Melalui unggahan Instagram Story yang kemudian diunggah ulang di akun X miliknya, pelantun lagu “Die Young” tersebut mengaku baru mengetahui karyanya digunakan oleh pihak pemerintah.
“Saya baru saja mengetahui bahwa pihak Gedung Putih telah menggunakan salah satu lagu saya di TikTok untuk memicu kekerasan dan mengancam peperangan,” tulis Kesha pada Selasa, 3 Maret 2026.
Ia menambahkan bahwa, “Upaya untuk meremehkan persoalan perang adalah tindakan yang menjijikkan dan tidak manusiawi.”
Penolakan Promosi Kekerasan
Kesha secara tegas menyatakan tidak memberikan izin bagi pihak mana pun untuk menggunakan lagunya dalam mempromosikan segala bentuk kekerasan.“Saya sama sekali TIDAK menyetujui musik saya digunakan untuk mempromosikan segala bentuk kekerasan,” tulisnya.
Lagu Kesha yang digunakan oleh Gedung Putih diketahui bertajuk “Blow,” yang dirilis pada 19 November 2010 dalam album Cannibal (Expanded Edition).
Why not just go to fucking TikTok and find it pic.twitter.com/FtVDff5NJ1
— Final Girl ???? (@hotnspooky) March 3, 2026
Baca Juga :
Donald Trump Ancam Deportasi Robert De Niro
Prinsip Kemanusiaan dan Kasih Sayang
Menurut Kesha, kasih sayang akan selalu mengalahkan kebencian. Ia pun meminta publik untuk saling menguatkan di masa sekarang.“Tolong sayangi diri kalian dan satu sama lain di masa-masa seperti ini,” tulis Kesha.
Penyanyi yang mulai dikenal lewat lagu “Tik Tok” pada 2009 ini menilai bahwa tindakan tersebut sangat bertolak belakang dengan prinsip hidupnya yang menjunjung tinggi nilai kehidupan manusia.
“Sikap yang mengabaikan nilai kehidupan manusia—dan sejujurnya merupakan serangan terhadap ketenangan batin kita semua—ini sangat bertolak belakang dengan prinsip hidup saya,” tulis Kesha.
Sorotan terhadap Isu Hukum
Di akhir pesannya, Kesha meminta masyarakat tetap fokus pada fakta mengenai kemunculan nama Presiden Donald Trump dalam dokumen yang diduga terkait dengan Epstein Files.“Selain itu, jangan biarkan hal ini mengalihkan perhatian kita dari fakta bahwa predator kriminal Donald Trump muncul di dalam berkas dokumen tersebut lebih dari satu juta kali,” pungkas Kesha.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News