Pengaruh tersebut kemudian bertemu dengan ketertarikan mereka terhadap city pop Jepang era 1980-an. Bagi Vintonic, musik dari anime bukan sekadar bagian dari tontonan, tetapi juga memberikan pengalaman musikal yang kemudian memengaruhi cara mereka mendengar melodi.
Vintonic terbentuk di Jakarta pada 2019. Nicho mengisi posisi vokal, Ravin Kalindra bermain gitar, sedangkan Heston Prasetyo menangani keyboard sekaligus produksi. Heston dan Ravin juga pernah menempuh pendidikan musik di Boston sebelum kembali ke Indonesia.
Karakter musik mereka kemudian berkembang dengan memadukan city pop, electro pop, R&B, synthesizer, dan elemen musik bernuansa retro. Vintonic juga mencatat bahwa ketertarikan mereka terhadap soundtrack anime tumbuh sejak masa kanak-kanak ketika mereka terbiasa menonton kartun Jepang pada akhir pekan.
Hal tersebut dibenarkan oleh personel Vintonic ketika membicarakan sumber pengaruh musik mereka. Menurut mereka, soundtrack anime yang terdengar dalam tayangan masa kecil memiliki karakter yang mudah melekat dan membuat penasaran.
"Kalau influence mungkin terbesarnya di city pop ya. City pop itu kayak lagu pop 80-an di Jepang. Itu influence-nya mungkin bisa dibilang dari dulu nonton kartun hari Minggu," kata Heston Prasetyo dalam program Musik Medcom.
"Dulu banyak banget kartun-kartun yang kayak lagunya, wah kok pas opening asik banget nih lagunya. Lagu-lagu anime lah gitu ya," lanjutnya.
Ketertarikan tersebut dianggap Vintonic menarik karena banyak soundtrack anime dari era 1980-an hingga 1990-an memang memiliki karakter musik pop yang kuat. Bagi Vintonic, pengalaman mendengarkan lagu-lagu tersebut sejak kecil akhirnya menjadi bagian dari referensi musikal yang mereka bawa ketika membangun identitas band.
Pengaruh anime itu juga terlihat dari pilihan soundtrack favorit masing-masing personel. Ketika diminta menyebutkan lagu anime yang paling berkesan, ketiganya memberikan jawaban berbeda sesuai dengan tontonan yang melekat pada masa kecil mereka.
Salah satu personel memilih Slam Dunk. Anime tersebut memiliki sejumlah lagu pembuka dan penutup populer, termasuk "Kimi ga Suki da to Sakebitai" dari BAAD yang menjadi opening pertama.
"Slam Dunk itu pokoknya lagunya rada-rada kayak 'Jump' Van Halen. Alasannya setiap denger lagu itu langsung semangat aja sih. Itu semangat banget gitu dan kayak dari SD sampai sekarang masih kadang tuh suka re-watch Slam Dunk," kata Heston.
Dia juga menilai soundtrack Slam Dunk memiliki daya tahan tersendiri karena tetap mampu membangkitkan semangat meski sudah bertahun-tahun berlalu.
Sementara Nicho Benito sang vokalis memilih Cardcaptor Sakura sebagai anime dengan soundtrack yang paling membekas. Lagu yang dimaksud adalah "Catch You Catch Me" lagu pembuka musim pertama Cardcaptor Sakura yang dinyanyikan GUMI atau Megumi Hinata. Lagu tersebut digunakan sebagai opening episode 1 hingga 35.
"Wah kalau gue di era-era itu juga kali ya biar sama setipe Cardcaptor Sakura. Catch me, catch you, catch me. Nah itu bener-bener festive-nya dapet banget bener-bener baru mulai," kata Nicho.
"Sampai belakang itu kayak it's a journey on its own, itu menarik banget sih lagu itu. Kalau gak salah sih catch you, catch me," lanjutnya.
Pilihan berbeda datang dari Ravin yang langsung menyebut Yu Yu Hakusho. Anime tersebut memang memiliki soundtrack pembuka yang sangat dikenal, yaitu Hohoemi no Bakudan atau Smile Bomb yang dinyanyikan Matsuko Mawatari. Lagu tersebut pertama kali dirilis pada 1992 dan menjadi opening anime Yu Yu Hakusho.
"Kalau gue yang langsung yang terlintas dipikiran tuh Yu Yu Hakusho. Kalau yang belum tuh mungkin anime tahun 80-90an. Itu era-eranya city pop. Kalau udah denger soundtracknya di awal langsung keinget masa kecil aja sih," katanya.
Lagu Baru Vintonic Di Garis Senja
Vintonic baru saja merilis single terbaru mereka yang berjudul "Di Garis Senja". Lagu ini tidak hanya menawarkan nuansa city pop yang hangat, tetapi juga membawa pesan tentang waktu, kebersamaan, dan cara manusia menghargai orang-orang yang hadir dalam hidup.Bagi Vintonic, senja menjadi simbol penting dalam lagu tersebut. Mereka melihat senja sebagai sesuatu yang indah, tetapi hanya hadir dalam waktu yang singkat. Keindahan tersebut kemudian mereka hubungkan dengan kehidupan manusia yang juga memiliki batas waktu.
"Pengingat buat kita semua sih kayak Senja itu kan selalu indah dan Senja itu selalu kayak ada rasa gimana ya. Mungkin ada sedikit misteri dunia yang kayak ini kok bisa indah banget gitu. Dan tapi sayangnya senja itu kan sementara ya," kata Nicho.