Indra Lesmana (Foto: Instagram)
Indra Lesmana (Foto: Instagram)

Indra Lesmana & Ikang Fawzi Ajukan Diri Sebagai Pihak Terkait dalam Gugatan Musica Studios ke Mahkamah Konstitusi

Medcom • 12 Februari 2022 12:42
Jakarta: Dua musisi kondang senior, Indra Lesmana dan Ikang Fawzi, rupanya gregetan dengan  permohonan gugatan perusahaan rekaman Musica Studios ke Mahkamah Konstitusi yang  mencoba untuk membatalkan pasal 18, 30, dan 122 UU Hak Cipta. Ketiga pasal tersebut  adalah ketentuan-ketentuan mengenai kewajiban bagi produser rekaman untuk  mengembalikan hak ekonomi kepada pencipta lagu dan penyanyi setelah 25 tahun, jika  perjanjian dengan pencipta dahulu kala dilakukan dengan cara jual putus (flat play) sekali  bayar tanpa royalti.
 
“Sebagai musisi dan pencipta lagu yang dulu tahun 80-90an terpaksa harus menerima sistem  jual putus dalam rekaman karena tidak ada pilihan, dan tidak mendapatkan imbalan tambahan  apapun jika lagu atau album saya laku, saya sangat terkejut dan keberatan dengan gugatan  Musica. Ini sama saja dengan mematikan lagi harapan musisi dan pencipta lagu untuk  mendapat kesejahteraan yang lebih baik,” ujar Indra Lesmana, yang mulai mencipta lagu di  usia 9 tahun dan sampai sekarang telah menciptakan lebih dari 1.000 lagu.
 
Lebih lanjut, Indra yang sekarang juga menjabat sebagai ketua umum Aliansi Musisi Pencipta Lagu Indonesia (AMPLI) ini mengaku tidak habis pikir dengan gugatan ini. “Apa para produser ini merasa belum cukup dalam 25 tahun mengeksploitasi habis karya pencipta lagu, bahkan satu lagu dalam master rekaman itu dulu bisa direproduksi puluhan kali menjadi album album kompilasi dan si pencipta tidak mendapat sepeser pun”.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Senada dengan Indra, sang rocker Ikang Fawzi pun menilai gugatan Musica ini seperti  memadamkan lilin yang baru menyala. “Kita dulu para musisi dan pencipta lagu seperti hidup di jaman kegelapan. Industri musiknya ugal-ugalan, hubungan produser dengan musisi itu kayak majikan dan pembantu. Gak ada itu yang namanya transparansi. Pokoknya bayar sekali, selesai, boro-boro kita bisa tahu kaset laku berapa, padahal dimana-mana keliling Indonesia lagu kita diputar” ujarnya.
 
“Nah sekarang Undang-Undang Hak Cipta sudah bagus mau mengoreksi praktik-praktik tidak adil seperti dulu itu dan melindungi musisi dan pencipta lagu, kok malah ada pihak yang pingin kita balik ke jaman kegelapan dulu lagi?” ujar penyanyi yang dulu dikenal luas publik musik tanah air setelah lagu “Preman” yang diciptakan dan dibawakannya meledak di pasaran.
 
Untuk pengajuan sebagai pihak terkait di Mahkamah Konstitusi, Indra dan Ikang memberikan kuasa kepada Tim Pembela Hak Pencipta & Pelaku Pertunjukan yang diketuai oleh Panji Prasetyo, yang beranggotakan 10 advokat, termasuk 2 advokat yang juga dikenal sebagai penyanyi yaitu Marcell Siahaan dan Kadri Mohamad. Selain mewakili Indra dan Ikang, tim pembela ini juga mewakili beberapa organisasi musisi dan pencipta lagu yang mengajukan diri pula sebagai pihak terkait, antara lain FESMI (Federasi Serikat Musisi Indonesia) pimpinan Halaman 2 dari 2 musisi jazz Candra Darusman, PAMMI (Persatuan Artis Musik Melayu-Dangdut Indonesia) pimpinan raja dangdut Rhoma Irama, dan ARDI (Anugrah Royalti Dangdut Indonesia) pimpinan penyanyi dangdut kondang Ikke Nurjanah.
 
Proses sidang pengujian UU Hak Cipta di Mahkamah Konstitusi yang diajukan oleh Musica Studios akan dilanjutkan pada tanggal 15 Februari 2022 dengan agenda mendengarkan keterangan dari Pemerintah dan DPR.
 
 
 
(ASA)




LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif