Tren dari luar dan dicampur aduk dengan nasionalisme, hasilnya keren banget, musik modern khas Indonesia.(Foto: Irama Nusantara)
Tren dari luar dan dicampur aduk dengan nasionalisme, hasilnya keren banget, musik modern khas Indonesia.(Foto: Irama Nusantara)

Menelusuri Jejak Musik Indonesia

Di Bawah Tekanan Soekarno, Musik Indonesia Justru Keren

Agustinus Shindu Alpito • 16 Oktober 2015 16:43
medcom.id, Jakarta: Membicarakan karya seni seperti tidak ada habisnya, apalagi jika membahas proses kreatif di balik lahirnya sebuah karya. Seperti karya seni lainnya, karya musik sangat dipengaruhi keadaan sosial budaya setempat.

Jika membicarakan musik Indonesia pada saat ini, dari segi konten dan gaya musik, tentu tidak bisa melupakan jejak panjang yang lebih dulu ada. Intinya, musik Indonesia yang ada pada hari ini tidak serta-merta lahir begitu saja.

David Tarigan, salah satu inisiator Irama Nusantara, lembaga swadaya yang mengarsipkan musik Indonesia menceritakan masa penting yang ikut membidani lahirnya musik modern di Indonesia. (Baca: Irama Nusantara, Berjuang Mengarsipkan Musik Indonesia)

“Salah satu yang menarik buat gue adalah musik era Orde Lama, sebelum 1965,  saat di bawah tekanan  musik yang diinginkan Soekarno bertema nasionalisme. Pada tahun 1950-an sudah ada rock and roll, itu dianggap bentuk penjajahan gaya baru dan dekadensi moral. Hal itu berusaha ditandingi dengan konsep nasionalisme,” kata David saat ditemui Metrotvnews.com, di kawasan Fatmawati, Jakarta Selatan, Selasa (11/10/2015).

Tekanan yang ada bukan membuat kreativitas para musisi muda Indonesia melempem. Para musisi itu justru melahirkan sesuatu yang segar, di tengah ketatnya rambu-rambu yang ada.

Di Bawah Tekanan Soekarno, Musik Indonesia Justru Keren “Balik lagi namanya musik, namanya anak muda di mana saja sama saja, mencari ekspresi yang pas. Ketika ada rock and roll mereka tidak bisa ditahan juga. Tetapi balik lagi dalam praktiknya sulit mengekspresikan itu. Apalagi di rekaman, label enggak banyak. RRI juga hanya memutar lagu yang santun, dalam rekaman juga si pemilik label punya rambu-rambu. Akhirnya mereka mencari jalan, menggabungkan semua. Ada unsur nasionalisme, tradisional, rock and roll, sampai musik latin cha cha,” lanjut David.

“Tren datang dari luar dan dicampur aduk dengan nasionalisme, hasilnya keren banget, musik modern khas Indonesia.”

Kondisi politik di Indonesia berubah. Orde Lama berakhir. Lahirnya Orde Baru juga diiringi tren musik yang baru di dunia Barat. Hal itu juga membawa dampak tersendiri bagi musik Indonesia.

“Kebebasan pasca 1965, musik langsung kebarat-baratan, straight forward rock and roll. Paruh ke-dua dekade 1960, ada hippie, flower power, psychedelic rock, dan ada progressive rock. Di Indonesia juga terpengaruh, semua juga kaya gitu dengan gaya Indonesia. Lagu-lagu tentang ganja dan mabuk. Tetapi rata-rata sok-sokan lagu anti ganja, yang bilang ganja enggak bagus. Tetapi ada juga lagu yang merayakan hal itu. Memang seru. Biasanya zaman dulu dalam satu album ada delapan lagu komersil, dan dua lagu bebas. Dua lagu bebas itu itu menunjukkan aslinya mereka,” terang David.

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(FIT)




TERKAIT

BERITA LAINNYA