Tim Go Ahead Challenge 2019 (Foto: Dok. Stuninc)
Tim Go Ahead Challenge 2019 (Foto: Dok. Stuninc)

Rekti Yoewono, Muklay, hingga Widi Puradiredja Beri Pembekalan Finalis GAC

Agustinus Shindu Alpito • 24 Juli 2019 17:03
Jakarta: Keberanian untuk terus menantang dan membuktikan diri melalui karya merupakan sebuah modal penting untuk sukses di industri kreatif. Hadirnya kompetisi kreatif Go Ahead Challenge menjadi sebuah motivasi sekaligus ruang bagi para pelaku kreatif tanah air untuk bebas dan berani berekspresi. Go Ahead Challenge di tahun kelimanya mengusung tema "Biar Tapi Jadi Bukti" melibatkan sembilan finalis untuk mengikuti Creative Academy yang berlangsung pada 22-27 Juli 2019 dan diselenggarakan oleh Studio 1212.
 
Salah satu mentor dalam Go Ahead Challenge Creative Academy, Rekti Yuwono, saat ditemui di Artotel Thamrin, mengungkapkan adanya sesi diskusi dan mentoring ide, konsep karya serta rangkaian kegiatan lainnya bersama para finalis.
 
“Selama satu minggu penuh para finalis dari passion field musik, visual art, dan video/fotografi, akan menggali inspirasi dari kami para mentor dan pelaku kreatif profesional lain yang terlibat di Go Ahead Challenge Creative Academy. Saya dan delapan mentor lainnya juga pemateri tamu lain terjun langsung untuk menyampaikan workshop, challenge serta mentoring agar para finalis dapat menjawab keraguan mereka dalam berkarya dan mengubah ‘tapi jadi bukti’,” jelas vokalis band THE S.I.G.I.T tersebut.

Selama program Go Ahead Challenge Creative Academy berlangsung, para finalis dapat bebas berdiskusi, mengembangkan diri, dan eksplorasi karya bersama para mentor mereka di antaranya yaitu, Jason Ranti (musik), Gerald Situmorang (musik), Rekti Yoewono (musik), Anggun Priambodo (video/fotografi), Alain Goenawan (video/fotografi), Fanfani (video/fotografi), Sarkodit (visual art), Fluxcup (visual art), dan Muchlis Fahri ‘Muklay’ (visual art). Di samping para mentor, Go Ahead Challenge ‘Biar Tapi Jadi Bukti’ juga melibatkan para kurator yang berperan dalam proses seleksi ide dan karya di antaranya yaitu Widi Puradiredja (musik), Lucky Kuswandi (video/fotografi), dan Naufal Abshar (visual art).
 
Selain melibatkan pelaku kreatif profesional di industri kreatif tanah air, Go Ahead Challenge Creative Academy juga memiliki konsep menarik dengan menggabungkan para finalis dari passion field berbeda dalam satu grup. Sehingga dari sembilan finalis terbentuk tiga grup gabungan dari musik, video/fotografi, dan visual art yang masing-masing didampingi mentor dari passion field berbeda untuk mengembangkan ide menjadi sebuah karya kolaborasi yang akan dipamerkan di gelaran Soundrenaline 2019. Hal tersebut dinilai dapat menjadi sebuah tantangan tersendiri bagi para finalis untuk menjawab keraguan mereka dalam proses eksplorasi dan kolaborasi karya.
 
“Ikut dan berhasil lolos sebagai finalis Go Ahead Challenge menjadi sebuah kebanggaan sekaligus tantangan bagi saya. Karena kami diminta untuk berkolaborasi dengan finalis lain yang seharusnya menjadi pesaing kami. Namun melalui Go Ahead Challenge Creative Academy, ego kami dihilangkan dan wawasan kami semakin terbuka sehingga kata ‘tapi’ yang selama ini merupakan keraguan dalam berkarya dapat diubah menjadi sebuah bukti yaitu karya bersama,” jelas Matt, salah satu finalis dari bidang fotografi yang berasal dari Ternate, Maluku.
 
Lebih lanjut, Matt mengungkapkan bahwa dengan mengikuti Go Ahead Challenge Creative Academy, ia yang tadinya meragukan dirinya untuk bisa memahami proses kreatif dengan passion fields selain video/fotografi kini menjadi terbuka dengan berbagai ide dan inspirasi. Matt mengaku semakin berani untuk membuktikan dirinya melalui karya yang sarat akan kreativitas terlepas dari teknik atau pun medium yang digunakan.
 
“Pembuktian diri dalam berkarya itu ada pada makna yang terkandung di dalamnya. Bagaimana kita sebagai kreator mampu memberikan berbagai interpretasi dalam karya yang dapat dinikmati oleh publik dengan identitas yang kuat. Kami sebagai mentor dalam Go Ahead Challenge Creative Academy berperan untuk menyampaikan hal tersebut kepada para finalis sehingga mereka dapat menjawab apa pun keraguan mereka melalui karya.  Para mentor adalah fasilitator yang membantu mengarahkan mereka untuk membuka wawasan serta berjejaring sehingga mampu menjadikan Go Ahead Challenge lebih dari sekadar kompetisi kreatif namun juga stepping stone dan ruang pengembangan diri,” ujar Muchlis Fahri ‘Muklay’ selaku mentor dari bidang visual art.
 
Go Ahead Challenge Creative Academy turut mengajak para finalis untuk menggali inspirasi tidak hanya melalui sesi konsultasi bersama para kurator dan mentor namun juga kunjungan ke berbagai creative space, melihat langsung proses kreatif di studio para mentor, dan mengikuti workshop oleh para pelaku kreatif profesional di Gudskul Studi Kolektif.
 
Setelah berakhirnya program intensif Go Ahead Challenge Creative Academy, para finalis yang berasal dari Barat hingga Timur Indonesia tersebut akan kembali ke kota masing-masing dan menyelesaikan karya kolaborasi selama satu bulan untuk dipamerkan di gelaran Soundrenaline 2019. Setelah pameran kolaborasi tersebut, para kurator dan mentor Go Ahead Challenge akan mengambil satu pemenang terbaik dari bidang musik, visual art, dan video/fotografi. Pemenang Go Ahead Challenge ‘Biar Tapi Jadi Bukti’ akan meraih kesempatan dan pengalaman langsung terjun di industri kreatif profesional di antaranya terlibat dalam proyek kolaborasi dan eksplorasi karya video/fotografi di New York bersama Lucky Kuswandi, karya visual art di Venice bersama Naufal Abshar, lalu kesempatan unjuk karya musik di Korea Selatan bersama Widi Puradiredja. Tak hanya sampai di situ, sekembali ke tanah air para pemenang pun akan mendapatkan aspirational reward sebagai ruang untuk mewujudkan proyek impian mereka masing-masing.
 
 
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(ASA)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan