AM Hendropriyono usai diskusi PAPPRI soal RUU Permusikan (Foto: Medcom.id/Purba Wirastama)
AM Hendropriyono usai diskusi PAPPRI soal RUU Permusikan (Foto: Medcom.id/Purba Wirastama)

AM Hendropriyono Ingin Revisi RUU Permusikan Selesai Sebelum Pemilu

Hiburan Kisruh RUU Permusikan
Purba Wirastama • 12 Februari 2019 00:21
Jakarta: Mantan Kepala BIN (Badan Intelijen Negara) AM Hendropriyono, yang kini menjabat Ketua Umum Perhimpunan Artis Penyanyi dan Pencipta Lagu Republik Indonesia (PAPPRI), ingin pembahasan dan revisi draf RUU Permusikan tuntas dalam beberapa bulan ke depan. PAPPRI adalah salah satu lembaga yang getol mendorong lahirnya UU tentang musik.
 
"Ya mudah-mudahan (selesai sebelum Pemilu 2019). Inginnya saya begitu," kata Hendro usai rapat internal pengurus PAPPRI di Sekolah Tinggi Hukum Militer Ditkumad Matraman pada Senin sore, 11 Februari 2019.
 
"PAPPRi ini kan dulu termasuk yang mengusulkan adanya RUU, tetapi kita tidak pernah mengerti apa isi dalamnya. Karena itu, kami mohon Badan Keahlian DPR memberikan klarifikasi, lalu kita bisa mengajukan pemikiran tentang hal-hal yang tidak cocok di dalamnya, apakah sembilan pasal yang diributkan atau seluruh, yang penting kita ingin tahu bagaimana naskah akademiknya," imbuh Hendro.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Terkait beragam kritik terhadap draf RUU Permusikan, PAPPRI sepakat ingin mendorong jalur revisi. Bagi Hendro dan para pengurus PAPPRI, menolak draf RUU Permusikan sama saja dengan "meruntuhkan rumah yang mau dibangun".
 
"Isinya saja yang kita minta klarifikasi, kalau perlu revisi ulang, dipelajari lagi kontennya," ujar Hendro.
 
"Kalau menolak, nanti RUU enggak ada dong. Kita perlu undang-undang untuk memayungi kita," imbuhnya.
 
Menurut guru besar ilmu intelijen ini, wacana UU permusikan lahir empat tahun silam dari pertemuan yang melibatkan "para pemangku kepentingan permusikan nasional". Bagi PAPPRI, UU permusikan adalah solusi hukum agar orang-orang bisa hidup lewat musik.
 
"Jadi, jangan yang bisa hidup itu hanya aspek tertentu saja. Orang yang hanya bisa main gitar, masak enggak bisa hidup? Yang bisa main musik dan nyanyi, bisa hidup dan mengenyam seni, kultur, dan kesejahteraan lahir batin," tutur Hendro.
 
Draf RUU Permusikan dan naskah akademik, yang kini menjadi polemik, adalah rancangan Badan Keahlian DPR atas permintaan Anang Hermansyah dari Komisi X DPR. Draf RUU sudah jadi sejak Agustus 2018 dan beredar secara terbatas di kalangan PAPPRI, sebelum akhirnya dibuka ke publik pada Januari 2019 lewat pertemuan dengan beberapa musisi.
 
Sejak dibuka ke publik, naskah ini menuai beragam protes, antara lain soal substansi dan bahasa pasal, judul RUU, serta kualitas naskah akademik. Ratusan praktisi musik, termasuk yang bergabung ke Koalisi Nasional Tolak RUU Permusikan (KNTL RUUP), menolak RUU dilanjutkan dan meminta kajian ulang sejak naskah akademis.
 

 

(ASA)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi