jarak, dan persoalan adat yang menjadi bagian dari lagu.
Video musik "Mambangkik Batang Tarandam" disutradarai DVH Bale. Dia berusaha menerjemahkan cerita lagu ke dalam visual dengan tetap mempertahankan unsur budaya Minangkabau yang menjadi bagian penting dari karya Kadri.
Bale tertarik menggunakan Teluk Bayur karena kawasan tersebut mengingatkannya pada kisah “Tenggelamnya Kapal Van der Wijck” karya Buya Hamka. Keduanya sama-sama memiliki latar budaya Minangkabau dan menggambarkan persoalan hubungan yang bersinggungan dengan jarak serta nilai adat.
“Saya senang ketika tahu lokasi syutingnya di Teluk Bayur. Lokasi ini mengingatkan saya pada Tenggelamnya Kapal Van der Wijck. Itu yang kemudian menjadi tantangan buat saya untuk membuat video musik ini dengan kualitas yang baik, bukan sekadar mengambil gambar di lokasi yang indah,” ujar Bale.
Kadri sendiri melihat “Mambangkik Batang Tarandam” bukan sebagai cerita yang harus berakhir dengan keterpurukan. Dia justru memasukkan sudut pandang yang lebih ringan ketika berbicara mengenai hubungan yang kandas.
“Orang Minang pantang menyerah. Cinta itu adalah komitmen saling setia. Namun jika putus, janganlah terpuruk, cari lagi yang lebih lucu,” kata Kadri sambil tersenyum.
Sementara itu, Nando Satoko yang menjadi kolaborator melihat tema lagu tersebut masih relevan dengan perubahan yang terjadi dalam kehidupan masyarakat Minangkabau. Menurut dia, perkembangan zaman turut membuat pilihan dalam hubungan dan pernikahan menjadi semakin terbuka.
“Sekarang sudah jarang saya melihat orang Minang yang terhambat menikah dengan orang non- Minang. Meski begitu, masih ada orang-orang tua yang berharap warisan budaya dan adat tetap bisa diteruskan,” ujar Nando.
Pandangan tersebut membuat lagu ini memiliki ruang pembahasan yang lebih luas. Di dalamnya terdapat pertemuan antara pilihan personal, keluarga, adat, dan perubahan cara pandang antargenerasi.
Unsur alam juga menjadi bagian penting dalam visual “Mambangkik Batang Tarandam”. Saat proses syuting di Teluk Bayur, hujan badai turun pada tengah malam di luar rencana produksi.
Kondisi tersebut justru memberikan suasana dramatis yang sesuai dengan atmosfer lagu. Hujan kemudian menjadi elemen visual yang memperkuat gambaran tentang sesuatu yang pernah terpendam dan kembali muncul ke permukaan.
“Mambangkik Batang Tarandam” merupakan ungkapan Minangkabau yang menggambarkan sesuatu yang pernah terbenam kemudian kembali diangkat. Makna tersebut menjadi salah satu dasar dalam membangun cerita dan visual video musik.
Lagu ini merupakan salah satu karya Jimmo dari The KadriJimmo. Kadri membawa bahasa Minangkabau ke dalam karya tersebut, sementara musiknya dibuat Popo Fauza dari The KadriJimmo.
Tentang Kadri
Kadri dikenal sebagai musisi sekaligus profesional hukum yang telah menjalani perjalanan panjang di dunia musik sejak era 1980-an. Dia pernah terlibat dalam sejumlah proyek musik, termasuk Makara dan TheKadriJimmo, sebelum melanjutkan perjalanan sebagai solois.
Dalam karya-karya solonya, Kadri terus mengeksplorasi pertemuan antara musik, pengalaman personal, dan akar budaya. “Mambangkik Batang Tarandam” menjadi salah satu karya yang membawa bahasa serta cerita Minangkabau ke dalam pendekatan musik dan visual masa kini.