Musisi Ikut Kampanye
Tahun 2014 merupakan tahun Pemilihan Umum, dan kiranya baru di tahun 2014 para musisi terlibat begitu aktif dalam kampanye mendukung calon pemimpin. Nama besar yang biasanya anti dengan politik praktis seperti Slank, tiba-tiba turun gunung dan mendeklarasikan afiliasi politiknya ke kubu Joko Widodo (Jokowi).
Slank tidak sendirian. Sederet nama besar lain seperti Oppie Andaresta, Glenn Fredly, Ian Antono, Yuni Shara, dan Tompi juga blak-blakan mendukung Jokowi. Bahkan, mereka menyiapkan sebuah lagu berjudul "Salam 2 Jari" yang semakin memantapkan wujud dukungannya.
Selain "Salam 2 Jari," rapper asal Yogyakarta Kill The DJ juga membuat sebuah lagu hip-hop dengan judul "Bersatu Padu Coblos Nomor Dua."
Lantas secara kolaboratif semua musisi, seniman, dan relawan menggelar sebuah kampanye akbar "Konser Salam 2 Jari." Konser yang digelar di Stadion Gelora Bung Karno pada 5 Juli 2014, itu menjadi peristiwa bersejarah, di mana musik mampu melebur dan menjadi pemancing semangat rakyat dalam menyemarakkan pesta demokrasi.
Di kubu Prabowo, Ahmad Dhani tergolong militan dalam mendukung. Pentolan band Dewa itu bahkan menyiapkan sebuah videoklip lagu "We Will Rock You" yang telah digubah liriknya menjadi syair yang manis di telinga Prabowo dan pendukungnya.

Ahmad Dhani berseragam ala Nazi (Foto:YouTube)
Apes, video itu jadi kontroversi lantaran soal hak cipta lagu yang dinyanyikan Dhani dan atribut yang dikenakannya dalam videoklip itu senada dengan pakaian milik Nazi.
Tren Mendengarkan musik
Di awal 2014, sebuah perusahaan layanan streaming musik asal Australia, Guvera, resmi membuka cabang di Indonesia. Geliat menikmati musik secara streaming ditengarai menjadi gaya hidup baru yang populer di masa datang. Kenyataannya, pada 2014 pun para penggemar musik yang akrab dengan teknologi internet sudah banyak yang mencicipi layanan musik streaming.
Guvera sendiri mencatat sebanyak 700 ribu pengguna asal Indonesia mendaftar dalam kurun 2014. Angka yang cukup baik untuk sebuah langkah awal.

Toko kaset (Foto:Antara/Wahyu Putro)
Sementara, perkembangan musik digital semakin pesat, musik dalam format fisik mendapat angin segar di 2014. Banyak musisi dan band Indonesia yang meluncurkan musik dalam format piringan hitam di 2014. Beberapa di antaranya bahkan mencoba menghidupkan kembali kaset, meski dalam upaya terbatas.
D'Masiv, Glenn Fredly, Sore, The Upstairs, Burgerkill, Seringai, Maliq & D'Essentials, adalah beberapa musisi yang memberi nafas segar dengan merilis piringan hitam. Tujuan mereka jelas untuk para penggemar setia dan kolektor.
Kebangkitan Toko Musik
Bagi mereka yang meramalkan era digital akan menggilas industri musik format fisik, tenang dulu. Fenomena yang ad, berkata sebaliknya. Tahun 2014 keberadaan toko musik semakin menjamur, khususnya di ibukota. Jalan Surabaya, Jakarta Pusat, Lantai Basement Blok M Square, dan Pasar Santa, menjadi basis-basis penggemar musik, terutama mereka yang memburu piringan hitam, CD, dan kaset bekas.
Seolah bangkit dari kubur, tren ini memunculkan kembali pemutar musik lawas ke pasaran. Pemutar piringan hitam usang kembali didatangkan, direparasi, dan dijual kembali. Begitu juga dengan pemutar kaset.
Hujan Album di 2014
Tidak ada yang spesial dari kasus musisi merilis album, tetapi yang membuat sebuah album menarik adalah kisah-kisah di baliknya. Sepanjang tahun ini, beberapa band dan penyanyi papan atas Indonesia merilis album.
Penyanyi solo pria paling populer saat ini, Tulus, membuka 2014 dengan merilis album yang mumpuni. Album yang diberi judul "Gajah" itu dirilis pada bulan Februari dan disinyalir sebagai salah satu album paling laris di tahun ini.

Tulus (Foto:MI/Romy Pujianto)
Album "Gajah" juga mengantar Tulus naik ke tangga popularitas. Hal itu dapat dibuktikan dengan rangkaian konser Tulus di Jakarta awal Desember yang dipenuhi penonton, tanpa menyisakkan satu tiket pun.
Pada bulan Maret, Gigi juga merilis sebuah album berjudul "Gigi Live at Abbey." Sesuai judulnya, lagu itu direkam langsung di studio Abbey Road, Inggris. Sebuah studio yang ikut melahirkan karya-karya besar The Beatles. Gigi merupakan band Indonesia pertama yang rekaman di studio rekaman utama Abbey Road. Sebelumnya, J-Rocks juga pernah rekaman di sana, tetapi tidak menggunakan studio utama yang sama dengan yang digunakan The Beatles dan Gigi.
Masuk ke bulan April, Yovie & Nuno merilis album "Still The One," sekaligus memperkenalkan vokalis baru mereka, Windura. Yovie memilih mengedarkan album itu melalui gerai restoran cepat saji.
Masih di bulan April, grup trio rock Kotak merilis album berjudul "Never Dies." Album itu sekaligus menjadi kenangan satu dekade mereka menggeber musik distorsi.
Bulan Mei dipilih Maliq & D'Essentials untuk merilis album ke-6, "Musik Pop." Album ini banyak dinilai kritikus musik sebagai bentuk elegan dari Maliq & D’Essentials dalam menunjukkan bahwa musik pop bisa terdengar berkelas dan jauh dari kesan lirik norak plus nada dari tiga kunci yang direpetisi.
Kabar menggembirakan datang dari musisi reggae, Ras Muhammad, yang merilis album "Salam" di pada Juli 2014. Meski hingga saat ini album ini didistribusikan via toko musik maya, sambutan atas "Salam" mengagumkan.

Ras Muhammad (Foto:Metrotvnews.com/Agustinus Shindu A)
Sebuah situs yang mengulas musik Jamaika, Reggae-vibes.com, menempatkan "Salam" di tangga puncak peringkat album terbaik beberapa saat setelah album ini rilis.
Salah satu rilisan album yang unik di tahun ini adalah "Kolaborasoe' milik Endank Soekamti. Album yang dirilis pada November ini merupakan inovasi baru dari Endank Soekamti yang mengajak musisi lintas genre dan usia. Jangan heran jika ada Slank, Ahmad Dhani, Pure Saturday, CJR, Cherrybelle, hingga Didi Kempot dalam album itu.
Sheila On 7 juga punya cerita tentang albumnya di tahun ini. Album yang diberi judul "Musim yang Baik" itu merupakan album terakhirnya bersama Sony Music Indonesia. Album itu rilis pada 10 Desember. Sony Music Indonesia merupakan label yang telah bersama Sheila On 7 sejak debut mereka di pengujung 90-an.
31 Desember 2014 dipilih NOAH untuk merilis album "Second Chance." Album ini sebenarnya berisi 40 lagu dengan komposisi 3 lagu baru dan 37 lagu lama yang direkam ulang. Album ini akan dirilis secara berkala. Rilisan pertama dari "Second Chance" yang digelar akhir tahun 2014 sekaligus sebagai tanda perpisahan dengan drummer mereka, Reza.
Lahirnya Band dan Musisi Baru
2014 juga menjadi tahun kelahiran band dan musisi baru, ditandai dengan lahirnya album debut mereka di tahun ini. Beberapa band dan musisi yang melahirkan debut album di 2014, nama-nama yang pantas untuk disimak adalah Marsh Kids, Neurotic, Art of Tree, Isnaya Sarasvati, Bonita & The Hus Band, dan Elephant Kind.
Beberapa band baru yang disebutkan di atas sebenarnya diisi oleh musisi-musisi berpengalaman. Neurotic misal, band rock elektronika itu digagas oleh mantan personel Alexa, JMono. Neurotic diperkuat juga oleh Eno, drummer Netral.

Art of Tree (Foto:Metrotvnews.com/Agustinus Shindu A)
Art of Tree juga hadir dan menyedot perhatian. Band yang meleburkan jazz, elektronika, R&B, dan hip-hop ini diproduseri oleh EQ Puradiredja, pentolan duo Humania yang juga ikut membidani lahirnya Maliq & D'Essentials.
Sedangkan Marsh Kids, band yang digagas Ade Paloh, vokalis Sore, dan diisi sejumlah musisi jenius menyumbang daftar lagu mereka yang penuh kegelapan dan aroma kehilangan melalui debut album mereka yang rilis bulan Oktober.
Sementara itu, Ramondo Gascaro meniti karier sebagai musisi tunggal setelah pergi dari Sore. "Saturday Light" merupakan lagu salam perkenalan Mondo. Tembang anggun itu dirilis pada bulan Agustus. Sayangnya, Mondo baru mengeluarkan singel di tahun ini.
Benci tapi Rindu
Layaknya sebuah hubungan, sebuah band juga bisa punya 'mantan.' Mantan personel seringkali lebih dirindukan oleh penggemar. Hal ini menjadi sasaran empuk bagi promotor acara untuk menggelar konser dengan tajuk reuni atau menyatukan mantan kembali. Persis seperti idiom "benci tapi rindu," Kerispatih akhirnya berada satu panggung dengan Sammy Simorangkir, sang mantan vokalis.

Kerispatih & Sammy (Foto:Antara/Muhammad Adimaja)
Bahkan, keduanya bersama menjalani tur enam kota yang dimulai pada pertengahan November hingga awal Desember. Sammy sempat mengakui dia menerima tawaran konser bersama ini lantaran tergiur rupiah yang ditawarkan.
"Gini lho, ada orang bilang seiman itu nyanyi dari hati. Untuk kali ini, saya nyanyi demi bayaran. Apapun bisa dilakukan dengan profesional asal ada yang bayar," kata Sammy dalam jumpa pers konser yang diberi embel-embel "The Unforgettable Journey" itu.
Ada yang 'Hilang'
Jelang akhir tahun, band Noah mengeluarkan kabar mengejutkan. Tepatnya pada 22 Desember 2014, Reza secara resmi dinyatakan mundur dari band yang mulanya bernama Peterpan itu. Reza akan berhenti total terhitung mulai 1 Januari 2015. Sehari sebelum itu, pada tanggal 31 Desember 2014 NOAH merilis album "Second Chance." Album terakhir Reza bersama Noah.
Kabar mengejutkan lainnya datang dari kelompok rock & roll kontra puritan, The BRNDLS. Band yang musiknya berpacu sama kencang dengan berbagai persoalan urban ibukota itu memutuskan vakum. Ajang SoundsFair 2014 dipilih menjadi aksi terakhir mereka sebelum libur panjang.

Suasana pemakaman Murry "Koes Plus" (Foto:Antara/Teresia May)
Menilik lebih jauh, pada Januari 2014 kabar buruk datang dari grup indie-pop yang cukup dinanti, Aurette and The Polska Seeking Carnival. Grup musik yang membawa orkes menyenangkan dari instrumen yang padat itu memutuskan bubar saat mereka tengah masuk dalam lorong popularitas. Ibarat peribahasa, band ini layu sebelum berkembang.
Masih ada satu band yang tinggal nama di tahun 2014, yaitu Element. Band pop-rock dengan lagu yang melulu bermuatan cinta itu memutuskan untuk vakum selamanya. Sebelum benar-benar pergi, mereka merilis sebuah album bertema “Save The Best For Last” pada bulan Maret. Album itu diisi dengan tembang-tembang populer dari Element yang direkam ulang.
Salah satu legenda musik Indonesia, Kasmuri atau dikenal dengan nama Murry "Koes Plus”"juga meninggalkan kita semua di tahun 2014. Sang drummer meninggal pada 1 Februari 2014.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News