Wawancara Marco Sfogli: Frasa-Frasa Manis dari Pria Naples

Fitra Iskandar 18 September 2014 12:57 WIB
indonesia musik
Wawancara Marco Sfogli: Frasa-Frasa Manis dari Pria Naples
Marco Sfogli.( Foto: facebook Marco Sfogli)
MARCO Sfogli mungkin hanya segelintir gitaris yang tidak terlalu doyan kebut-kebutan alias bermain melodi secara cepat. Dia tidak terobsesi memiliki citra sebagai shredder. Menulis melodi yang indah, menurutnya lebih penting.

Sebagai gitaris solo, pria kelahiran Naples  4 April 1980 ini memang memilih untuk memuaskan lebih banyak kalangan, bukan cuma para maniak gitar. Itu membuat musiknya lebih mudah dicerna dan terasa manis.

Ibaratnya makanan, tidak membuat lidah terbakar. Musiknya, meski tak jauh dari irama keras, namun tidak membuat kuping panas.  Memainkan gaya metal, funky,blues, fusion, ia selalu menyisipkan frasa irama yang manis.


“Saya ingin musik saya bisa didengar oleh kuping yang terlatih, maupun penikmat musik umum,” kata Marco Sfogli, dalam obrolan via internet dengan medcom.id, awal pekan ini.

Jari-jarinya sudah menghasilkan dua album solo, There’s Hope” (2008) dan “reMarcoble” (2012). Mungkin karena sikapnya yang tak mau hidup di satu genre, dua albumnya ini menawarkan rasa yang beda. Di album pertamanya, banyak gaya musik ia mainkan. Meski kental dengan nuansa progresif, dia menyisipkan satu lagu unik bernuansa country “Texas BBQ”.

“Album “There’s Hope” seperti test drive. "reMarcoble" merefleksikan kemana saya ingin bermusik,” kata Marco yang juga banyak  menggarap proyek dengan musisi lain itu.

Marco muncul ke permukaan di jagat musik, setelah James LaBrie, vokalis Dream Theater, menggandengnya untuk menggarap album solo “Elements of Persuasion” yang rilis Maret 2005.

Kemunculannya bersama musisi asal Ontario, Kanada itu membuatnya dikenal sebagai gitaris solo yang disegani di daratan Eropa. Ini petikan wawancara Marco Sfogli dengan Metrotvnews.com:

Menurut opini saya kamu salah satu gitaris solo papan atas yang lahir di era sekarang.  Ceritakan bagaimana mulanya anda berkenalan dengan gitar. Apa tantangan paling berat  bagi para gitaris saat berkenalan dengan gitar dan ingin menguasainya?

Itu sudah lama sekali, saya tidak ingat persis kapan pertama bermain gitar, tetapi saya masih ingat jelas, bahwa momen itu natural saja.
Saya kira kesulitan datang ketika kita ingin mendapatkan hasil secara cepat, ini yang selalu ditanyakan orang dan murid saya.
Hasil terbaik ketika kita bermain gitar, atau seperti instrumen lain, yaitu ketika datang dari kerja keras dan dedikasi.

Ketika kamu masih muda dan belajar musik, memang kamu tidak pernah berpikir untuk suatu saat mengenakan jersey Napoli FC dengan nomor 10,  yang ada nama kamu tercetak di punggung?
 
Enggak tuh. Sampai sekarang saya enggak pernah jadi fan sepakbola sampai kayak begitu. Saya lebih suka basket, dan ya saya enggak pernah bermimpi jadi pengganti Maradona :D.

Kamu sudah punya album instrumental, “There’s Hope” dan “reMarcoble”. Buat kamu personal, apa sih perbedaannya dua album itu?

Well,  tujuannya beda. Dengan "There’s Hope" saya ingin menunjukan pengaruh saya secara lebih banyak di satu album. Jadi di sana ada progresif, funky, momen blues, dan banyak lagi. Itu keren, tetapi saya tidak punya bayangan jelas pada awalnya, itu seperti test drive dan di akhirnya tidak banyak kohesi seperti "reMarcoble", terlalu banyak momen berbeda.  "reMarcoble" lebih merefleksikan saya dan kemana saya ingin bermusik.

Waktu kamu menulis lagu, bagaimana prosesnya? Maksud saya, pasti beda kan dengan ketika kamu nulis lagu dengan vokal?

