Sebelum album resmi dirilis, The Brandals telah memperkenalkan sejumlah materi sejak September 2025 melalui single "Jari Kasar", "Di Pinggir Marjin", "Langit Biru", dan "Ke Timur".
Pada 15 September, mereka juga merilis "1948", lagu yang mengangkat peristiwa Nakba, istilah Arab yang merujuk pada peristiwa terusirnya ratusan ribu warga Palestina dari tanah mereka pada 1948.
Melalui lagu tersebut, The Brandals mengangkat isu Palestina sekaligus menyuarakan dukungan terhadap kemerdekaan Palestina. "1948" dikemas dalam aransemen post-punk dan kembali dikerjakan bersama duo produser Jonathan Mono dan Jonathan Pardede.
Keduanya juga terlibat dalam proses produksi 10 lagu yang menjadi materi Oposisi. Proses pengerjaan album telah berlangsung sejak September 2024 dengan pendekatan musikal yang membawa The Brandals ke sejumlah wilayah eksplorasi baru.
Eksplorasi Musik The Brandals di Oposisi
Secara musikal, Oposisi memperlihatkan upaya The Brandals untuk terus mencari warna dan pendekatan baru. Eksperimentasi tersebut tetap berpijak pada karakter rock yang selama ini menjadi identitas mereka di skena musik independen Indonesia.
Kolaborasi dengan Jonathan Mono dan Jonathan Pardede turut memberikan warna berbeda. Keduanya dikenal memiliki latar belakang sebagai produser musik dengan pendekatan elektronik, sehingga menghadirkan sejumlah elemen baru ke dalam aransemen The Brandals.
Proses rekaman berlangsung secara dinamis. Interaksi antara personel band dan produser berlangsung melalui proses saling menguji gagasan untuk menemukan pendekatan yang belum pernah mereka lakukan sebelumnya. Hasilnya, sejumlah lagu dalam album ini hadir dengan karakter yang mungkin tidak sepenuhnya sesuai dengan ekspektasi pendengar terhadap musik The Brandals.
Dalam proses kreatifnya, The Brandals juga mengambil sejumlah referensi dari musik era 1980-an hingga 1990-an. Pada periode tersebut, rock, hip-hop, dan musik elektronik mulai saling beririsan dan melahirkan berbagai bentuk baru.
Nama-nama seperti Chic dan Nile Rodgers, INXS, Tears for Fears, Suicide, Blondie, The Clash, Bauhaus, Eric B. & Rakim, De La Soul, Paul Weller, The Style Council, The Stone Roses, hingga Happy Mondays menjadi sejumlah referensi yang turut memengaruhi proses rekaman Oposisi.
Formasi Baru The Brandals
Oposisi juga menjadi bagian dari fase baru The Brandals setelah kepergian gitaris Tony Dwi Setiaji pada awal 2021 dan drummer Firman Zaenudin pada pertengahan 2023.
Di tengah proses rekaman, The Brandals kembali membentuk formasi kuartet dengan bergabungnya drummer muda Ghani Noorputrawan pada awal 2025. Kehadiran Ghani memberikan energi baru dalam proses pengerjaan album sekaligus memperkuat fondasi permainan musik mereka.
Dari sisi tema, The Brandals memilih judul Oposisi sebagai representasi sikap dan posisi yang ingin mereka sampaikan melalui album tersebut. Band menilai judul tersebut berkaitan dengan keberpihakan mereka terhadap persoalan sosial yang mereka lihat di sekitar.
"Secara tematik, Oposisi sengaja dipilih sebagai judul dengan pesan gamblang dan jelas tentang keberpihakan juga keteguhan dimana The Brandals berpijak, ditengah ricuhnya kondisi sosial politik sejak dipimpin rezim Prabowo – Gibran. Tidak ada komponen oposan dalam struktur pemerintahan yang mewakili rakyat," ungkap The Brandals dalam keterangan resmi yang diterima Medcom.id.
Menurut The Brandals, album ini diharapkan dapat menjadi medium untuk menyuarakan keresahan masyarakat sipil terhadap berbagai kebijakan negara. Mereka secara khusus menyoroti persoalan yang berkaitan dengan kelompok pekerja, yang juga menjadi bagian dari latar kehidupan para personelnya.
"Maka kehadiran ‘Oposisi’ diharapkan bisa menjadi corong perwakilan suara mayoritas warga sipil yang ingin menyampaikan protes atas kebijakan dan manuver negara yang banyak merugikan. Terutama buat kelas pekerja dimana personil The Brandals jelas berada dibawah demografinya," lanjut mereka.
Mengangkat Kehidupan Kelas Pekerja
Pesan sosial tersebut kemudian diterjemahkan melalui sejumlah lagu dalam album. "Di Pinggir Marjin", misalnya, hadir sebagai gambaran kehidupan pekerja urban, sementara "Jari Kasar" menjadi kolaborasi The Brandals bersama duo punk elektronik asal Purbalingga, Sukatani.
Sementara itu, "Ke Timur" menghadirkan permainan rap dari Eka Annash yang merangkum keresahan terhadap berbagai persoalan sosial di dalam negeri. Adapun "Langit Biru" membawa narasi reflektif mengenai kerusakan lingkungan.
Di sisi lain, The Brandals juga menyisakan ruang untuk sisi yang lebih introspektif melalui "Midnight, Dharmawangsa Parking Lot".
Namun, benang merah album ini tidak hanya berkutat pada persoalan sosial dan politik. Oposisi juga merefleksikan pengalaman para personel sebagai kepala keluarga dari kalangan kelas pekerja yang berhadapan dengan tuntutan hidup serta kerasnya kehidupan perkotaan.
Setelah 25 tahun berkarier, Oposisi menjadi salah satu penanda konsistensi The Brandals dalam mempertahankan identitas sebagai band rock independen. Sejak berdiri pada 2001, mereka dikenal membawa pesan sosial dan politik melalui musik.
Kini, The Brandals mencoba meneruskan karakter tersebut dalam bentuk yang lebih dewasa. Jika sebelumnya mereka hadir sebagai band urakan dengan semangat pemberontakan, melalui Oposisi mereka memosisikan diri sebagai warga sipil yang menyuarakan keresahan terhadap berbagai persoalan di sekitarnya.
Sepuluh lagu dalam Oposisi pun menjadi rangkuman perjalanan The Brandals dalam mempertahankan mentalitas, identitas, serta integritas mereka sebagai salah satu band rock independen yang telah melewati perjalanan panjang selama seperempat abad.