David Tarigan dari Irama Nusantara menceritakan kepada Metrotvnews.com tentang kisah menarik soal kesamaan melodi gitar Dara Puspita dan The Rolling Stones. (Baca: Irama Nusantara, Berjuang Mengarsipkan Musik Indonesia).
“Kalau kita dengar lagu Mari-Mari, ada nada The Rolling Stones. Kita pikir itu ya seperti biasa, seperti negara dunia ke-tiga yang ikut-ikutan, tapi pas gue tanya (ke Dara Puspita) berbeda,” kata David.
Lebih lanjut, David menceritakan bahwa Dara Puspita pernah berurusan dengan aparat di tahun 1965. Peristiwa itu terjadi saat mereka tampil bersama Koes Plus di sebuah pesta yang diselenggarakan di rumah Kolonel Koesno, di Jati Petamburan, Jakarta Barat.
Peristiwa ini terkenal, lantaran berujung pada pemenjaraan para personel Koes Plus di Penjara Glodok. Pada saat itu Dara Puspita membawakan lagu I Can’t Get No (Satisfaction), sedangkan Koes Plus membawakan lagu I Saw Her Standing There milik The Beatles.
“Mereka (aparat) enggak mungkin menangkap Dara Puspita karena mereka anak-anak perempuan yang masih kecil. Dara Puspita akhirnya dilempar ke Bangkok, Thailand, tapi sebelum itu mereka dikenakan wajib lapor,” ujar David.
Foto:IST/duajurai.com
Saat melakukan wajib lapor, Dara Puspita disediakan seperangkat alat band. Mereka digembleng aparat dengan cara disuruh bermain lagu “yang dilarang” dan “yang tidak dilarang” oleh pemerintah. Maklum, pada masa Orde Lama budaya barat dianggap sebagai bentuk penjajahan yang baru, hingga band pada masa itu dilarang membawakan lagu barat. (Baca: Di Bawah Tekanan Soekarno, Musik Indonesia Justru Keren)
Lucunya, aparat yang menangani Dara Puspita pada masa itu salah kaprah dalam menerka maksud lagu yang dilarang pemerintah. Mereka berpikir lagu barat yang dilarang hanyalah lagu-lagu The Beatles. Layaknya anak muda pada umumnya, ada gejolak kenakalan dan rasa iseng. Setelah beberapa hari digembleng membawakan lagu “yang dilarang” dan “yang tidak dilarang,” Dara Puspita tiba-tiba membawakan lagu I Can’t Get No (Satisfaction) di hadapan para aparat.
“Pas disuruh menyanyikan lagu yang dibolehkan pemerintah, mereka tiba-tiba membawakan lagu The Rolling Stones. Pas ditanya, mereka jawab itu lagu The Rolling Stones, bukan The Beatles. Dan ternyata boleh. Jadi pada dasarnya mereka (aparat) yang ngetes itu enggak ngerti lagu yang boleh dan tidak, pokoknya yang tidak boleh itu lagu The Beatles. Gara-gara lagu The Rolling Stones boleh, ternyata pas rekaman mereka pakai itu untuk meledek (pemerintah),” terang David.
Mari-Mari merupakan lagu pembuka dalam album debut Dara Puspita, Jang Pertama. Album Jang Pertama dirilis pada tahun 1966, kira-kira satu tahun sejak peristiwa bersejarah di rumah Kolonel Koesno.