Video klip tersebut memiliki konsep menampilkan kesan romantis dan glamor dari percintaan ala Hollywood klasik. Video klip ini sudah berhasil memikat hampir 18 juta penonton hanya dalam waktu tiga hari di Youtube. Namun video klip tersebut justru menuai banyak kritik.
Menampilkan Taylor Swift dan Scott Eastwood, dan menggambarkan sebuah hubungan percintaan yang berlatar tahun 50-an dengan latar Afrika, video klip ini menuai kritik karena dianggap terlalu mencerminkan dominasi bangsa barat.
"Wildest Dream adalah sebuah lagu tentang cinta yang kandas, dan konsep dari video klipnya adalah pasangan tersebut menjalin cinta di tempat yang jauh dari tempat asal mereka. Ini bukan video tentang kolonialisasi, melainkan video tentang cinta yang berlatar Afrika pada tahun 50-an," ujar Joseph Kahn, sang sutradara video klip.
"Video ini mengambil inspirasi dari cerita percintaan klasik Hollywood seperti film The African Queen, Out of Africa, dan The English Patient sebagai beberapa contohnya," tambahnya.
Joseph Kahn juga menjelaskan bahwa dalam proses produksi video klip Wildest Dreams juga melibatkan banyak orang kulit berwarna, dan tidak ada tujuan politis dari video ini.
"Kenyataanya, orang yang menjadi kunci kreatif dalam video ini adalah orang-orang dengan kulit berwarna. Saya sendiri adalah seorang keturunan Asia-Amerika. Produser Jil Hardin adalah wanita Afrika-Amerika, dan editor video inipun, Chancler Haynes adalah pria Afrika-Amerika. Video ini dibuat dengan latar masa lalu oleh orang masa kini," tutur Kahn.
"Tidak ada agenda politis dalam video ini. Tujuan kita adalah menceritakan sebuah cerita ikonik yang biasa muncul dalam film klasik Hollywood. Juga jangan lupakan bahwa Taylor Swift memilih untuk mendonasikan semua pendapatannya dari video ini untuk disumbangkan ke African Park Foundation untuk melestarikan binatang yang terancam dan membantu perekonomian masyarakat Afrika," pungkasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News