Well, untuk lagu instrumental rata-rata, ya saya kira ada perbedaan pendekatan. Bagi saya, saya selalu berpikir tentang lead melodi sebagai suara. Pada kenyataannya banyak lagu yang saya tulis punya pendekatan pop. Kamu tahulah, ada verse, chorus, dan bridge. Jadi sebenarnya sama-sama saja pendekatannya, meski saya tidak menulis lagu dengan vokal, sejauh ini.  Saya menulis riff yang dipakai untuk lagu berisi vokal, tetapi itu beda. Harus dicoba juga.

Nah, saya enggak kebayang bagaimana kamu menentukan judul. Misalnya kamu namai ini judulnya “Still Hurts” atau yang ini “Genius”, itu bagaimana. Maksud saya, bagaimana kamu menyampaikan cerita dengan lagu tanpa lirik, hanya melodi gitar?

Hahaha... Baiklah, menulis judul lagu memang mimpi buru bagi saya. Banyak yang datang hanya murni fantasi. Jujur memang, tanpa lirik, agak aneh untuk membuat judul yang punya arti nyata, padahal saya melulu mengandalkan pada vibrasi dawai.  Sebagai contoh, lagu seperti “Sunset Light” punya vibrasi yang melankolis, bayangkan itu seperti suasana saat mengemudi di jalanan kosong ketika matahari terbenam.

Kalau pandangan saya nih, anda bukan tipe gitaris yang senang mengubar kecepatan bermain yang akhirnya membuat nada-nada seperti hanya mobil yang berlari  di jalan tol kosong.  Kita kagum atau tegang hanya dengan kecepatannya, tapi kita tidak menikmati ‘pemandangan’ yang asyik. Bagaimana menurut kamu soal itu?

Menulis melodi yang bagus itu prioritas bagi saya, lebih dari aspek teknikal. Lagu harus bisa dinikmati oleh kuping yang terlatih atau pendengar awam. Mencapai itu harus dengan melodi yang kuat, yang lekat, apapun yang membuatnya mudah diingat. Percaya sama saya, itu lebih sulit dari pada memainkan ribuan notasi.


Saat dengan James LaBrie (foto:facebook)

Ngomong-ngomong, berapa lama kamu bermain gitar per hari, saat kamu muda dan ketika sekarang sudah jadi gitaris profesional?

Ketika saya remaja, saya sering bermain dan mendengar musik sepanjang hari, sekarang waktu terbaik seperti itu saya dapat saat mengajar.

Punya murid membantu saya, karena kamu tahu, beberapa di antara mereka sangat hebat. Beberapa jam per hari sudah cukup buat saya. Saya juga tidak percaya dengan latihan yang berlebihan, enam atau tujuh jam sehari. Itu tidak perlu dan bahaya untuk tangan.  

Apa yang kamu suka dari legenda seperti Joe Satriani, Steve Vai, Andy Timmons dan John Petrucci. Gaya siapa yang paling kamu suka. Apakah ada gitaris lain yang mempengaruhi kamu?

Saya suka semuanya. Mereka pahlawan dan referensi saya. Saya akan mengatakan Satriani, Timmons, John Petrucci dan Kee Marcelllo sangat mempengaruhi saya. Dan Steve Lukather juga, begitu pun semua pemain yang punya rasa melodi yang kuat dan kepribadian besar.

Apa perbedaan zaman anda dengan Ingwy Malmsteen, Joe Satriani atau Stevie Vai terkait perkembangan tren solois gitar?

Saya kira sekarang barnya dibuat begitu tinggi dan gitar mencapai era baru, tetapi banyak juga hal yang hilang.  Sebagai contoh, menurut saya penulisan lagu, semakin memburuk. Selain itu, banyak pemain modern, terdengar sama satu sama lain. Kita tidak bisa lagi memutar lagu kemudian langsung bilang ‘oh itu Vai’ atau Satch (Joe Satriani). Tren fusion sekarang ini, menurut saya keren, tetapi semua terdengar seperti sama-sama saja. Saya berharap saya pergi ke daratan yang berbeda, dan saya senang saya melakukannya!

Apa yang kamu resapi saat kamu buat "Still Hurts".  Kamu ingat pengalaman sulit melupakan kekasih atau bagaimana.. (Lol)
 
Hahaha, enggak, ini bukan tentang hubungan. “Still hurts” punya vibrasi 80-an yang saya kangen sekarang ini. Banyak pakai synths dan harmoni sederhana, kamu tahu lah. Benar-benar tentang ini. (Bersambung) (Baca: Wawancara Marco Sfogli: Tak Ada Industri Musik Instrumental!)

 



(FIT)