Jakarta: Penyanyi dan penulis lagu Bernadya mengungkap bahwa dirinya sempat mengalami writer's block (kebuntuan menulis) saat mengerjakan album keduanya, Semoga Hanya di Mimpi. Kondisi itu muncul setelah kesuksesan album debutnya, Sialnya, Hidup Harus Tetap Berjalan. ketika ia mulai dihantui ketakutan tidak mampu menghasilkan karya yang lebih baik dari sebelumnya.
Dalam konferensi pers album terbarunya, Bernadya mengaku sempat kehilangan kepercayaan diri sebagai penulis lagu.
"Gak aku pikirin karena aku jujur stres. Aku gak bisa nulis lagu lagi. Sempat ada masa aku writer's block selama 6 bulan, aku gak bisa nulis satupun lagu baru," kata Bernadya.
Menurut penyanyi berusia 21 tahun itu, kebuntuan tersebut berakar dari ekspektasi yang ia pasang terhadap dirinya sendiri setelah album pertama mendapat sambutan luas dari pendengar.
"Aku rasa kayak apapun yang aku tulis gak akan bisa lebih bagus dari apa yang udah pernah aku tulis," ujarnya.
Perasaan itu membuat proses pengerjaan album kedua menjadi jauh lebih menantang dibandingkan album sebelumnya. Bernadya mengaku sudah memiliki gambaran jelas mengenai tema dan karya yang ingin ia hasilkan, tetapi justru kesulitan menuangkannya menjadi lagu.
"Aku stres banget nulisnya karena aku tahu aku mau bikin karya yang seperti apa dan temanya apa, tapi di waktu yang bersamaan juga susah ya ternyata kalau kita udah tahu maunya kayak gimana terus gak berhasil keluar idenya."
Titik balik terjadi ketika Bernadya menjalani sesi co-writing bersama musisi dan penulis lagu Baskara Putra. Dalam sesi tersebut, Baskara tidak memaksanya untuk menulis lagu tentang pengalaman tertentu, melainkan mengajak Bernadya menggali kebuntuan kreatif yang sedang ia alami.
"Terus ketemu lah sama Bas. Bas nanya, 'Mau nulis apa? Lo lagi ngerasain apa?'"
Bernadya menjawab bahwa saat itu ia justru merasa tidak memiliki cerita yang bisa ditulis.
"Terus aku bilang, 'Gak lagi ngerasain apa-apa, lagi gak bisa nulis.'"
Respons Baskara kemudian menjadi titik awal lahirnya materi baru untuk album tersebut.
"Yaudah, dia bilang, 'Ayo bikin lagu dari gak bisa nulis lo itu.'"
Percakapan itu berkembang menjadi refleksi tentang fase hidup Bernadya yang saat itu berjalan relatif tenang. Di tengah kesibukan karier yang terus berlangsung, ia justru dihantui kecemasan yang sulit dijelaskan.
"Aku lagi ngerasain hidup tuh semua lagi berjalan normal. Panggunganku ada terus, masalah kayak gak ada yang gimana-gimana gitu. Tapi justru itu yang menakutkan."
Perasaan takut ketika hidup sedang baik-baik saja kemudian menjadi salah satu fondasi tematik album Semoga Hanya di Mimpi. Dari sana lahir lagu "Laut yang Tenang" yang ditulis bersama Baskara Putra.
Bernadya mengatakan pengalaman writer's block tersebut pada akhirnya membantunya menemukan arah baru sebagai penulis lagu. Alih-alih berusaha melampaui kesuksesan album pertama, ia memilih menulis secara lebih jujur tentang kegelisahan yang benar-benar sedang dirasakannya.
Semoga Hanya di Mimpi merupakan album penuh kedua Bernadya yang akan dirilis pada 24 Juni 2026. Album tersebut melibatkan sejumlah produser, yaitu Rendy Pandugo, Enrico Octaviano, Petra Sihombing, Vega Antares. Bagi Bernadya, album ini menjadi dokumentasi fase hidup yang berbeda dari album debutnya. Jika karya sebelumnya banyak berbicara tentang kesedihan dan patah hati, kali ini ia justru merekam kegelisahan yang muncul ketika semuanya terlihat baik-baik saja.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
FOLLOW US
Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan