Berisi 10 trek, Dunia dan Seisinya memperlihatkan perkembangan Rony sebagai seorang singer-songwriter. Jika album pertamanya menjadi langkah awal untuk memperkenalkan identitas musikalnya, karya terbaru ini terasa lebih personal karena merangkum berbagai pengalaman, pemikiran, dan emosi yang membentuk dirinya hingga saat ini.
Menariknya, album Dunia dan Seisinya tidak disusun sebagai sebuah cerita yang berjalan secara linear. Setiap lagu lahir dari pengalaman dan perasaan yang berbeda, mulai dari jatuh cinta, harapan, kecemburuan, kerinduan, kompromi, ketidakpastian, hingga proses seseorang untuk terus percaya pada dirinya sendiri.
"Semua lagu-lagu yang ada di album Dunia dan Seisinya itu menceritakan tentang pengalaman gue sebagai si penulis," tutur Rony Parulian saat sesi jumpa pers dan hearing session album Dunia dan Seisinya di Krapela Live Row 9, Jakarta Selatan pada Rabu, 2 September 2026.
Rony menjelaskan bahwa kata "Dunia" dalam judul album memiliki makna yang cukup personal. Namun, ia sengaja membuatnya lebih luas agar setiap pendengar dapat menemukan cerita dan pengalaman mereka sendiri di dalam album tersebut.
"Kalau dari gue sih, kalau dari jalan ceritanya, 'Dunia' itu menggambarkan tentang sosok seseorang yang sangat personal gitu. Tapi ya balik lagi karena karya ini bakal kita perdengarkan ke semua masyarakat Indonesia. Jadi ingin semuanya tuh terangkum gitu," lanjutnya.
Menurut Rony, keberagaman tema dalam album ini merupakan gambaran dari kehidupan manusia yang tidak selalu berjalan dalam satu warna. Karena itu, setiap trek memiliki cerita dan emosi yang berbeda.
"Jadi gue ingin merangkum kehidupan manusia atau kehidupan kita sebagai orang gitu. Karena apa? Sebagai orang kita banyak sekali jalan cerita yang kita tuju, makanya di Dunia dan Seisinya ini banyak track-track beda-beda kan. Ada yang tentang kehidupan, ada yang tentang cinta, dan ada yang galau gitu-gitu," ungkap Rony.
Gandeng Empat Produser Musik Kenamaan Tanah Air
Dalam proses penggarapannya, Rony menggandeng sejumlah produser musik kenamaan Tanah Air. Selain Lafa Pratomo, album ini turut melibatkan Krisna Trias, Rendy Pandugo, dan Petra Sihombing.
Rony Parulian bersama produser musik Krisna Tias, Rendy Pandugo, dan Lafa Pratomo (Foto: Medcom/Basuki)
Kehadiran para produser tersebut memberikan warna serta pendekatan berbeda pada setiap lagu. Meski begitu, seluruh materi tetap berada dalam koridor pop-rock alternatif yang menjadi benang merah musikal album.
Proses produksi Dunia dan Seisinya juga terbilang singkat. Rony mengungkapkan bahwa seluruh materi album tersebut rampung dalam waktu sekitar dua bulan.
"Kurang lebih dua bulan. Termasuk cepat ya," tuturnya.
Berawal dari Trek "Kencan Pertama"
Rony juga mengungkap cerita di balik lahirnya album Dunia dan Seisinya. Album ini ternyata berawal dari lagu "Kencan Pertama" yang kini menjadi trek ketiga dari album tersebut.Lagu yang ditulis Rony bersama Lafa Pratomo tersebut menjadi pemantik awal bagi Rony untuk mengembangkan sejumlah ide yang sebelumnya telah ia simpan dalam buku pribadinya.
"'Kencan Pertama' itu juga jadi lagu pertama yang gue buat demonya bareng sama Lafa. Jadi gue sudah nabung beberapa judul-judul yang ditulis di buku pribadi. Jadi kubuat, kudatang ke produser (Lafa), ngobrol, dan terjadilah si lagu pertama itu. Nah kebetulan jalan si album Dunia dan Seisinya itu berawal dari 'Kencan Pertama'" tutup Rony Parulian.
Bagi Sobat Medcom yang ingin menyimak babak terbaru perjalanan musik Rony Parulian, album Dunia dan Seisinya akan tersedia di berbagai platform musik digital mulai Jumat, 4 September 2026.