Slank (Foto: instagram)
Slank (Foto: instagram)

Slank Hadirkan Kritik Sosial hingga Duka Kehilangan Ayah di Album Republik Fufufafa

Elang Riki Yanuar • 05 Juni 2026 21:01
Ringkasnya gini..
  • Slank merilis album Republik Fufufafa berisi 10 lagu baru yang mengangkat isu lingkungan, sosial, cinta, dan kehidupan anak muda.
  • Lewat lagu Jangan Rakus dan Rusak Ancur, Slank menyuarakan kritik soal korupsi, keserakahan, dan kerusakan lingkungan.
  • Album ke-26 Slank menghadirkan warna musik beragam, dari rock alternatif hingga balada cinta seperti Di Dekatmu dan My Rinduku.
Jakarta: Slank resmi merilis album terbaru bertajuk Republik Fufufafa. Album ini resmi diperkenalkan pada 5 Juni, bertepatan dengan Hari Lingkungan Hidup Sedunia. 
 
Pemilihan tanggal tersebut bukan tanpa alasan karena tema besar yang diangkat dalam karya terbaru mereka banyak menyoroti isu lingkungan, sosial, hingga kehidupan masyarakat sehari-hari.
 
Republik Fufufafa menjadi album studio ke-26 dalam perjalanan panjang Slank di industri musik Indonesia. Album ini berisi 10 lagu baru yang dikerjakan secara intensif sejak Ramadhan 2025. Proses rekaman dilakukan di Flat 5 Studio milik Ridho Hafiedz dan kemudian diselesaikan di Parah Studio yang berada di kawasan Potlot 14, markas besar Slank.

Seperti karya-karya Slank terdahulu, Republik Fufufafa tetap mempertahankan empat unsur utama yang menjadi identitas band legendaris tersebut, yakni cinta, alam, sosial, dan anak muda. Keempat elemen itu dirangkai dalam lirik serta konsep visual album yang menampilkan para personel dengan riasan badut nakal hasil karya Face Painting Jakarta.
 
"Dalam album tersebut, Slank mengangkat empat unsur utama, yaitu cinta, alam, sosial, dan youth. Sesuai dengan ciri khasnya, Slank juga masih menyelipkan kritik sosial dalam beberapa lagu, salah satunya 'Jangan Rakus'," kata Bimbim di Jakarta.
Sebelum album dirilis secara penuh, dua lagu karya Bimbim berjudul "Republik Fufufafa" dan "PPN 12%" lebih dulu mencuri perhatian publik. Kedua lagu tersebut mengangkat isu sosial yang sedang ramai diperbincangkan dan berhasil menjadi perbincangan hangat di berbagai platform media sosial.
 
"Berbeda dengan 'Jangan Rakus', itu juga soal kritik. Sebenarnya kita kan di hari-hari ini dikasih tontonan tentang korupsi. Korupsi kan basisnya merasa kurang terus sampai akhirnya butuh untuk korupsi. Lagu ini tentang korupsi yang nakal,”, lagu “Jangan Rakus” berbicara tentang cinta dalam makna yang luas," jelas Bimbim.
 
Bersamaan dengan peluncuran album, Slank juga merilis video musik untuk lagu "Rusak Ancur". Lagu ciptaan Bimbim ini menjadi medium kritik terhadap berbagai bentuk kerusakan lingkungan yang terjadi akibat ulah manusia. Melalui lagu tersebut, Slank kembali menunjukkan keberpihakannya terhadap isu pelestarian alam.
 
Pesan sosial juga hadir dalam lagu "Jangan Rakus" yang ditulis oleh Kaka. Lagu ini mengajak masyarakat untuk hidup secukupnya dan tidak terjebak dalam budaya membandingkan diri dengan orang lain. 
 
Sebagian besar lagu dalam album ini mulai ditulis oleh Bimbim sepanjang tahun 2024. Sementara itu, Kaka turut menyumbangkan karya yang telah ia tulis sejak 2021. Perpaduan ide dari dua periode berbeda tersebut menghasilkan warna musik yang beragam namun tetap terasa khas Slank.
Dari sisi musikalitas, Republik Fufufafa menawarkan eksplorasi genre yang lebih luas. Pendengar akan menemukan nuansa rock alternatif, rock n roll, hingga balada melankolis yang emosional. Meski dikemas dengan lirik sederhana, pesan yang disampaikan tetap kuat dan dekat dengan realitas kehidupan.
 
Di sisi lain, album ini juga menghadirkan sejumlah lagu bertema cinta. "Di Dekatmu" yang diciptakan Kaka dan Bimbim mengisahkan kerinduan seorang pria terhadap sosok perempuan yang dicintainya. Lagu tersebut dibalut aransemen melankolis yang lembut namun tetap elegan.
 
Nuansa romantis berlanjut melalui "My Rinduku". Lagu ini hadir dengan lirik yang sederhana dan langsung menyentuh perasaan. Menariknya, lagu ciptaan Bimbim tersebut kembali menghadirkan suara siulan khas yang sudah lama tidak terdengar dalam karya Slank. Aransemen rock n roll yang ringan membuat lagu ini terasa akrab di telinga pendengar.
 
Ada pula lagu "Papa Sid" yang memiliki makna emosional bagi Bimbim. Lagu tersebut lahir dari rasa kehilangan mendalam setelah wafatnya sosok panutan yang ia panggil Pak Sidharta. Perasaan duka dan kerinduan kemudian dituangkan ke dalam lagu yang dinyanyikan langsung oleh Bimbim sebagai bentuk penghormatan.
 
Sementara itu, lagu "Bunga Rindu" menawarkan nuansa baru dalam eksplorasi musik Slank. Lagu ini bercerita tentang seorang perempuan yang tampak memikat, tetapi menyimpan kisah hidup yang penuh luka. Karakter cerita yang kuat membuat lagu tersebut menjadi salah satu warna berbeda dalam album ini.
 
Slank juga tetap mempertahankan sisi jenaka dan slengean mereka lewat lagu "Buka Baju". Dengan lirik yang terdengar nakal, lagu tersebut sengaja dibuat terbuka untuk berbagai interpretasi pendengar. Pendekatan semacam ini menjadi salah satu ciri khas yang selama bertahun-tahun melekat pada identitas Slank.
 
Sebagai penutup album, hadir lagu "Ku Tak Mungkin" yang mengangkat tema kesetiaan dalam hubungan. Lagu cinta ini dikemas dengan aransemen yang nyaman didengar dan berpotensi mengikuti jejak sejumlah lagu romantis Slank yang populer di masa lalu.
 
 
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(ELG)




TERKAIT

BERITA LAINNYA