Ilustrasi DJ (Foto: Pexels/Yan Krukau)
Ilustrasi DJ (Foto: Pexels/Yan Krukau)

Cita-cita Orang Amerika: Lebih Pilih Jadi DJ daripada Dokter

Rafi Alvirtyantoro • 13 Juli 2026 23:51
Ringkasnya gini..
  • Data terbaru Remitly menunjukkan profesi DJ melejit ke peringkat 10 besar pekerjaan paling diimpikan di dunia, mengalahkan popularitas dokter.
  • Tren pergeseran karier global ini dipimpin oleh pencarian tinggi dari masyarakat Amerika Serikat, Kanada, Australia, hingga Irlandia.
  • Survei Pete Tong DJ Academy mengungkap tantangan berat industri EDM, di mana algoritma media sosial kini dianggap lebih krusial dari bakat musik.
Jakarta: Disjoki (DJ) ternyata menjadi pekerjaan impian bagi warga Amerika Serikat, mengalahkan profesi dokter.
 
Layanan keuangan digital Remitly merilis data terbaru mengenai pekerjaan yang paling banyak dicari oleh masyarakat di 145 negara. Data ini menampilkan bahwa tren profesi impian telah bergeser secara drastis sejak penelitian ini pertama kali dilakukan pada tahun 2022.
 
Cita-cita Orang Amerika: Lebih Pilih Jadi DJ daripada Dokter
(Data Pekerjaan Impian di Seluruh Dunia 2026, Dok. Remitly)

Mengungguli Profesi Dokter dan AI Prompt Engineer

Dari data tersebut, tercatat bahwa DJ berada di posisi ke-10 sebagai pekerjaan yang paling diimpikan dengan 97.930 pencarian. Profesi ini melonjak dari posisi ke-24 pada data sebelumnya.

Menariknya, angka tersebut justru lebih tinggi daripada dokter yang berada di posisi ke-16 dengan 79.860 pencarian. Profesi dokter sendiri tadinya berada di posisi ke-11 dalam data sebelumnya.
 
Bekerja sebagai seorang DJ telah menjadi pekerjaan yang paling diimpikan di beberapa negara, mulai dari Amerika Serikat, Kanada, Australia, Selandia Baru, hingga Irlandia.
 
Popularitas DJ juga mengungguli kategori profesi baru dalam studi tersebut. Di tahun ketika kecerdasan buatan (AI) diprediksi akan menggeser pekerjaan kreatif, profesi prompt engineer justru hanya mencatatkan sekitar 5.500 pencarian di seluruh dunia.

Realita Industri Musik yang Kompetitif

Meski begitu, kendalanya adalah realita industri musik EDM sering kali tidak seindah bayangan. Survei tahun 2025 terhadap 15.000 musisi oleh Pete Tong DJ Academy mengungkapkan bahwa 61 persen DJ pendatang baru merasa jumlah pengikut di media sosial kini lebih krusial ketimbang kemampuan bermusik.
 
Sementara itu, 62 persen di antaranya menganggap industri ini sebagai lingkungan yang eksklusif dan sulit ditembus. Jadi, tantangan besarnya adalah apakah algoritma media sosial akan berpihak pada mereka atau tidak.
 
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(ELG)




TERKAIT

BERITA LAINNYA