Ravel Junardy (Foto: dok. Medcom.id)
Ravel Junardy (Foto: dok. Medcom.id)

Ravel Junardy: 10 Tahun Gelar Hammersonic Festival, Untung Cuma Sekali

Basuki Rachmat • 27 April 2026 11:21
Ringkasnya gini..
  • Ravel Junardy akui Hammersonic Festival cuma sekali untung sejak 2012.
  • Meski sering rugi, Ravel Junardy bertahan lewat passion dan penjualan merchandise miliaran.
  • Merchandise jadi penyelamat Hammersonic Festival, bisa tembus Rp3 miliar per hari.
Jakarta: CEO Ravel Entertainment, Ravel Junardy, mengungkapkan realita di balik penyelenggaraan Hammersonic Festival yang dikenal sebagai festival musik metal terbesar di Asia Tenggara. Selama lebih dari satu dekade menggelar acara tersebut, Ravel mengaku hanya sekali merasakan keuntungan.
 
Pengakuan jujur ini disampaikan Ravel saat menjadi narasumber dalam sesi talkshow APMI Talks bertajuk "Apa Bedanya Promotor & Event Organizer?" yang diinisiasi oleh Asosiasi Promotor Musik Indonesia (APMI) pada Mei 2025 lalu.
 
Dalam bincang-bincang yang dipandu oleh Dino Hamid (Imaginaction) dan Ferry Darmawan (Plainsong Live) tersebut, Ravel menegaskan betapa berisikonya industri promotor musik, khususnya di genre ekstrem.

"Gua bikin Hammersonic dari 2012, untungnya cuma satu kali doang," tutur Ravel blak-blakan.
Ia menyebut, dari 10 tahun penyelenggaraan, keuntungan hanya diraih pada tahun 2015, itupun dengan margin yang relatif kecil.
 
"10 tahun gua bikin, untungnya cuman di tahun 2015. Itu pun untungnya cuma sepuluh sampai dua persen, dari sisanya rugi. Dan itu ya harus kita tanggung," tegasnya.
 
Menurut Ravel, besarnya biaya produksi menjadi tantangan utama dalam industri promotor musik. Mulai dari honor artis, kebutuhan produksi, hingga operasional tim harus dipenuhi tanpa kompromi.
 
"Kita harus bayar artisnya, production-nya, kita harus bayar semua tim kita yang saya sebut sebagai event organizernya dan semuanya," ungkap Ravel.
 

Bertahan karena Passion hingga Strategi Bisnis

​Lantas, apa yang membuat Ravel tetap bertahan di tengah badai kerugian finansial? Ia mengaku bahwa pada awalnya, motivasi terbesarnya adalah passion dan kepuasan batin saat menghadirkan festival musik yang sebelumnya belum memiliki wadah di Indonesia.
 
"Purely sebuah kepuasan pribadi awalnya. Saya awalnya ingin bikin sebuah festival yang bisa menyenyangkan dari genre yang memang belum ada," ungkap Ravel.
 
Namun, seiring berjalan waktu, Ravel mulai memutar otak agar roda bisnis tetap berputar. Ia menyadari bahwa keuntungan sebuah festival tidak hanya datang dari penjualan tiket (ticket sales), melainkan dari penguatan Intellectual Property (IP) dan lini bisnis turunan lainnya.
Ravel mengungkapkan bahwa lini merchandise menjadi "juru selamat" bagi neraca keuangan Hammersonic. Brand image yang kuat membuat produk fesyen festival ini diburu oleh para Hammerhead (sebutan penonton Hammersonic).
 
"Festival saya nggak untung, tapi merchandise saya laku. Merchandise saya tuh dibeli banyak orang. Penjualan merchandise kita itu 1 hari penjualan itu Rp3 miliar di Hammersonic," beber Ravel.
 
Menutup pernyataannya, Ravel pun menjelaskan bahwa kunci utama dalam bertahan di industri ini adalah membangun nilai valuasi dari sebuah brand yang telah dibentuk.
 
"Jadi nggak semerta-merta bisnisnya rugi. Kita harus cari source lain seperti di merchandise. Seiring berjalannya waktu brand image-nya juga naik. Kalau brand-nya naik pasti ada nilai valuasinya," tutup Ravel Junardy.
 

 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(ASA)




TERKAIT

BERITA LAINNYA